Syiahindonesia.com - Dalam bangunan metodologi hukum Islam, hadis merupakan pilar kedua setelah Al-Qur'an al-Karim yang berfungsi sebagai penjelas (bayan), pembatas (muqayyad), dan pengkhusus (makhshush) dari ayat-ayat yang bersifat global. Kedudukan hadis yang sangat krusial ini menuntut tingkat kehati-hatian dan objektivitas ilmiah yang luar biasa tinggi dalam proses transmisi dan penyaringannya. Sepanjang sejarah, ulama-ulama besar Ahlus Sunnah wal Jamaah telah berhasil merumuskan metodologi kritik hadis yang diakui dunia sebagai sistem verifikasi sejarah terbaik, melalui kodifikasi kitab-kitab otoritatif seperti Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Namun, di dalam dunia teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), seluruh warisan hadis shahih yang menjadi urat nadi syariat Islam tersebut justru diingkari secara total. Demi melestarikan doktrin politik Imamah dan konsep kesucian para Imam mereka, kaum Syiah secara sistematis meruntuhkan kredibilitas ribuan hadis shahih yang diakui oleh miliaran umat Islam di dunia. Pengingkaran massal ini bukan didasarkan pada cacatnya teks (matan) secara ilmiah, melainkan karena adanya kebencian ideologis terhadap para Sahabat Nabi yang menjadi mata rantai utama penyampaian hadis-hadis tersebut.
1. Akar Pengingkaran: Doktrin Pengafiran Para Perantara Wahyu
Faktor utama yang mendasari mengapa sekte Syiah menolak dan mengingkari kitab-kitab hadis shahih Ahlus Sunnah (seperti Kutubus Sittah) adalah doktrin mereka yang mengafirkan mayoritas Sahabat Nabi (Sabb al-Shahabah). Dalam epistemologi Islam yang lurus, para Sahabat adalah generasi terbaik yang dipilih oleh Allah untuk mendampingi Nabi SAW dan menyampaikan syariat kepada generasi berikutnya.
Namun, di dalam kitab-kitab induk akidah Syiah, terdapat dogma yang menyatakan bahwa pasca-wafatnya Rasulullah SAW, seluruh Sahabat telah murtad dan keluar dari Islam, kecuali hanya segelintir orang saja (seperti Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, dan Al-Miqdad bin al-Aswad). Konsekuensi dari doktrin radikal ini sangat fatal:
Menolak Jalur Transmisi Utama: Syiah secara otomatis menolak dan menganggap batil seluruh hadis yang diriwayatkan oleh Sahabat-Sahabat utama seperti Sayyidina Abu Hurairah, Khalifah Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas'ud, serta Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anhum.
Meruntuhkan Fondasi Fikih: Padahal, lewat jalur para perawi agung inilah hukum-hukum praktis mengenai tata cara salat, zakat, puasa, pernikahan, dan haji sampai kepada kita. Dengan mengingkari hadis-hadis shahih dari jalur mereka, Syiah secara otomatis telah meruntuhkan sebagian besar syariat Islam yang asli dan menggantinya dengan aturan baru buatan kelompok mereka sendiri.
2. Standar Ganda dan Kepalsuan Metodologi Hadis Syiah
Ketika kaum Syiah mengingkari hadis-hadis shahih Sunni dengan alasan para perawinya "berkhianat kepada Ahlul Bait", mereka terpaksa menciptakan standar sanad tersendiri di dalam kitab-kitab mereka (seperti kitab Al-Kafi). Di sinilah letak kecacatan ilmiah dan standar ganda yang sangat nyata:
Kriteria Tsiqah (Kredibel) yang Subjektif: Dalam ilmu hadis Sunni, seorang perawi dinilai tepercaya (tsiqah) berdasarkan kejujuran, ketakwaan, dan kekuatan hafalannya yang teruji secara objektif. Namun dalam manhaj Syiah, standar kepengaruhan perawi dinilai murni berdasarkan loyalitas politik sektarian. Seorang pembohong besar yang terbukti sering memalsukan perkataan Nabi bisa dianggap sebagai perawi suci dan maksum di mata Syiah hanya karena dia fanatik mendukung klaim ketuhanan para Imam. Sebaliknya, orang-orang jujur akan divonis tertolak riwayatnya jika mereka menghormati kekhalifahan Abu Bakar dan Umar.
Ketiadaan Rantai Sanad yang Bersambung: Mayoritas "hadis" yang termuat dalam kitab induk Syiah diputus rantai periwayatannya (mursal). Ulama-ulama mereka sering kali menuliskan riwayat yang langsung meloncat kepada perkataan Imam tanpa ada pembuktian historis apakah murid dan guru dalam sanad tersebut pernah bertemu. Bagi Syiah, jika seorang Imam mereka yang berbicara, maka ucapan tersebut otomatis dianggap setara dengan firman Allah tanpa perlu pembuktian sanad ke atasnya hingga Rasulullah SAW.
3. Pengingkaran Terhadap Hadis Mutawatir yang Memuji Sahabat
Ketidakkonsistenan teologi Syiah semakin telanjang ketika mereka menolak hadis-hadis yang status kesahihannya telah mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan oleh sangat banyak jalur sehingga mustahil salah). Salah satu contohnya adalah hadis-hadis yang merekam pujian Rasulullah SAW terhadap para mertua dan menantu beliau.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis shahih:
لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ
“Seandainya ada nabi setelahku, niscaya dia adalah Umar bin al-Khattab.” (HR. At-Tirmidzi)
Beliau juga bersabda tentang kedudukan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq:
سُدُّوا عَنِّي كُلَّ خَوْخَةٍ فِي الْمَسْجِدِ إِلَّا خَوْخَةَ أَبِي بَكْرٍ
“Tutuplah semua pintu kecil yang menuju ke masjid kecuali pintu Abu Bakar.” (HR. Bukhari)
Hadis-hadis agung yang menunjukkan kemuliaan Khulafaur Rasyidin ini diingkari, ditolak, dan dituduh sebagai "hadis buatan penguasa Bani Umayyah" oleh kaum Syiah. Mereka menutup mata dari fakta ilmiah bahwa hadis-hadis tersebut ditransmisikan oleh puluhan jalur independen yang tidak memiliki kepentingan politik apa pun. Pengingkaran ini membuktikan bahwa Syiah menempatkan hawa nafsu kelompok di atas otoritas kebenaran sabda Nabi SAW.
Bahaya Gerakan Pengingkaran Hadis Syiah di Indonesia
Di bumi nusantara, infiltrasi pemikiran Syiah yang mengingkari hadis-hadis shahih ini dikemas secara sangat halus melalui gerakan-gerakan akademis dan propaganda media sosial. Modus operandi yang mereka gunakan antara lain:
Menumbuhkan Sikap Skeptis terhadap Shahih al-Bukhari: Para da'i Syiah sering kali melemparkan syubhat (keraguan) di tengah masyarakat awam dengan cara mengkritik secara sinis beberapa hadis dalam kitab Bukhari yang sepintas sulit dicerna oleh rasio awam. Tujuannya adalah agar umat Islam Indonesia mulai meragukan keabsahan kitab rujukan utama mereka.
Slogan "Kembali kepada Al-Qur'an Saja": Di hadapan publik Sunni, propagandis Syiah sering kali berlagak layaknya kaum Quraniyyun (inkar sunnah) dengan mengatakan bahwa kita cukup berpegang pada Al-Qur'an dan mengabaikan hadis-hadis yang memicu perpecahan. Ini adalah taktik kamuflase (Taqiyyah) untuk mempreteli kecintaan umat terhadap sunnah, sebelum akhirnya mereka memasukkan hadis-hadis palsu versi sekte mereka sendiri.
Jika pemikiran inkar sunnah ala Syiah ini dibiarkan meracuni generasi muda Muslim Indonesia, maka tatanan hukum Islam di tanah air akan hancur. Umat tidak lagi memiliki standar hukum yang pasti tentang bagaimana cara salat, zakat, dan beribadah yang sesuai dengan tuntunan asli Rasulullah SAW.
Kesimpulan: Membentengi Umat dengan Kemurnian Sunnah
Pengingkaran kelompok Syiah terhadap hadis-hadis shahih merupakan bukti konkrit bahwa sekte ini telah membangun sebuah konstruksi agama yang sepenuhnya terpisah dari Islam yang orisinal. Dengan menolak para Sahabat sebagai perantara wahyu dan mengingkari kodifikasi hadis yang sah, mereka telah memutus jalur keselamatan beragama yang lurus.
Umat Islam di Indonesia wajib membentengi diri, keluarga, dan masyarakat dengan terus menghidupkan kajian-kajian kitab hadis shahih otoritatif Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kita harus memahami secara mendalam metodologi ilmiah para ulama salaf dalam menjaga kemurnian sunnah, serta secara tegas menolak setiap narasi menyimpang yang diproduksi oleh sekte Syiah untuk merongrong legalitas hadis-hadis Nabi. Menjaga keabsahan hadis shahih adalah harga mati demi tegaknya kemurnian akidah dan syariat Islam di bumi Indonesia.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: