Breaking News
Loading...

Syiah dan Penggunaan Literatur yang Tidak Shahih

Syiahindonesia.com - Dalam pilar disiplin ilmu Islam, akurasi, validitas, dan keandalan suatu teks keagamaan adalah segalanya. Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) telah memelopori sistem penyaringan riwayat paling ketat di dunia melalui ilmu hadis, Musthalah Hadits, dan Rijalul Hadits (kritik biografi narator). Sebuah riwayat tidak dapat dijadikan fondasi akidah atau syariat kecuali telah melewati pengujian sanad yang bersambung (muttashil) lewat para perawi yang adil, kuat hafalannya (dhabit), serta bersih dari keganjilan (syadz) maupun cacat tersembunyi ('illah).

Sebaliknya, di dalam bangunan teologi sekte Syiah, terutama Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), metodologi ilmiah ini kerap diabaikan demi mempertahankan dogma sekte. Struktur akidah mereka yang ekstrem—mulai dari pengafiran sahabat, kultus individu para imam, hingga konsep Imamah—tidak memiliki sandaran orisinal dari Al-Qur'an maupun hadis-hadis yang sahih. Akibatnya, para rabi dan misionaris Syiah sangat bergantung pada penggunaan literatur yang tidak sahih, kitab-kitab bermasalah, serta riwayat-riwayat palsu (maudhu') untuk mengelabui pengikutnya sekaligus menyerang keyakinan mayoritas umat Islam.

1. Rapuhnya Standar Keshahihan dalam Kitab-Kitab Babon Syiah

Umat Islam Sunni memiliki kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim yang disepakati kesahihannya oleh lintas generasi ulama karena pengetatan sanad yang luar biasa. Di kubu Syiah, mereka memiliki empat kitab rujukan utama (Al-Kutub al-Arba'ah), dengan Al-Kafi karya Al-Kulaini menduduki posisi tertinggi.

Namun, ketika standar kritik hadis objektif diterapkan pada kitab-kitab tersebut, kerapuhan fundamental mereka langsung terbongkar:

  • Pengakuan Ulama Intern mereka: Bahkan ulama besar Syiah sendiri, seperti Al-Majlisi (penulis Biharul Anwar), mengakui dalam kitabnya Mir’at al-Uqul bahwa lebih dari separuh riwayat dalam kitab Al-Kafi berstatus lemah (dha’if) atau palsu. Dari sekitar 16.000 riwayat di dalamnya, hampir 9.000 riwayat dinilai cacat.

  • Konsekuensi Logis: Jika kitab suci rujukan utama mereka saja didominasi oleh riwayat yang rapuh, maka secara otomatis bangunan akidah yang didirikan di atasnya—termasuk klaim-klaim mistis seputar para Imam—berdiri di atas fondasi rapuh yang tidak memiliki nilai ilmiah sama sekali.

2. Bergantung pada Kitab Fiktif: Kasus Kitab Sulaim bin Qais

Salah satu bukti paling telanjang mengenai ketergantungan Syiah pada literatur bermasalah adalah pengagungan mereka terhadap Kitab Sulaim bin Qais Al-Hilali. Kitab ini sering disebut sebagai "Kitab Pertama Syiah" dan menjadi hujah utama mereka dalam membangun narasi kebencian sejarah, termasuk dongeng palsu penyerangan rumah Sayyidah Fatimah r.a. oleh Umar bin Khattab r.a.

  • Fakta Ilmiah Kitab Tersebut: Para ulama ahli kritik riwayat, bahkan dari kalangan ahli riwayat Syiah klasik sendiri seperti Ibnu al-Ghadhairi, menegaskan bahwa kitab ini adalah kitab palsu hasil fabrikasi (rekayasa). Sulaim bin Qais diduga kuat merupakan figur fiktif yang sengaja diciptakan oleh seorang narator bernama Aban bin Abi Ayyash.

  • Anomali Isi: Di dalam kitab tersebut terdapat banyak keganjilan sejarah dan kontradiksi kronologis yang fatal. Namun, karena sekte Syiah sangat membutuhkan "bukti tertulis" untuk melegitimasi doktrin dendam sejarah mereka, status kepalsuan kitab ini sengaja ditutup-tutupi dari masyarakat awam.

3. Matriks Taktik Syiah dalam Memanipulasi Literatur

Misionaris Syiah di lapangan, termasuk di Indonesia, memiliki beberapa taktik khusus dalam memanfaatkan literatur untuk menyebarkan syubhat (kerancuan berpikir):

Taktik Penggunaan LiteraturModus Operandi LapanganCara Membongkarnya
Penyusupan Kitab Sunni (Tahrif & Khitman)Mengutip separuh potongan hadis dari kitab Sunni (seperti Shahih Muslim atau Tafsir Ibnu Katsir) lalu memelintir maknanya keluar dari konteks asli (Asbabun Nuzul).Membuka kitab asli secara utuh beserta penjelasan (syarah) para ulama otoritatif untuk melihat konteks kalimat yang sebenarnya.
Menyamakan Riwayat Sejarah dengan Hadis HukumMenggunakan buku sejarah longgar seperti Tarikh Al-Tabari (yang sengaja mengumpulkan semua jenis riwayat tanpa menyaring kesahihannya) untuk dijadikan dalil akidah.Menegaskan bahwa Al-Tabari sendiri meminta pembaca menyaring sanadnya, dan buku sejarah tidak otomatis menjadi hujah akidah tanpa sanad sahih.
Mengangkat Perawi Pendusta (Matruk)Mengandalkan riwayat dari tokoh-tokoh yang telah disepakati sebagai pembohong besar dalam ilmu riwayat, seperti Luth bin Yahya (Abu Mikhnaf) atau Al-Kalbi.Memeriksa rekam jejak digital dan biografi perawi melalui kitab-kitab Jarh wat Ta'dil.

4. Tradisi Pemalsuan Hadis sebagai Bagian dari Doktrin Sektarian

Mengapa tradisi penggunaan dan pembuatan literatur tidak sahih ini begitu subur di dalam sekte Syiah? Jawabannya terletak pada sejarah awal kemunculan mereka. Karena tidak mendapati satu pun ayat Al-Qur'an atau hadis sahih dari Nabi ﷺ yang secara eksplisit memerintahkan pengangkatan 12 Imam setelah beliau wafat, para pencetus awal sekte ini menempuh jalan pintas: memabrikasi (memalsukan) hadis.

Para ulama hadis klasik sejak zaman tabi'in telah memperingatkan bahwa kelompok Rafidhah (Syiah) adalah kelompok yang paling berani dan paling banyak berbohong dalam urusan hadis. Imam Syafi'i rahimahullah pernah menegaskan sebuah kalimat yang sangat masyhur:

"Aku belum pernah melihat di antara kelompok pengikut hawa nafsu yang lebih berani bersaksi palsu (berbohong) melebihi sekte Rafidhah (Syiah)."

Mereka menganggap kebohongan yang dibungkus dengan nama Ahlul Bait sebagai bentuk pembelaan terhadap mazhab, sehingga menyebarkan riwayat palsu pun dipandang sebagai tindakan spritual yang bernilai pahala.

Kesimpulan

Ketergantungan sekte Syiah pada literatur yang tidak sahih, kitab-kitab fiktif, dan hadis-hadis palsu merupakan bukti nyata dari kelemahan akademis ajaran tersebut. Sebuah ideologi keagamaan yang lurus tidak akan pernah membutuhkan tumpukan riwayat palsu atau manipulasi teks untuk membuktikan kebenarannya.

Sebagai umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, kita harus cerdas dan kritis. Ketika menghadapi propaganda misionaris Syiah yang membawakan sejuta kutipan literatur, langkah pertama kita adalah selalu menuntut pertanggungjawaban sanad: Apakah riwayat tersebut sahih? Siapa perawinya? Dan bagaimana akurasi kitabnya? Kembali pada metodologi kritik hadis yang ketat adalah perisai utama untuk menjaga kemurnian Islam dari distorsi literatur kaum Syiah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: