Syiahindonesia.com - Di dalam khazanah bahasa Arab dan terminologi Islam yang murni, kata Wilayah atau Walayah memiliki arti dasar kepemimpinan, kecintaan, pertolongan, atau kedekatan. Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) menempatkan konsep ini dalam koridor yang seimbang: Wilayah dalam arti spiritual bermakna kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT karena iman dan ketakwaannya (sebagaimana konsep Wali Allah), sedangkan dalam arti sosial-politik bermakna kepemimpinan sipil yang dijalankan oleh manusia biasa demi kemaslahatan umat melalui prinsip musyawarah (Syura).
Namun, di dalam bangunan teologi sekte Syiah, khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), konsep Wilayah telah mengalami distorsi dan penyimpangan radikal. Syiah mengeluarkan konsep kepemimpinan ini dari wilayah ijtihad manusiawi dan mengangkatnya menjadi pilar akidah yang paling tinggi, bahkan melampaui rukun Islam lainnya. Bagi Syiah, Wilayah bermakna hak mutlak keagamaan dan politik yang hanya diberikan kepada Ali bin Abi Thalib r.a. dan keturunannya dengan karakteristik kedewaan yang menyimpang dari prinsip tauhid.
1. Mengangkat Wilayah Melampaui Rukun Islam
Kesalahan teologis paling mendasar dari sekte Syiah adalah menjadikan Wilayah (kepemimpinan para Imam mereka) sebagai rukun agama yang paling utama, yang menentukan sah atau tidaknya iman seseorang. Di dalam kitab rujukan utama mereka, Al-Kafi karya Al-Kulaini (Vol. 2, hal. 18), disebutkan sebuah riwayat yang dicatut atas nama Imam mereka:
"Islam dibangun di atas lima perkara: Shalat, Zakat, Puasa, Haji, dan Al-Wilayah. Dan tidak ada seruan yang dikumandangkan secara masif melebihi seruan terhadap Al-Wilayah."
Dalam pandangan teologi Syiah, seseorang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa seumur hidup, dan naik haji berkali-kali, amalannya dinilai batil dan ia tetap divonis masuk neraka jika tidak meyakini Wilayah para Imam. Konsep ini jelas merusak tatanan orisinalitas rukun Islam yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadis-hadis sahih, di mana pilar utama Islam adalah dua kalimat syahadat, bukan baiat politik kepada dinasti tertentu.
2. Mengkultuskan Para Imam dengan Wilayah Takwimiyyah (Otoritas Alam Semesta)
Penyimpangan konsep Wilayah dalam teologi Syiah tidak hanya berhenti pada urusan kepemimpinan politik (Wilayah Tasyri'iyyah), melainkan meluas hingga ke ranah ketuhanan melalui doktrin Wilayah Takwimiyyah.
Melalui doktrin ini, para rabi Syiah mengeklaim bahwa para Imam maksum mereka memiliki kendali penuh terhadap setiap atom di alam semesta. Tokoh tertinggi Syiah modern, Ayatullah Khomaini, secara tegas menuliskan penyimpangan akidah ini dalam kitabnya yang terkenal, Al-Hukumah Al-Islamiyyah (hal. 52):
"Sesungguhnya para Imam kita memiliki kedudukan yang terpuji, derajat yang tinggi, dan kekuasaan atas alam semesta (Wilayah Takwimiyyah), di mana seluruh atom di alam ini tunduk di bawah kekuasaan mereka."
Mengeklaim bahwa ada manusia—termasuk para Imam dari kalangan Ahlul Bait—yang mengatur alam semesta, mengetahui seluruh hal gaib sejak lahir, dan mengontrol takdir makhluk adalah bentuk perbuatan syirik besar (Syirkul Akbar) dalam tauhid rububiyah. Ahlul Bait yang asli, seperti Sayyidina Ali, Hasan, dan Husein, berlepas diri dari kultus individu yang berlebihan ini.
3. Matriks Transformasi: Evolusi Wilayah Menjadi Politik Praktis Modern
Konsep Wilayah yang semula bersifat teologis-mesianik (menanti Imam Mahdi) diubah secara drastis oleh Khomaini pada abad ke-20 menjadi doktrin politik ekspansif yang mengancam kedaulatan negara-negara Muslim.
4. Mendustakan Prinsip Syura di dalam Al-Qur'an
Dengan mengunci konsep kepemimpinan hanya melalui jalur Wilayah keturunan yang sakral, Syiah secara sadar telah mengabaikan dan mendustakan prinsip-prinsip musyawarah yang telah digariskan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an. Islam adalah agama yang egaliter, di mana pemimpin dipilih berdasarkan kompetensi, takwa, dan keridaan umat, bukan berdasarkan garis darah kedewaan. Allah SWT berfirman dalam Surat Asy-Syura ayat 38:
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
"And (there are) those who have responded to their lord and established prayer and whose affair is [determined by] consultation among themselves, and from what We have provided them, they spend."
Para sahabat Nabi ﷺ, termasuk Sayyidina Ali r.a., mempraktikkan ayat ini secara sempurna dalam peristiwa Saqifah dan pemilihan khalifah-khalifah selanjutnya. Pemaksaan doktrin Wilayah sepihak oleh Syiah adalah upaya mereduksi keindahan sistem syura Islam menjadi sistem teokrasi monarki yang kaku.
Kesimpulan
Kesesatan sekte Syiah dalam memahami konsep Wilayah merupakan akar dari runtuhnya fondasi tauhid dan persatuan umat di dalam aliran mereka. Dari konsep inilah lahir pengafiran terhadap para sahabat Nabi yang sah, pengultusan supranatural terhadap figur Ahlul Bait, hingga lahirnya gerakan politik radikal Wilayatul Faqih yang memecah belah stabilitas negara-negara Muslim.
Sebagai umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, kita harus tetap jernih dan kokoh memegang akidah bahwa kepemimpinan duniawi adalah urusan ijtihad umat melalui musyawarah, sedangkan kekuasaan alam semesta adalah hak mutlak Allah semata. Membongkar penyimpangan konsep Wilayah ala Syiah ini adalah ikhtiar penting untuk menjaga kemurnian tauhid masyarakat Indonesia dari polusi pemikiran teokrasi asing yang menyesatkan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: