Syiahindonesia.com - Dalam syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, penentuan mengenai apa yang termasuk dalam dosa besar (kaba'ir) selalu berpijak pada dalil-dalil yang jelas, berkeadilan, dan selaras dengan akal sehat manusia. Sesuatu dikategorikan sebagai dosa besar jika ia melanggar hak-hak ketuhanan yang absolut (seperti syirik), merugikan jiwa dan kehormatan manusia (seperti membunuh dan berzina), atau merusak tatanan sosial (seperti memakan harta anak yatim dan korupsi).
Namun, jika kita menyelami literatur teologi dan fikih Syiah Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), kita akan menemukan pergeseran parameter yang sangat drastis dan tidak masuk akal dalam menetapkan timbangan dosa. Demi membela hak politik dan kedudukan para imam mereka, kelompok Syiah menciptakan daftar "dosa-dosa besar" baru yang terkesan dipaksakan, aneh, dan bertentangan dengan prinsip keadilan Ilahi.
Berikut adalah beberapa konsep dosa besar dalam perspektif Syiah yang dinilai tidak masuk akal oleh umat Islam:
1. Dosa Menolak Keimaman (Imamah) Setara dengan Kekafiran Abadi
Bagi umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), seseorang dianggap melakukan dosa besar atau keluar dari Islam jika ia mengingkari perkara agama yang sudah pasti (ma'lum minad diini bidh-dharurah), seperti mengingkari kewajiban shalat lima waktu atau mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW.
Namun dalam doktrin Syiah, salah satu dosa paling besar yang paling tidak diampuni di akhirat adalah menolak atau tidak mengetahui nama-nama dua belas imam maksum mereka. Di dalam kitab Al-Kafi—kitab rujukan paling otentik di kalangan Syiah—disebutkan bahwa menolak kepemimpinan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan keturunannya dinilai lebih berat daripada dosa meninggalkan shalat, zakat, dan puasa.
Sisi Tidak Masuk Akalnya: Konsep ini menempatkan miliaran umat Islam dari zaman Sahabat hingga hari kiamat—termasuk para ulama besar pemelihara Al-Qur'an dan Sunnah—ke dalam golongan ahli neraka yang kekal hanya karena mereka tidak meyakini silsilah kepemimpinan politik versi Syiah. Hal ini mengaburkan esensi keadilan Allah yang menilai hamba-Nya berdasarkan ketakwaan, iman kepada yang gaib, dan amal saleh, bukan berdasarkan kesetiaan pada sebuah dinasti politik tertentu.
2. Dosa Menolak Doktrin Taqiyah (Kamuflase Keyakinan)
Taqiyah—yaitu menonjolkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di dalam hati demi keselamatan—dalam pandangan Islam Sunni hanyalah sebuah kelonggaran (rukhshah) darurat yang boleh digunakan ketika nyawa benar-benar terancam, seperti di bawah siksaan kaum kafir.
Sebaliknya, bagi Syiah, Taqiyah adalah pilar agama yang bersifat permanen dan wajib dilakukan. Tokoh besar mereka, Al-Kulaini, meriwayatkan sebuah doktrin dalam Al-Kafi:
"Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki Taqiyah."
Bahkan, dalam beberapa fatwa ulama klasik mereka, meninggalkan Taqiyah (yakni berkata jujur dan terang-terangan di hadapan publik tentang akidah Syiah yang sebenarnya) dinilai sebagai dosa besar yang setara dengan meninggalkan shalat.
Sisi Tidak Masuk Akalnya: Bagaimana mungkin sebuah kejujuran dan keberanian dalam mempertahankan kebenaran diposisikan sebagai sebuah dosa besar? Menempatkan kamuflase, kepura-puraan, dan dusta sebagai kewajiban agama yang setara dengan pilar ibadah utama adalah bentuk perusakan moralitas yang sangat nyata.
3. Dosa Mencintai Para Sahabat Nabi SAW
Bagi kaum Muslimin, mencintai para Sahabat Nabi (seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Abu Hurairah, dan lainnya) adalah bagian dari tuntutan iman dan bentuk terima kasih atas jasa mereka dalam menyebarkan Islam.
Namun, ekosistem teologi Syiah membalik logika tersebut. Melalui doktrin Tabarra' (berlepas diri dari musuh Ahlul Bait), menaruh rasa cinta, hormat, atau sekadar memuji kebaikan Sayyidina Abu Bakar dan Umar bin Khattab dikategorikan sebagai dosa besar dan kemunafikan yang nyata. Seseorang yang memuji para Sahabat tersebut dicap sebagai kelompok Nawasib (pembenci keluarga Nabi) yang halal darahnya secara maknawi dalam teologi klasik mereka.
Sisi Tidak Masuk Akalnya: Allah SWT di dalam Al-Qur'an secara tegas telah menyatakan rida-Nya kepada para Sahabat generasi awal (Muhajirin dan Anshar). Mengategorikan rasa cinta kepada manusia-manusia yang telah dijamin surga oleh Allah sebagai sebuah dosa besar adalah bentuk kontradiksi teologis yang paling cacat dan menentang langsung otoritas wahyu.
4. Dosa Melakukan Haji Tanpa Ziarah ke Kubur Imam
Ibadah Haji ke Baitullah di Mekkah adalah rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan bagi yang mampu. Kesempurnaan haji diukur dari keikhlasan dan ketepatan pelaksanaan rukun serta wajib haji di padang Arafah, Muzdalifah, Mina, dan Ka'bah.
Namun dalam literatur fikih dan hadis Syiah, ibadah haji seorang muslim dianggap tidak sempurna, pincang, bahkan bernilai dosa jika tidak dibarengi dengan ritual ziarah ke makam para imam mereka (seperti makam Imam Husain di Karbala). Riwayat-riwayat di dalam kitab Bihar al-Anwar menyatakan bahwa pahala menziarahi kubur Imam Husain di Karbala jauh melipatgandakan pahala ibadah haji murni ke Mekkah, dan mengabaikannya setelah mampu adalah dosa kelalaian yang besar.
Sisi Tidak Masuk Akalnya: Konsep ini menggeser poros kesucian dalam Islam dari Ka'bah (Rumah Allah) menuju ke kuburan-kuburan manusia. Menyamakan atau bahkan meninggikan kedudukan kuburan di atas Baitullah adalah bentuk penyimpangan logika ibadah yang sangat ekstrem dan membuka pintu gerbang syirik.
Kesimpulan
Konsep dosa besar yang dibangun oleh kelompok Syiah menunjukkan betapa rapuhnya landasan teologis yang tidak dibimbing oleh kemurnian Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih. Ketika timbangan dosa dan pahala tidak lagi diukur berdasarkan nilai-nilai universal kemanusiaan dan ketauhidan, melainkan diukur berdasarkan fanatisme kelompok dan pemujaan terhadap figur tertentu, maka syariat akan kehilangan sifatnya yang logis, adil, dan membawa rahmat.
Bagi umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat berharga agar kita senantiasa memegang teguh konsep dosa dan pahala yang orisinal sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Memahami kejanggalan-kejanggalan teologis ini adalah langkah penting untuk menjaga nalar sehat umat agar tidak mudah goyah oleh propaganda-propaganda yang mengatasnamakan spiritualitas namun menabrak kaidah ilmu dan akal.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: