Syiahindonesia.com - Di dalam khazanah hukum Islam, Taqiyyah (secara bahasa berarti menjaga diri atau waspada) merupakan sebuah rukhshah (keringanan) hukum yang bersifat kasuistis dan darurat. Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunni) merumuskan konsep ini berdasarkan panduan Al-Qur'an dan As-Sunnah secara ketat: Taqiyyah hanya boleh dilakukan ketika seorang Muslim berada di bawah ancaman pembunuhan atau penyiksaan fisik yang luar biasa oleh kaum kafir harbi, di mana ia diperbolehkan menyembunyikan keimanannya secara lisan sementara hatinya tetap kokoh dalam tauhid.
Namun, di dalam bangunan teologi sekte Syiah, khususnya Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah), konsep Taqiyyah mengalami distorsi makna yang sangat radikal dan fatal. Syiah tidak memosisikan Taqiyyah sebagai keringanan darurat yang temporer, melainkan mengangkatnya menjadi pilar akidah yang fundamental, bagian dari rukun agama, serta kebiasaan hidup sehari-hari untuk mengelabui umat Islam di luar kelompok mereka. Kesalahan fatal dalam memahami konsep Taqiyyah ini tidak hanya melahirkan cacat moral berupa legalitas kebohongan yang sistematis, tetapi juga merusak tatanan kejujuran ilmiah dalam beragama.
1. Mengangkat Taqiyyah Menjadi Sembilan Persepuluh Bagian Agama
Kesalahan teologis paling mendasar dari sekte Syiah adalah kultus berlebihan terhadap perilaku menyembunyikan keyakinan ini. Jika di dalam Islam yang murni kejujuran (shiddiq) adalah sifat para Nabi yang wajib diteladani, Syiah justru memproduksi doktrin bahwa kemunafikan terselubung ini adalah inti sari keimanan.
Di dalam kitab rujukan utama mereka, Al-Kafi karya Al-Kulaini (Vol. 2, hal. 217), tertulis riwayat palsu yang dicatut atas nama keluarga Nabi:
"Taqiyyah adalah sembilan persepuluh (90%) dari agama. Tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki Taqiyyah."
Dalam riwayat Syiah lainnya, disebutkan bahwa orang yang meninggalkan Taqiyyah sebelum kemunculan Imam Mahdi versi mereka statusnya disamakan dengan orang yang meninggalkan shalat. Menjadikan aktivitas berpura-pura dan menyembunyikan identitas asli sebagai parameter kesalehan tertinggi adalah bentuk penyimpangan psikologis dan teologis yang sangat nyata.
2. Mendustakan Ayat Al-Qur'an tentang Batasan Darurat
Sekte Syiah meluaskan penggunaan Taqiyyah hingga menerobos batasan-batasan syar'i yang telah ditetapkan Allah SWT. Di dalam Al-Qur'an, legalitas menyembunyikan iman hanya berlaku jika berhadapan dengan ancaman kematian dari orang kafir, sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nahl ayat 106:
مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ
"Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman..."
Ayat ini turun berkenaan dengan sahabat Ammar bin Yasir r.a. yang dipaksa oleh kaum musyrik Quraisy untuk mencela Nabi ﷺ di bawah siksaan yang biadab. Namun, Syiah menggunakan Taqiyyah justru di hadapan sesama kaum Muslimin (kaum Sunni). Mereka melegalkan perilaku berpura-pura shalat di belakang imam Sunni, berpura-pura memuji sahabat Nabi, dan berpura-pura menyetujui fatwa ulama Sunni, semata-mata demi melakukan infiltrasi dan mencari aman saat menjadi minoritas. Menyamakan status sesama Muslim dengan kafir harbi yang halal ditipu adalah bentuk perusakan ukhuwah yang sangat keji.
3. Menuduh Para Imam "Maksum" Melakukan Kebohongan Akibat Taqiyyah
Dampak ilmiah yang paling merusak dari penyimpangan konsep ini berbalik menghancurkan orisinalitas ajaran Syiah sendiri. Karena Syiah mendoktrinkan bahwa para Imam mereka selalu mempraktikkan Taqiyyah sepanjang hidupnya di bawah kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah, maka timbul kerancuan epistemologis yang akut di dalam kitab-kitab hadis mereka.
Ketika para ulama hadis menemukan ada fatwa-fatwa dari Imam Ja'far al-Shadiq yang saling bertolak belakang atau justru sejalan dengan fikih Sunni, para rabi Syiah akan dengan mudah membuat dalih: "Imam sengaja mengeluarkan fatwa salah tersebut karena sedang melakukan Taqiyyah (berbohong demi keamanan)."
Konsekuensinya:
Umat Syiah tidak pernah tahu mana ucapan Imam mereka yang merupakan kebenaran hakiki dan mana yang merupakan kebohongan akibat Taqiyyah.
Struktur hukum agama mereka berdiri di atas ketidakpastian (syak) dan kecurigaan yang permanen.
Tindakan menuduh figur Ahlul Bait gemar berbohong dan bersandiwara dalam menyampaikan syariat Allah adalah bentuk penghinaan terselubung yang sangat nyata terhadap kesucian keluarga Nabi ﷺ.
4. Tabel Komparasi Konseptual: Sunni vs Syiah tentang Taqiyyah
5. Bahaya Strategi Taqiyyah Misionaris Syiah di Indonesia
Umat Islam di Indonesia wajib memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap pergerakan agen-agen Syiah yang dipandu oleh doktrin Taqiyyah ini. Di ruang publik Nusantara, mereka menampilkan profil yang sangat ramah, pluralis, dan pro-persatuan umat guna mengelabui kaum awam Sunni.
Modus operandi kamuflase mereka dapat diidentifikasi melalui pola-pola berikut:
Pemujaan Sahabat Palsu: Di mimbar-mimbar seminar nasional, tokoh Syiah akan mengucapkan kalimat Radhiyallahu 'Anhu untuk Abu Bakar dan Umar r.a. Namun, hal itu murni Taqiyyah. Di dalam kitab panduan ritual internal mereka yang tertutup, melaknat kedua khalifah tersebut tetap diposisikan sebagai sedekah spritual.
Kamuflase Akademis: Menyusup ke perguruan-perguruan tinggi Islam dengan kedok kajian filsafat, tasawuf, atau studi sejarah kritis, untuk menyuntikkan keraguan (syubhat) ke dalam pikiran para mahasiswa mengenai keabsahan hadis-hadis sahih Sunni.
Kesimpulan
Kesalahan fatal sekte Syiah dalam memahami konsep Taqiyyah membuktikan bahwa ajaran mereka melegalkan standar ganda dan ketidakjujuran ilmiah sebagai metodologi beragama. Dengan mengubah fungsi keringanan darurat menjadi kewajiban berbohong secara massal, Syiah telah menodai kesucian ajaran Islam yang dibangun di atas fondasi kebenaran mutlak dan akhlak yang mulia.
Sebagai benteng pertahanan akidah di bumi Nusantara, kita tidak boleh terkecoh oleh retorika dan wajah manis yang ditampilkan kaum Syiah di ruang publik. Memahami bahwa kepura-puraan adalah bagian dari ibadah mereka merupakan kunci utama bagi umat Islam Sunni untuk tetap bersikap kritis, waspada, dan tegas menolak segala bentuk infiltrasi ajaran sesat Syiah demi keselamatan iman kita di hadapan Allah SWT.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: