Breaking News
Loading...

Syiah dan Keanehan dalam Ritual Keagamaannya

Syiahindonesia.com - Ibadah dalam Islam sejatinya merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan penuh ketundukan, ketenangan, dan kedamaian. Setiap ritual yang disyariatkan oleh Rasulullah SAW selalu memiliki landasan dalil yang kuat, menjaga kehormatan manusia, serta sejalan dengan fitrah dan akal sehat—seperti ketenangan dalam shalat, keikhlasan dalam berpuasa, dan keagungan rangkaian ibadah Haji.

Namun, pemandangan yang kontras akan kita temukan jika melihat ekosistem ritual keagamaan dalam sekte Syiah Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam). Demi mengekspresikan doktrin fanatisme kelompok dan pemujaan berlebihan terhadap para imam, mereka menciptakan berbagai ritual baru yang dinilai aneh, ekstrem, bahkan mengerikan oleh umat Islam dunia. Ritual-ritual ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW maupun keluarga beliau (Ahlul Bait) yang asli.

Berikut adalah beberapa keanehan dalam ritual keagamaan Syiah yang menabrak logika sehat dan syariat Islam yang murni:

1. Ritual Tathbir (Melukai Diri dengan Senjata Tajam)

Setiap tanggal 10 Muharram (Hari Asyura), jagat media sosial kerap dihebohkan oleh tayangan ribuan pengikut Syiah—pria, lansia, bahkan anak-anak—yang berbaris di jalanan sambil memukul-mukul kepala dan punggung mereka menggunakan pedang, pisau, atau rantai besi hingga bersimbah darah. Ritual mengerikan ini disebut dengan Tathbir atau Matam, yang ditujukan sebagai ekspresi kesedihan dan penebusan dosa atas syahidnya cucu Nabi SAW, Imam Husain bin Ali, di Karbala.

Sisi Keanehannya: Islam secara tegas mengharamkan tindakan merusak atau menyiksa tubuh sendiri (jild al-nafs). Rasulullah SAW bersabda bahwa bukan golongan umatnya orang yang memukul-mukul pipi dan merobek-robek baju saat tertimpa musibah (meratapi kematian). Menjadikan aksi menyiksa diri yang histeris dan berdarah-darah sebagai sebuah bentuk "ibadah suci" adalah penyimpangan logika teologis yang sangat nyata dan merusak citra Islam yang damai di mata dunia.

2. Menggeser Poros Ibadah Haji ke Karbala dan Najaf

Bagi umat Islam, tidak ada tanah yang lebih suci di muka bumi ini selain Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah. Namun, dalam tradisi Syiah, kesucian dua kota tersebut kerap digeser oleh keagungan kota Karbala dan Najaf di Irak (tempat makam Imam Husain dan Sayyidina Ali versi mereka).

Dalam kitab-kitab hadis rujukan Syiah seperti Thusi dan Al-Kafi, terdapat doktrin ekstrem yang menyatakan bahwa melakukan ziarah ke kuburan Imam Husain pada hari-hari tertentu pahalanya setara dengan puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali ibadah haji dan umrah yang murni ke Baitullah. Akibatnya, jutaan pengikut Syiah lebih memprioritaskan ritual berhaji ke kuburan (Arba'en) daripada menunaikan rukun Islam kelima di Ka'bah.

Sisi Keanehannya: Bagaimana mungkin sebuah ziarah ke makam makhluk ciptaan Allah diposisikan jauh lebih mulia daripada beribadah langsung di Rumah Allah (Baitullah) yang menjadi kiblat umat Islam sedunia? Ini adalah bentuk pergeseran poros tauhid yang sangat berbahaya dan membuka pintu gerbang pengkultusan individu secara mutlak.

3. Kewajiban Shalat di Atas Turbah (Tanah Karbala)

Ketika melaksanakan shalat, kaum Muslimin diperbolehkan bersujud di atas hamparan karpet, sajadah, kain, atau tanah bersih apa saja yang suci secara universal. Namun, mayoritas penganut Syiah enggan bersujud jika dahi mereka tidak menyentuh sebuah batu atau kepingan tanah padat kecil yang disebut Turbah.

Mereka meyakini bahwa shalat mereka tidak akan sempurna, bahkan tidak sah, jika dahi tidak menempel pada turbah tersebut, yang mayoritas sengaja dibuat dan diimpor langsung dari tanah makam Karbala.

Sisi Keanehannya: Nabi Muhammad SAW secara tegas bersabda bahwa Allah SWT telah menjadikan seluruh hamparan bumi ini sebagai tempat sujud yang suci bagi umatnya. Mengkhususkan keabsahan shalat hanya pada sepotong tanah dari lokasi kuburan tertentu adalah bentuk penyempitan syariat yang mengada-ada dan tidak memiliki dasar hukum sama sekali dari generasi awal Islam.

4. Legalisasi Nikah Mut'ah (Kawin Kontrak) Berkedok Ibadah

Salah satu praktik dalam fikih Syiah yang paling banyak menuai kritik moral adalah Nikah Mut'ah, yaitu pernikahan yang dibatasi oleh jangka waktu tertentu (bisa satu tahun, satu bulan, satu minggu, bahkan beberapa jam saja) dengan kompensasi mahar tertentu, tanpa memerlukan saksi, wali, maupun kewajiban memberi nafkah lahir batin setelah masa kontrak habis.

Dalam teologi Syiah, praktik ini bukan sekadar gaya hidup biasa, melainkan dipromosikan sebagai sebuah ritual ibadah yang sangat besar pahalanya. Tokoh mereka, Fathullah Al-Kasyani, menulis dalam tafsirnya bahwa orang yang melakukan mut'ah satu kali derajatnya setara dengan Imam Husain, dan yang melakukannya empat kali derajatnya setara dengan Nabi SAW.

Sisi Keanehannya: Praktik kawin kontrak ini pada hakikatnya hanyalah legalisasi prostitusi terselubung berkedok agama. Islam Sunni menegaskan bahwa Mut'ah telah diharamkan secara mutlak oleh Rasulullah SAW hingga hari kiamat karena merendahkan martabat perempuan, mengabaikan nasab (garis keturunan) anak yang dilahirkan, dan merusak institusi sakral pernikahan. Menjanjikan derajat kenabian bagi pelaku kawin kontrak jangka pendek adalah bentuk pelecehan terhadap kesucian institusi agama.

Kesimpulan

Berbagai keanehan dan ekstremitas dalam ritual keagamaan Syiah menjadi bukti nyata apa yang terjadi ketika urusan ibadah tidak lagi bersumber pada kemurnian Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih. Ketika sebuah gerakan keagamaan dipondasikan di atas rasa dendam sejarah, ratapan emosional yang dipelihara, dan pemujaan berlebihan kepada manusia, maka ritual yang lahir darinya akan kehilangan ketenteraman, logika, dan keluhuran budi.

Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, fenomena ritual ini harus memicu rasa syukur yang mendalam atas nikmat Islam yang lurus, indah, dan menenteramkan jiwa. Menjaga diri agar tetap teguh di atas jalan ibadah yang diajarkan Nabi SAW secara otentik adalah satu-satunya cara agar hidup kita senantiasa dinaungi oleh rida Allah SWT tanpa harus terjebak dalam ritual-ritual yang merusak akal dan jasmani.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: