Breaking News
Loading...

Syiah dan Penyelewengan dalam Menafsirkan Hadis Manzilah

Syiahindonesia.com - Hadis Manzilah merupakan salah satu riwayat sahih yang sangat populer dalam khazanah keilmuan Islam. Hadis ini diucapkan oleh Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA menjelang keberangkatan beliau ke Perang Tabuk. Dalam momentum tersebut, Nabi SAW bersabda:

"Tidakkah engkau rida kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?" (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagi umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), hadis ini adalah bentuk pujian, pemuliaan, serta penenteraman hati yang diberikan Nabi kepada Sayyidina Ali yang saat itu ditugaskan untuk menjaga Madinah selama ditinggal perang. Namun, di tangan para teolog Syiah Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), hadis yang mulia ini mengalami pembelokan makna secara radikal. Mereka menjadikannya sebagai salah satu pilar utama untuk melegitimasi doktrin Imamah (hak kepemimpinan politik dan spiritual absolut) yang diklaim diwasiatkan kepada Ali.

Berikut adalah beberapa penyelewengan ilmiah kelompok Syiah dalam menafsirkan Hadis Manzilah:

1. Menghilangkan Asbabul Wurud (Konteks Peristiwa) Demi Narasi Absolut

Penyelewengan paling mendasar yang dilakukan oleh Syiah adalah memotong dan mengabaikan latar belakang historis (asbabul wurud) diucapkannya hadis tersebut. Rasulullah SAW mengucapkan kalimat ini secara khusus pada momentum Perang Tabuk (tahun 9 Hijriah). Saat itu, Nabi SAW membawa hampir seluruh pasukan muslimin yang mampu bertempur dan meninggalkan Sayyidina Ali di Madinah untuk mengurus kaum wanita, anak-anak, dan orang tua.

Orang-orang munafik di Madinah kemudian mengembuskan desas-desus jahat bahwa Nabi meninggalkan Ali karena bosan dan benci kepadanya. Mendengar fitnah tersebut, Sayyidina Ali segera menyusul Nabi dan mengadu. Di sinilah Nabi SAW menenangkan hati Ali dengan menyamakannya seperti Nabi Harun AS yang ditinggalkan oleh Nabi Musa AS untuk menjaga kaumnya ketika Musa pergi ke Bukit Sinai.

Sisi Penyelewengannya: Syiah memosisikan hadis ini seolah-olah sebuah maklumat umum dan permanen yang menetapkan bahwa Ali adalah penerus resmi kekhalifahan setelah Nabi wafat. Padahal, penunjukan Ali di Madinah saat itu bersifat temporer (sementara) selama Nabi pergi berperang, sama seperti Nabi yang sering menunjuk sahabat lain (seperti Ibnu Ummi Maktum atau Abu Dujanah) untuk memimpin Madinah di perang-perang sebelumnya.

2. Pemaksaan Analogi yang Cacat Logika

Syiah mengeklaim bahwa karena Nabi Harun AS adalah saudara, pembantu (wazir), dan khalifah bagi Nabi Musa AS, maka Sayyidina Ali secara otomatis mewarisi seluruh kedudukan tersebut dari Nabi Muhammad SAW, termasuk hak mutlak untuk memimpin umat setelah beliau wafat.

Sisi Penyelewengannya: Analogi (qiyas) yang dibangun Syiah ini cacat secara fakta sejarah Al-Qur'an. Nabi Harun AS pada kenyataannya wafat terlebih dahulu sebelum Nabi Musa AS. Ketika Musa AS wafat di kemudian hari, kepemimpinan Bani Israil tidak diteruskan oleh keturunan Harun, melainkan dipimpin oleh Yusa' bin Nun.

Jika Syiah bersikeras menyamakan posisi Ali dengan Harun secara mutlak dalam hal suksesi kepemimpinan, maka hadis ini justru menggugurkan klaim kekhalifahan Ali, karena Harun tidak pernah menjadi khalifah pengganti setelah Musa wafat. Nabi Muhammad SAW menyamakan Ali dengan Harun semata-mata dalam konteks "ditugaskan menjaga kaum yang ditinggalkan sementara", bukan dalam urusan warisan kekuasaan pasca-wafat.

3. Mengabaikan Kalimat Pengecualian Kenabian (Istitsna')

Dalam ujung hadis tersebut, Rasulullah SAW secara tegas memberikan batasan kalimat: "...hanya saja tidak ada nabi setelahku." Kalimat pengecualian (istitsna') ini sengaja ditambahkan oleh Nabi untuk menutup celah pengkultusan, karena Nabi Harun AS adalah seorang Nabi, sedangkan Sayyidina Ali RA—mulia bagaimanapun kedudukannya—bukanlah seorang nabi.

Sisi Penyelewengannya: Meskipun hadis tersebut jelas-jelas menegaskan berakhirnya era kenabian, teologi Syiah justru menyelundupkan sifat-sifat kenabian kepada dua belas imam mereka melalui pintu doktrin Imamah. Mereka mendoktrinkan bahwa para imam mereka memiliki sifat maksum (terjaga dari dosa), menerima wahyu ilham, serta memiliki otoritas syariat yang setara dengan Nabi. Dengan kata lain, mereka secara substantif menolak batasan pengecualian yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis itu sendiri.

Kesimpulan

Penafsiran kelompok Syiah terhadap Hadis Manzilah merupakan contoh nyata bagaimana sebuah teks hadis yang sahih dipotong konteksnya dan dipaksakan interpretasinya demi syahwat politik-teologis sekte. Dengan mengabaikan alasan historis peristiwa Tabuk dan memaksakan analogi yang bertentangan dengan kronologi Al-Qur'an, Syiah telah membangun bangunan akidah di atas fondasi takwil yang rapuh.

Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, menempatkan Hadis Manzilah pada porsi makna yang sebenarnya adalah bentuk penghormatan ilmiah yang jujur. Kita memuliakan Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat agung yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Nabi, tanpa harus tergelincir ke dalam penafsiran ekstrem yang merusak tatanan sejarah dan logika syariat.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: