Syiahindonesia.com - Dalam interaksi sosial dan keagamaan di Indonesia, masyarakat sering kali mendapati sikap pengikut Syiah yang tampak sangat akomodatif, toleran, dan cenderung menyamaratakan keyakinan mereka dengan mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah). Di ruang-ruang publik, seminar, maupun media sosial, para misionaris Syiah kerap mendengungkan narasi bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah hanyalah sebatas masalah cabang fikih (furu’iyyah) semata, seperti perbedaan tata cara salat atau penentuan awal bulan. Mereka juga mengeklaim sangat menghormati persatuan umat dan tidak memiliki agenda sektarian yang tersembunyi.
Namun, apabila kita membedah kitab-kitab akidah induk rujukan mereka yang ditulis oleh para pendeta otoritatif Syiah, akan ditemukan pemandangan yang bertolak belakang secara diametral. Terdapat jurang pemisah yang sangat dalam antara apa yang mereka tampilkan di hadapan publik Sunni dengan apa yang sesungguhnya mereka yakini di dalam ruang indoktrinasi internal. Pertanyaan mendasar yang krusial untuk dijawab adalah: Mengapa Syiah selalu menyembunyikan akidah aslinya? Jawabannya berakar pada sebuah doktrin teologis yang wajib mereka amalkan bernama Taqiyah, yang digunakan sebagai strategi pertahanan hidup, metode ekspansi ideologi, sekaligus kamuflase politik.
Berikut adalah analisis detail dan ilmiah mengenai motif di balik kebiasaan kelompok Syiah dalam menyembunyikan akidah asli mereka:
1. Doktrin Taqiyah: Kebohongan yang Dilegalkan sebagai Pilar Agama
Bagi umat Islam (Ahlus Sunnah), kejujuran adalah mahkota keimanan, sedangkan menyembunyikan kebenaran atau berpura-pura dalam beragama (nifak) adalah sifat tercela yang diancam dengan siksa neraka. Namun, dalam teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), logika ini dibalik secara total. Menyembunyikan akidah asli dan menampakkan hal yang sebaliknya di hadapan kaum Sunni justru dinilai sebagai ibadah yang sangat mulia.
Di dalam kitab suci mereka, Ushul al-Kafi karya Al-Kulaini, dipalsukan puluhan riwayat yang mengatasnamakan para Imam Ahlul Bait demi melegitimasi praktik Taqiyah. Salah satu riwayat yang sangat masyhur di kalangan mereka berbunyi:
“Taqiyah adalah bagian dari agamaku dan agama nenek moyangku. Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki Taqiyah.”
Bahkan dalam riwayat lain di kitab yang sama, disebutkan bahwa Taqiyah mencakup sembilan persepuluh (90%) dari keseluruhan ajaran agama Syiah. Ketika sebuah sekte menempatkan tindakan kamuflase dan penyembunyian identitas sebagai pilar utama keimanan, maka menyembunyikan akidah asli bukan lagi sebuah pilihan darurat, melainkan sebuah kewajiban syariat yang mutlak mereka tunaikan setiap hari.
2. Menghindari Penolakan Frontal dari Mayoritas Umat Islam
Secara strategis, jika kaum misionaris Syiah secara jujur dan transparan langsung memaparkan akidah asli mereka di hadapan masyarakat Muslim Indonesia, maka ajaran mereka akan langsung ditolak mentah-mentah secara frontal.
Bayangkan jika sejak awal mereka jujur mengatakan kepada masyarakat awam bahwa:
Mereka mengafirkan dan melaknat Sayyidina Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan RA.
Mereka menuduh Ummul Mukminin Aisyah RA dengan tuduhan-tuduhan keji.
Mereka meyakini bahwa Al-Qur'an yang ada hari ini telah mengalami distorsi atau pengurangan (tahrif).
Mereka mewajibkan ritual menyiksa diri (Matam) dan menghalalkan nikah kontrak (Mut'ah).
Jika akidah-akidah ekstrem tersebut dibuka secara blak-blakan, masyarakat Muslim Nusantara yang memiliki kecintaan mendalam kepada para Sahabat dan istri Nabi pasti akan mengusir mereka. Oleh karena itu, Taqiyah digunakan sebagai alat pembius. Mereka menyembunyikan dogma-dogma mengerikan tersebut, lalu maju dengan baju "mencintai keluarga Nabi" (Ahlul Bait) untuk menarik simpati dan merembes masuk ke dalam kantong-kantong komunitas Sunni.
3. Topeng untuk Melancarkan Infiltrasi Politik dan Sosial
Sejarah mencatat bahwa sekte Syiah sejak masa lampau merupakan sebuah gerakan politik yang dibungkus dengan doktrin keagamaan. Menyembunyikan akidah asli sangat diperlukan agar para tokoh mereka bisa menyusup ke dalam struktur kekuasaan, lembaga-lembaga pendidikan, ormas Islam, hingga instansi pemerintahan sebuah negara tanpa memicu kecurigaan.
Di Indonesia, strategi penyusupan ini berjalan sangat rapi. Melalui yayasan-yayasan kebudayaan, lembaga riset, dan beasiswa pendidikan, mereka membangun citra sebagai kelompok intelektual yang moderat dan tercerahkan. Mereka menyembunyikan akidah aslinya di balik istilah-istilah inklusif seperti "dialog antar-mazhab", "ukhuwah Islamiyah", dan "pluralisme". Strategi defensif-ofensif ini bertujuan agar keberadaan mereka legal secara hukum dan sosial, sehingga ketika posisi mereka sudah kuat, mereka dapat melakukan revolusi ideologi secara terbuka sebagaimana yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah.
4. Konsekuensi Hukum: Mustahilnya Mencapai Dialog yang Jujur
Dampak paling berbahaya dari kebiasaan menyembunyikan akidah ini adalah runtuhnya rasa saling percaya dalam ruang dialog ilmiah. Ketika para ulama Sunni mencoba duduk bersama dengan tokoh-tokoh Syiah untuk mencari titik temu persatuan, dialog tersebut sering kali berakhir menjadi panggung sandiwara yang sia-sia.
Tokoh-tokoh Syiah akan dengan mudah menandatangani kesepakatan bahwa mereka menghormati Sahabat Nabi atau mengakui keabsahan Al-Qur'an Sunni. Namun bagi mereka, tanda tangan dan ucapan manis di hadapan kaum Sunni tersebut sah-sah saja dilakukan demi menjalankan perintah Taqiyah. Begitu mereka kembali ke komunitas internal mereka atau menulis kitab dalam bahasa Arab yang diedarkan di internal mereka, doktrin caci maki dan pengafiran massal terhadap selain kelompok mereka tetap diajarkan tanpa berubah sedikit pun.
Kesimpulan
Kelompok Syiah menyembunyikan akidah aslinya bukan karena mereka sedang mengalami penindasan fisik, melainkan karena hal itu merupakan strategi dasar yang diwajibkan oleh ideologi teologi mereka sendiri. Sifat ketidakjujuran yang terstruktur melalui doktrin Taqiyah ini menjadi bukti nyata bahwa ajaran Syiah tidak berdiri di atas landasan kebenaran wahyu yang berani bersinar terang di bawah matahari, melainkan berdiri di atas fondasi keremangan yang penuh dengan kepalsuan.
Bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia, fenomena ini menuntut kita untuk tidak mudah terbuai oleh tampilan luar yang manis dari para propagandis Syiah. Membentengi umat dengan literasi akidah yang kuat dan selalu merujuk pada kitab-kitab asli mereka adalah cara terbaik untuk menyingkap topeng kamuflase tersebut. Menjaga kemurnian iman dari infiltrasi gerakan Taqiyah adalah harga mati demi mempertahankan stabilitas bangsa dan kesucian agama Islam di bumi Nusantara.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: