Breaking News
Loading...

Syiah dan Ketidakmasukakalan dalam Doktrin Ghaibah

Syiahindonesia.com - Di dalam memetakan penyimpangan teologis, salah satu pokok bahasan yang paling mengundang tanda tanya besar di kalangan para peneliti akidah adalah doktrin Ghaibah (keghaiban/persembunyian Imam ke-12). Doktrin ini merupakan urat nadi bagi keberlangsungan sekte Syi'ah Imamiyyah Atsna 'Asyariyyah (Dua Belas Imam). Mereka mewajibkan pengikutnya untuk meyakini bahwa seorang anak balita bernama Muhammad bin Hasan al-Askari telah masuk ke dalam sebuah ruang bawah tanah (sardab) di Samarra, Irak, pada tahun 260 Hijriah dan tetap hidup secara fisik tersembunyi hingga detik ini, menanti waktu untuk keluar sebagai Imam Mahdi.

Bagi umat Islam yang bersandar pada kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, doktrin Ghaibah ini bukan sekadar persoalan perbedaan penafsiran sejarah, melainkan sebuah konsep yang dipenuhi oleh ketidakmasukakalan secara logika, kontradiksi secara syariat, serta kepalsuan faktual. Artikel ini akan membedah secara ilmiah dan tuntas mengapa doktrin Ghaibah bentukan Syiah ini runtuh di hadapan akal sehat dan dalil agama yang lurus.

1. Kegagalan Logika Tujuan "Imamah"

Untuk melihat ketidakmasukakalan doktrin ini, kita harus meletakkannya pada parameter alasan mendasar mengapa Syiah menciptakan konsep Imamah (kepemimpinan maksum). Teolog Syiah menegaskan bahwa keberadaan seorang Imam yang maksum (suci dari dosa dan salah) di muka bumi adalah kebutuhan mutlak bagi umat manusia pada setiap zaman (Luthf Ilahi). Menurut mereka, bumi tidak boleh kosong dari Imam karena manusialah yang membutuhkan bimbingan langsung untuk memutuskan perkara, menafsirkan agama, dan menegakkan keadilan.

Di sinilah letak cacat logika yang sangat fatal: Jika keberadaan seorang Imam di bumi adalah kebutuhan mutlak untuk membimbing umat, apa gunanya seorang pemimpin yang bersembunyi di dalam gua gaib selama lebih dari 1.100 tahun?

Selama belasan abad tersebut, umat Islam—termasuk para pengikut Syiah sendiri—mengalami jutaan tragedi, perang saudara, perbedaan fatwa yang membingungkan, hingga penindasan politik. Namun, sang Imam yang katanya wajib ditaati dan menjadi penentu kebenaran sama sekali tidak pernah muncul untuk memberikan sepatah kata pun solusi atau bimbingan. Pemimpin yang gaib dan sama sekali tidak bisa diakses fungsinya secara realita adalah sebuah konsep yang menabrak logika definisi "pemimpin" itu sendiri.

2. Paradoks Teologis: Menolak Sahabat, Menyembah Mullah

Ketidakmasukakalan doktrin Ghaibah ini pada gilirannya melahirkan inkonsistensi teologis di internal institusi keagamaan Syiah modern. Karena sang Imam tidak kunjung keluar dari persembunyiannya dan roda kekuasaan serta penarikan uang sanksi agama harus tetap berjalan, para ulama Syiah kontemporer akhirnya menciptakan doktrin tandingan bernama Wilayatul Faqih (Kepemimpinan Ahli Fikih).

Melalui doktrin buatan ini, otoritas mutlak milik Imam yang maksum—mulai dari hak memimpin pemerintahan hingga hak memungut pajak Khums (20% pendapatan rakyat)—dialihkan sepenuhnya kepada para mullah biasa (seperti para Ayatollah di Iran) dengan dalih mereka adalah "wakil umum" dari Imam Mahdi yang sedang bersembunyi.

Ini adalah sebuah lelucon teologis yang sangat nyata:

  • Di satu sisi, Syiah mengafirkan dan mencaci-maki para sahabat Nabi (seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman) dengan alasan mereka adalah manusia biasa yang tidak maksum sehingga tidak sah menjadi pemimpin umat.

  • Di sisi lain, karena lelah menunggu Imam mereka yang berada di lubang gaib, mereka justru menyerahkan ketaatan mutlak dan harta mereka kepada para mullah kontemporer yang jelas-jelas tidak maksum dan penuh dosa.

3. Menabrak Sunnatullah (Hukum Alam) Tanpa Urgensi Syariat

Umat Islam tentu mengimani hal-hal gaib dan mukjizat para nabi yang tertuang di dalam Al-Qur'an, seperti kisah pemuda Ashabul Kahfi yang ditidurkan ratusan tahun atau diangkatnya Nabi Isa AS ke langit. Allah SWT berkuasa atas segala sesuatu.

Namun, mukjizat-mukjizat tersebut diyakini karena bersumber dari teks wahyu yang otentik, mutawatir, dan memiliki tujuan syariat yang agung untuk meneguhkan iman. Sementara kisah persembunyian Imam ke-12 Syiah sama sekali tidak memiliki sandaran ayat Al-Qur'an maupun hadis yang shahih.

Mengeklaim ada seorang manusia biasa yang berumur lebih dari 11 abad di dalam ruangan bawah tanah tanpa interaksi biologis, tanpa makan, minum, dan bersosialisasi, merupakan klaim dongeng yang menabrak sunnatullah tanpa ada urgensi agama sedikit pun. Mengapa Allah harus menyembunyikan seorang pemimpin selama ribuan tahun hanya untuk membiarkan umat Islam berada dalam kebingungan tanpa bimbingannya?

4. Sanggahan dari Ayat Al-Qur'an tentang Sifat Pemimpin

Al-Qur'an secara tegas menggambarkan bahwa seorang rasul, nabi, maupun pemimpin yang diutus Allah untuk membimbing manusia haruslah sosok nyata yang membaur, berjalan di pasar-pasar, dan bisa diajak berdialog, bukan sosok bayangan yang bersembunyi ketakutan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 20:

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ

"Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar..."

Konsep Syiah yang mengurung "pemimpin suci" mereka di dalam keghaiban karena alasan takut dibunuh oleh penguasa Abbasiyah di masa lalu merupakan bentuk pelecehan terhadap kekuasaan Allah. Jika Allah benar-benar ingin menjadikan sosok tersebut sebagai penyelamat dunia, tentu Allah akan melindunginya secara nyata di tengah-tengah umat, sebagaimana Allah melindungi Nabi Muhammad SAW dari kepungan kafir Quraisy, bukan malah menyembunyikannya di dalam ruang bawah tanah tanpa batas waktu yang jelas.

Kesimpulan

Doktrin Ghaibah dalam ajaran Syiah pada hakikatnya bukanlah sebuah konsep spiritual yang murni, melainkan sebuah pelarian teologis (theological escape) untuk menutupi sebuah fakta sejarah yang pahit: yaitu bahwa Imam ke-11 mereka, Hasan al-Askari, wafat dalam keadaan mandul dan tidak memiliki keturunan. Demi menyelamatkan muka sekte agar tidak punah, para teolog purba mereka merkayasa dongeng tentang anak fiktif yang langsung masuk ke alam gaib.

Bagi umat Islam di Indonesia, membedah ketidakmasukakalan doktrin Ghaibah ini sangat penting sebagai tameng berpikir logis dan ilmiah. Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah ajaran yang rasional, terang benderang, dan tidak didasarkan pada mitos persembunyian manusia purba. Menjaga kewaspadaan terhadap syubhat-syubhat mistis ala Syiah ini adalah bagian dari komitmen kita dalam mempertahankan kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jama'ah di bumi nusantara.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: