Breaking News
Loading...

Syiah dan Kesalahan Fatal dalam Memahami Konsep Takdir

Syiahindonesia.com - Di antara sekian banyak pilar keimanan dalam Islam, keimanan kepada takdir (Qadha dan Qadar) merupakan indikator utama dari ketundukan total seorang hamba terhadap ilmu, kehendak, dan kekuasaan mutlak Allah SWT. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini—baik yang nampak maupun yang ghaib, yang baik maupun yang buruk—telah diketahui, dicatat, dan diciptakan oleh Allah SWT sejak zaman azali.

Namun, di dalam bangunan teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), konsep takdir ini mengalami keretakan yang sangat parah. Demi mempertahankan doktrin pengkultusan para Imam serta keadilan versi akal manusia, mereka mengadopsi pemikiran-pemikiran asing yang menyimpang dari manhaj lurus Ahlus Sunnah wal Jamaah.

1. Mengadopsi Paham Qadariyyah: Menafikan Kehendak Allah atas Perbuatan Makhluk

Salah satu kesalahan paling mendasar dari teologi Syiah dalam masalah takdir adalah adopsi mereka terhadap paham Qadariyyah (pemikiran kaum Mu'tazilah). Mereka berpendapat bahwa manusia memiliki kehendak yang mutlak dan mandiri dalam menciptakan perbuatannya sendiri, tanpa ada intervensi dari kehendak (Masyiatullah) dan ciptaan Allah.

Motivasi di balik pemikiran ini adalah logika rasional radikal mereka: jika Allah telah menakdirkan suatu kemaksiatan dilakukan oleh seorang manusia lalu Allah menyiksanya di neraka, maka Allah telah berbuat zalim. Demi "membela" keadilan Allah, mereka mencopot hak penciptaan dari Allah dan memberikannya kepada manusia. Paham ini jelas menabrak firman Allah SWT:

وَاللَّهُخَلَقَكُمْوَمَاتَعْمَلُونَ

"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (QS. As-Saffat: 96).

2. Doktrin Bada': Menisbatkan Sifat Bodoh dan Unsur Kejutan kepada Allah

Penyimpangan paling fatal dan unik dalam konsep takdir versi Syiah adalah pengetatan doktrin Bada'. Secara bahasa, Bada' artinya adalah nampaknya sesuatu setelah sebelumnya tersembunyi, atau munculnya pikiran baru. Di dalam kitab-kitab induk mereka seperti Al-Kafi, Syiah meyakini bahwa Allah SWT bisa mengubah takdir atau keputusan-Nya yang telah ditetapkan karena baru mengetahui adanya maslahat baru yang sebelumnya tidak Allah ketahui.

Doktrin ini lahir untuk menyelamatkan muka para Imam mereka ketika prediksi atau "ramalan" masa depan yang mereka ucapkan terbukti meleset di panggung sejarah. Ketika prediksi sang Imam salah, para pemuka Syiah berkilah bahwa Allah telah melakukan Bada' (mengubah keputusan-Nya).

Keyakinan ini merupakan penghinaan yang luar biasa terhadap sifat Allah. Menetapkan konsep Bada' sama saja dengan menuduh Allah mengalami proses dari tidak tahu menjadi tahu (jahil/bodoh), serta menafikan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu secara azali dan abadi.

3. Kontradiksi Teologis: Doktrin Wilayah Takwiniyyah para Imam

Terdapat inkonsistensi dan kontradiksi berpikir yang sangat menggelikan di dalam internal akidah Syiah terkait masalah takdir dan kekuasaan ghaib:

  1. Di satu sisi, dalam masalah takdir manusia (paham Qadariyyah), mereka mengklaim Allah tidak mengintervensi perbuatan manusia demi asas keadilan.

  2. Di sisi lain, mereka menetapkan doktrin Wilayah Takwiniyyah, yaitu keyakinan bahwa 12 Imam mereka memiliki kendali penuh atas partikel-partikel alam semesta, mengatur perputaran bumi, dan mengendalikan tetesan hujan.

Di sini terlihat betapa kacaunya manhaj teologi Syiah. Mereka membatasi kekuasaan dan takdir Allah atas perbuatan hamba-Nya, namun di saat yang sama mereka justru memberikan kekuasaan takdir alam semesta tersebut kepada manusia yang mereka kultuskan (para Imam).

4. Meruntuhkan Makna Tawakal dan Kesabaran

Dalam Islam, pemahaman yang benar tentang takdir melahirkan mentalitas mukmin yang tangguh: tidak putus asa saat tertimpa musibah dan tidak sombong saat mendapatkan nikmat. Karena seorang muslim meyakini bahwa segala sesuatu telah digariskan oleh Allah yang Maha Bijaksana.

Ketika Syiah merusak konsep takdir dengan doktrin Qadariyyah dan Bada', mereka melahirkan masyarakat yang kehilangan arah spiritual. Jika takdir Allah bisa berubah-ubah karena ketidaktahuan-Nya di awal (konsep Bada'), maka hamba tidak lagi memiliki sandaran yang kokoh untuk bertawakal. Doa dan kepasrahan tidak lagi bermakna di hadapan zat yang mereka gambarkan bisa "berubah pikiran" sewaktu-waktu layaknya makhluk.

Kesimpulan: Kembali pada Takdir Jalur Nubuwah

Kesesatan fatal kelompok Syiah dalam memahami konsep takdir membuktikan bahwa sekte ini dibangun di atas landasan filsafat akal yang pincang dan kepentingan politik kelompok, bukan di atas wahyu yang murni. Mereka mengombang-ambingkan sifat kesempurnaan ilmu Allah demi mencocokkan dongeng-dongeng teologis mereka.

Bagi kita umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, iman kepada Qadha dan Qadar adalah harga mati. Kita meyakini secara bulat bahwa ilmu Allah mendahului segala sesuatu, pena takdir telah kering menuliskan catatan alam semesta di Lauh Mahfuzh, dan segala hal terjadi di bawah kehendak serta penciptaan Allah SWT. Mewaspadai distorsi konsep takdir ala Syiah adalah benteng krusial untuk menyelamatkan akal dan iman kaum Muslimin di Indonesia.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: