Syiahindonesia.com - Di antara sekian banyak strategi yang digunakan oleh sekte Syiah untuk menarik simpati umat Islam, jargon "Cinta Ahlul Bait" (keluarga suci Rasulullah SAW) adalah senjata yang paling sering mereka dengungkan. Melalui narasi tentang kesedihan, kezaliman sejarah yang menimpa keturunan Nabi, serta puji-pujian yang melangit, mereka berhasil mengelabui sebagian kalangan awam yang mengira bahwa Syiah adalah pembela sejati keluarga Nabi.
Namun, jika kita membedah literatur asli mereka dan mengomparasikan dengan fakta sejarah, akan terkuak sebuah paradoks yang menyakitkan: klaim cinta tersebut hanyalah sebuah topeng politik dan kedok teologis yang sarat akan distorsi, pengkhianatan, serta kebohongan.
Berikut adalah penelusuran ilmiah yang membongkar hakikat "Cinta Palsu" kelompok Syiah terhadap Ahlul Bait:
1. Pengkhianatan Nyata Terhadap Figur Suku Alawi (Ahlul Bait)
Sejarah mencatat dengan tinta hitam bahwa orang-orang yang mengaku sebagai "Syiah" (pembela) di masa lalu justru menjadi aktor utama yang menelantarkan, mengkhianati, bahkan menyebabkan tumpahnya darah para imam Ahlul Bait.
Pengkhianatan Terhadap Ali bin Abi Thalib RA: Penduduk Kufah yang mengklaim sebagai pembela Ali berkali-kali membangkang dari perintah sang Khalifah saat perang, hingga membuat Ali RA berkhotbah dengan nada pedih: "Wahai orang-orang yang tubuhnya hadir namun akalnya lenyap... Demi Allah, aku ingin Mu'awiyah menukarkanku dari kalian seperti tukar menukar dirham; sepuluh dari kalian ditukar dengan satu pasukannya."
Pengkhianatan Terhadap Al-Hasan bin Ali RA: Ketika Imam Hasan naik menjadi Khalifah dan memilih jalan damai (shulhu) dengan Mu'awiyah demi mencegah pertumpahan darah umat, orang-orang Syiah Kufah justru marah, mencaci beliau dengan sebutan "Wahai yang menghinakan kaum mukminin," bahkan merampok kemah dan melukai paha beliau.
Tragedi Karbala (Al-Husain bin Ali RA): Penduduk Kufah mengirimkan ribuan surat janji setia kepada Imam Husain untuk mengundang beliau ke Irak. Namun, begitu pasukan dinasti Umayyah datang mengancam, orang-orang yang mengaku Syiah tersebut berbalik arah, bersembunyi di rumah mereka, dan membiarkan Imam Husain beserta keluarganya dibantai di Padang Karbala tanpa pertolongan.
2. Pengultusan yang Melewati Batas Kemanusiaan (Al-Ghuluw)
Cinta yang benar adalah cinta yang menempatkan seseorang sesuai dengan kedudukan yang diberikan oleh syariat. Namun, Syiah mengekspresikan "cinta" mereka dengan cara mengultuskan para imam Ahlul Bait hingga menggeser otoritas ketuhanan.
Di dalam kitab-kitab induk mereka, seperti Al-Kafi dan Biharul Anwar, para mullah menyusun bab-bab khusus yang menyatakan bahwa para imam:
Mengetahui segala hal yang ghaib, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.
Mengetahui kapan mereka akan mati dan tidak akan mati kecuali atas kehendak mereka sendiri.
Memiliki kedudukan teologis di mana atom-atom alam semesta tunduk di bawah kendali mereka.
Pengultusan ekstrem (Ghuluw) ini pada hakikatnya adalah penodaan terhadap ajaran Ahlul Bait itu sendiri. Imam Ali bin Abi Thalib, Imam Ja'far ash-Shadiq, dan para imam lainnya sepanjang hidup mereka adalah hamba-hamba Allah yang bertauhid murni, rajin beribadah, dan sangat membenci orang-orang yang mengangkat derajat mereka setara dengan Tuhan atau Nabi.
3. Menyingkirkan Mayoritas Anggota Ahlul Bait yang Lain
Kebohongan terbesar dalam klaim "Cinta Ahlul Bait" versi Syiah adalah mereka melakukan tebang pilih yang sangat diskriminatif terhadap siapa saja yang berhak disebut sebagai keluarga Nabi. Mereka mempersempit makna Ahlul Bait hanya kepada garis keturunan tertentu yang mendukung doktrin politik mereka, sembari melaknat dan memusuhi anggota Ahlul Bait lainnya yang lurus.
Memusuhi Istri-Istri Nabi: Al-Qur'an secara tegas menyebut para istri Nabi sebagai Ummul Mukminin (Ibunda orang-orang beriman) dan bagian tak terpisahkan dari keluarga besar beliau. Namun, Syiah melaknat Ummul Mukminin Aisyah RA dan Hafshah RA.
Memusuhi Keturunan Ahlul Bait yang Sunni: Banyak sekali keturunan Ali bin Abi Thalib dan Abbas bin Abdul Muthalib yang hidup di atas manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah. Tokoh-tokoh agung seperti Zaid bin Ali bin Husain (pendiri Zaidiyyah yang moderat) atau para ulama nasab dari kalangan habaib yang menolak doktrin Rafidhah, posisinya diabaikan atau bahkan dicap sesat oleh kelompok Syiah Dua Belas Imam (Imamiyyah).
4. Menjadikan Nama Ahlul Bait Sebagai Mesin Penghasil Uang
Cinta yang tulus tidak akan mengambil keuntungan finansial secara paksa dari orang yang dicintai. Sebaliknya, institusi keagamaan Syiah menggunakan nama besar Ahlul Bait untuk melegitimasi penarikan pajak Khums sebesar 20% dari penghasilan bersih seluruh pengikutnya.
Secara syariat Islam, Khums (seperlima harta rampasan perang) pada masa Nabi memang dialokasikan untuk membantu kebutuhan hidup Bani Hashim dan Bani Muthalib yang dilarang menerima zakat. Namun, para mullah Syiah memodifikasi hukum ini: mereka mewajibkan rakyat jelata menyetor 20% pendapatan harian mereka kepada para ulama (Marja' Taqlid) dengan dalih "mewakili Imam Mahdi yang sedang ghaib." Nama suci Ahlul Bait dieksploitasi sebagai tameng teologis demi menumpuk kekayaan materi para elite mullah mereka.
Kesimpulan
Ahlussunnah wal Jama'ah adalah pihak yang paling berhak dan paling jujur dalam mencintai Ahlul Bait Rasulullah SAW. Kita mencintai mereka karena perintah Allah dan Rasul-Nya, menempatkan mereka pada kedudukan yang mulia tanpa mengultuskannya, mendoakan mereka dalam setiap bacaan tasyahud shalat kita, serta menghormati para istri Nabi tanpa pengecualian.
Topeng "Cinta Ahlul Bait" yang dipakai oleh kelompok Syiah terbukti penuh dengan kepalsuan sejarah dan distorsi akidah. Mereka menggunakan nama besar keluarga Nabi hanya sebagai komoditas politik untuk membenarkan kebencian mereka kepada para sahabat, memeras harta para pengikutnya, dan menyebarkan khurafat di tengah umat Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: