Breaking News
Loading...

Syiah dan Ritual Tabarruk yang Menyesatkan

Syiahindonesia.com - Islam adalah agama yang tegak di atas pemurnian tauhid dan pengesaan ibadah hanya kepada Allah SWT. Segala bentuk peribadatan, permohonan hamba, serta penyandaran hati wajib ditujukan secara langsung kepada Sang Pencipta tanpa adanya perantara (wasilah) yang dapat mengikis kemurnian iman. Salah satu konsep yang dijaga dengan sangat ketat oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah konsep Tabarruk (mencari berkah). Islam membolehkan tabarruk hanya pada hal-hal yang memiliki dalil sahih dari syariat, seperti bertabarruk dengan Al-Qur'an, asmaul husna, atau dengan pribadi Rasulullah ﷺ semasa beliau hidup.

Namun, di dalam teologi dan praktik praktis sekte Syiah, konsep tabarruk telah mengalami distorsi dan pergeseran yang sangat fatal. Mereka memperluas esensi mencari berkah ini melampaui batas-batas syariat (ghuluw) dan menjadikannya sebuah ritual wajib yang mengarah pada pengkultusan individu. Ritual tabarruk versi Syiah yang dilakukan terhadap kuburan, tanah, dan barang-barang peninggalan para Imam mereka telah bertransformasi menjadi sebuah ritual mistis yang menyesatkan umat serta menodai kesucian Tauhid Uluhiyah.

1. Hakikat Tabarruk dalam Syariat Islam yang Murni

Bagi umat Islam yang berjalan di atas manhaj yang lurus, tabarruk adalah amalan tauqifiyah (artinya harus berdasarkan dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah, tidak boleh dikarang oleh akal manusia). Para sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum dahulu bertabarruk dengan air wudu, rambut, atau keringat Rasulullah ﷺ karena adanya bimbingan wahyu dan bukti kemuliaan fisik yang melekat pada diri seorang Nabi.

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, para sahabat tidak pernah mengalihkan ritual tabarruk fisik tersebut kepada kuburan beliau, tidak pula kepada para Khulafaur Rasyidin seperti Abu Bakar atau Umar, karena mereka tahu bahwa zat yang mendatangkan berkah hakiki hanyalah Allah SWT. Allah berfirman dalam Surat Al-A'raf ayat 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..."

Ayat ini menegaskan bahwa sumber berkah diturunkan langsung oleh Allah sebagai buah dari keimanan dan ketakwaan, bukan diraih melalui perantara benda mati atau pengkultusan kuburan manusia.

2. Penyembahan Kuburan Berkedok Tabarruk di Dunia Syiah

Kesalahan fatal teologi Syiah dimulai ketika mereka menyetarakan kedudukan 12 Imam mereka dengan kedudukan Nabi Muhammad ﷺ, bahkan dalam beberapa hal melebihkannya. Kuburan-kuburan para Imam mereka yang tersebar di Najaf, Karbala, Mashhad, dan Samarra diubah menjadi pusat-pusat peribadatan raksasa yang menandingi kesucian Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Dalam ritual Syiah, bertabarruk di kuburan para Imam dilakukan secara ekstrem:

  • Sujud dan Mengitari Makam: Pengikut Syiah berbondong-bondong merangkak, bersujud di pintu-pintu gerbang makam, dan melakukan tawaf mengelilingi jeruji besi kuburan para Imam sambil menangis histeris.

  • Memohon Hajat kepada Mayit: Alih-alih menjadikan kuburan sebagai pengingat kematian, mereka justru berdoa dan meminta kesembuhan, kelancaran rezeki, hingga keselamatan akhirat langsung kepada Imam yang telah wafat di dalam kubur tersebut.

Tindakan meminta pertolongan (istighatsah) kepada makhluk yang telah mati dengan keyakinan bahwa sang mayit mendengar dan mampu mengabulkan hajat adalah bentuk kesyirikan nyata yang melanggar hak prerogatif Allah SWT.

3. Mitos Kesaktian "Turbah Karbala" (Tanah Karbala)

Salah satu bentuk penyesatan paling nyata dalam ritual tabarruk Syiah adalah pengultusan terhadap Turbah (tanah liat berbentuk lempengan padat yang berasal dari tanah Karbala, tempat terbunuhnya Imam Husain r.a.). Pengikut Syiah mewajibkan diri mereka untuk meletakkan dahi di atas lempengan tanah ini setiap kali melakukan sujud dalam shalat.

Ulama-ulama Syiah memproduksi ribuan hadis palsu (maudhu') demi mempromosikan tabarruk terhadap tanah ini. Di dalam kitab-kitab fikih mereka, diklaim bahwa Turbah Karbala memiliki khasiat gaib, seperti dapat menyembuhkan segala macam penyakit kronis jika ditelan, dapat menolak bala bencana, serta menjamin pelakunya masuk surga tanpa hisab.

Menyandarkan kesembuhan dan keselamatan pada seonggok tanah liat jelas merupakan pembodohan massal berkedok spritual yang merusak logika sehat dan menghancurkan fondasi tawakal seorang Muslim hanya kepada Allah semata.

4. Eksploitasi Finansial dan Manipulasi Emosi Umat

Di balik maraknya ritual tabarruk yang menyesatkan ini, terdapat motif ekonomi dan hegemoni keagamaan yang sangat menguntungkan para elite ulama Syiah (mullah dan ayatullah). Kompleks pemakaman para Imam dikelola secara komersial, di mana umat didorong untuk menyetorkan harta, perhiasan, dan uang tunai ke dalam kotak-kotak makam sebagai bentuk "taqarrub" (pendekatan diri) kepada Imam demi mendapatkan berkah kelimpahan hidup.

Melalui manipulasi emosi dan eksploitasi air mata (meratapi kematian para Imam), para tokoh Syiah sukses mengalihkan kiblat spiritual umat. Umat Islam yang awam dibuat lebih rindu untuk berziarah dan menyetor harta ke Karbala daripada menunaikan ibadah haji ke Baitullah di Makkah, sebuah pergeseran syariat yang sangat keji.

5. Antisipasi Penyusupan Ritual Tabarruk Sesat di Indonesia

Di Indonesia, para misionaris Syiah menggunakan taktik Taqiyyah (berpura-pura) untuk menyusupkan ritual tabarruk sesat ini ke tengah-tengah masyarakat Sunni. Mereka memanfaatkan tradisi ziarah kubur yang umum dilakukan oleh masyarakat Indonesia, lalu secara perlahan memasukkan unsur-unsur ajaran mereka.

Umat Islam di Indonesia wajib meningkatkan kewaspadaan terhadap pola-pola infiltrasi berikut:

Pola Infiltrasi SyiahKemasan dan Modus Penyesatannya
Menyamar dalam Majelis SelawatMereka mengadakan majelis selawat dan duka yang tampak indah, namun di tengah acara mereka mulai menyisipkan ritual meratapi kematian Imam Husain dan membagikan jimat atau tanah yang diklaim membawa berkah dari Ahlul Bait.
Penyalahgunaan Istilah TawasulMereka mengaburkan batasan antara tawasul yang dibolehkan (berdoa kepada Allah dengan perantara amal shalih) dengan istighatsah syirik (memanggil dan meminta langsung kepada kuburan Imam).
Penyebaran Media DigitalMelalui video-video pendek di media sosial, mereka mengemas visualisasi makam-makam megah di Iran dan Irak sebagai destinasi spiritual utama yang penuh berkah, demi mengikis kecintaan pemuda Muslim terhadap tanah suci Makkah dan Madinah.

Kesimpulan

Kesalahan fatal Syiah dalam memahami konsep tabarruk bersumber dari pengkultusan individu (ghuluw) yang telah melampaui batas-batas syariat Islam. Dengan mengubah kuburan menjadi tempat meminta hajat, memutlakkan kesaktian pada sepotong tanah Karbala, dan memutarbalikkan makna mencari berkah, Syiah telah membangun sistem teologi yang merongrong kemurnian Tauhid.

Sebagai umat Islam yang berkomitmen menjaga kemurnian akidah di bumi Nusantara, wajib bagi kita untuk membentengi diri dengan ilmu syar'i yang lurus. Kita harus meyakini dengan sekokoh-kokohnya bahwa berkah, kesembuhan, pertolongan, dan keselamatan hamba hanyalah milik Allah SWT, dan mencarinya wajib melalui jalur keimanan dan ittiba’ kepada Sunnah Rasulullah ﷺ yang murni, bebas dari segala bentuk khurafat dan kesyirikan sekte sektarian.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: