Breaking News
Loading...

Syiah dan Pengkultusan Berlebihan terhadap Para Imam

Syiahindonesia.com - Inti dari ajaran Islam yang murni adalah memurnikan penghambaan dan pengagungan hanya kepada Allah SWT (Tauhidullah), serta menempatkan Rasulullah SAW sebagai penutup para nabi yang ma'shum dalam menyampaikan wahyu. Di dalam Islam, tidak ada ruang bagi pengkultusan individu, karena seluruh manusia selain nabi dan rasul pada hakikatnya adalah makhluk yang tidak luput dari salah dan dosa. Namun, di dalam teologi Syiah Rafidhah, terjadi sebuah penyimpangan akidah yang sangat ekstrem di mana mereka memberikan sifat-situs kedewaan dan pengkultusan yang melampaui batas (Ghuluw) kepada 12 Imam mereka. Pengkultusan ini telah merusak sekat pembatas antara hak Pencipta (Khaliq) dan sifat makhluk.

1. Doktrin Kema'shuman Mutlak yang Menyamai Nabi

Kesalahan fatal pertama dalam pengkultusan Imam versi Syiah adalah keyakinan bahwa 12 Imam mereka bersifat Ma'shum (suci dari segala jenis dosa, kesalahan, lupa, dan lalai) sejak mereka lahir hingga wafat. Di dalam Islam yang murni, sifat 'Ismah (penjagaan dari dosa) hanyalah hak istimewa yang diberikan Allah kepada para Nabi dan Rasul dalam rangka menjaga kemurnian wahyu yang mereka sampaikan.

Dengan memberikan sifat ma'shum mutlak kepada para Imam, Syiah secara otomatis telah menyejajarkan kedudukan para Imam dengan kedudukan nabi. Bahkan, tokoh-tokoh utama mereka secara terang-terangan menuliskan dalam kitab rujukan mereka bahwa kedudukan para Imam melampaui derajat malaikat muqarrabin dan nabi-nabi yang diutus (Anbiya' Mursal). Ketika manusia biasa dikultuskan hingga dianggap mustahil berbuat salah, maka runtuhlah prinsip kritis dalam beragama, dan yang tersisa hanyalah kepatuhan buta.

2. Menisbatkan Ilmu Ghaib dan Pengendalian Alam Semesta

Pengkultusan Syiah terhadap para Imam berlanjut pada ranah tauhid Rububiyah dan Asma' wa Shifat. Dalam kitab-kitab induk mereka, seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini, terdapat bab-bab khusus yang secara ekstrem menyatakan bahwa para Imam mengetahui apa yang telah terjadi di masa lalu dan apa yang akan terjadi di masa depan, serta tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang tersembunyi dari mereka.

Meyakini ada makhluk yang mengetahui ilmu ghaib secara mandiri dan mutlak adalah bentuk kesyirikan yang nyata, karena Allah SWT telah berfirman:

قُلْلَايَعْلَمُمَنْفِيالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضِالْغَيْبَإِلَّااللَّهُ

"Katakanlah (Muhammad): 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah'." (QS. An-Naml: 65).

Lebih jauh lagi, ideologi pemimpin Syiah modern (seperti doktrin Khomeini dalam kitab Al-Hukumah Al-Islamiyyah) menegaskan bahwa para Imam memiliki kedudukan maknawi di mana seluruh atom di alam semesta ini tunduk di bawah kendali dan kekuasaan mereka. Ini adalah bentuk penodaan terhadap kekuasaan mutlak Allah dalam mengatur alam semesta.

3. Praktik Istighatsah dan Penyembahan Makam

Manifestasi paling nyata dari pengkultusan berlebihan ini dapat dilihat dalam praktik ritual harian penganut Syiah. Alih-alih berdoa dan memohon pertolongan langsung kepada Allah saat mengalami kesulitan, mereka dididik untuk melakukan Istighatsah (memohon bantuan) langsung kepada nama-nama para Imam, seperti dengan menggaungkan syiar "Ya Ali Madad" (Wahai Ali, tolonglah aku) atau "Ya Husain".

Mereka juga mengagungkan makam-makam para Imam di Karbala, Najaf, dan Mashhad melebihi keagungan Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Mereka melakukan ritual thawaf di sekeliling kuburan, sujud di ambang pintu makam, dan meyakini bahwa tanah di sekitar kuburan Karbala (Turbah) memiliki khasiat ghaib penyembuh segala penyakit dan wajib digunakan sebagai alas sujud saat shalat. Praktik-praktik mistis-syirik ini jelas menjauhkan umat dari esensi shalat yang seharusnya memurnikan tauhid.

4. Menjadikan Ridha Imam sebagai Penentu Surga dan Neraka

Dalam Islam yang murni, keselamatan di akhirat, pengampunan dosa, dan hak memasukkan hamba ke dalam surga adalah hak prerogatif Allah SWT semata. Namun, akibat pengkultusan yang kronis, Syiah mendoktrinkan bahwa para Imam adalah pemegang kunci surga dan neraka.

Mereka percaya bahwa pada hari kiamat nanti, para Imam-lah yang akan melakukan hisab terhadap amal perbuatan manusia. Barangsiapa yang mencintai dan mengakui keimaman mereka, maka dosa-dosanya akan diampuni secara otomatis walau sebanyak buih di lautan, dan barangsiapa yang menolak keimaman mereka—meskipun ia adalah seorang ahli ibadah yang bertauhid—maka tempatnya adalah neraka jahanam. Doktrin ini menggeser poros keimanan dari yang semula berpusat kepada Allah menjadi berpusat kepada figur manusia.

Perbandingan Kedudukan Manusia: Islam vs Distorsi Syiah

Sifat KedudukanIslam yang Murni (Ahlussunnah)Syiah Rafidhah
Kema'shumanHanya milik para Nabi dan Rasul dalam hal syariat.Milik 12 Imam secara mutlak sepanjang hidup mereka.
Ilmu GhaibHanya milik Allah, Nabi hanya tahu sebatas yang diwahyukan.Dimiliki secara mutlak dan menyeluruh oleh para Imam.
Arah Doa & IbadahMutlak langsung kepada Allah tanpa perantara makhluk.Melegalkan Istighatsah dan memohon hajat di kuburan Imam.
Konsekuensi MenolakMenolak Nabi adalah kekafiran; menolak selain nabi adalah ijtihad.Menolak satu saja dari 12 Imam divonis kafir dan kekal di neraka.

Dampak Pengkultusan bagi Mentalitas Umat

Pengkultusan individu secara berlebihan yang dilakukan oleh sekte Syiah ini membawa dampak yang sangat merusak bagi tatanan berpikir umat Islam:

  1. Lumpuhnya Akal Sehat: Pengikut Syiah kehilangan daya kritis karena mereka diajarkan bahwa apa pun yang dikatakan oleh mullah (yang diklaim sebagai wakil Imam) harus ditelan mentah-mentah tanpa perlu memeriksa dalilnya.

  2. Terjebak dalam Khurafat: Lahirnya ribuan dongeng mistis seputar kesaktian para imam yang tidak masuk akal, yang justru merendahkan citra Islam yang ilmiah di mata dunia.

  3. Benih Radikalisme Sektarian: Karena keselamatan akhirat diukur dari loyalitas kepada Imam, penganut Syiah dengan mudah diprovokasi untuk memusuhi dan mengafirkan mayoritas umat Islam yang tidak menyembah figur pemimpin yang sama dengan mereka.

Kesimpulan

Pengkultusan berlebihan terhadap para Imam adalah bukti paling nyata bahwa ajaran Syiah Rafidhah telah melenceng jauh dari hakikat Islam yang murni. Islam datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Pencipta makhluk. Menempatkan manusia pada derajat ketuhanan, mengklaim mereka tahu hal ghaib, dan memohon doa di kuburan mereka adalah bentuk pengrusakan terhadap fondasi kalimat Laa ilaha illallah. Sebagai Muslim Indonesia yang cerdas, kita harus terus menjaga kemurnian tauhid kita dan menolak segala bentuk paham yang mengemas kesyirikan dengan jargon "mencintai keluarga Nabi."

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: