Breaking News
Loading...

Syiah dan Fitnah terhadap Khalifah Utsman bin Affan

Syiahindonesia.com - Khalifah ketiga Islam, Utsman bin Affan RA, adalah salah satu sahabat terbaik yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW. Beliau bergelar Dzun Nurain (Pemilik Dua Cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah SAW, Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Di masa kepemimpinannya, Islam mengalami ekspansi wilayah yang luar biasa dan Al-Qur'an berhasil dikodifikasi ke dalam satu mushaf standar (Mushaf Utsmani) yang menjaga keaslian Kitabullah hingga hari ini.

Namun, di dalam narasi teologi dan sejarah versi Syiah, sosok Utsman bin Affan RA justru dijadikan sasaran fitnah, caci maki, dan pembunuhan karakter yang keji. Mereka membangun opini seolah-olah beliau adalah seorang pemimpin yang zalim, nepotis, dan merusak syariat. Artikel ini akan membedah dan meluruskan fitnah-fitnah keji tersebut berdasarkan timbangan dalil yang shahih dan fakta sejarah yang jujur.

1. Fitnah Nepotisme dalam Pemerintahan

Salah satu tuduhan klasik yang terus diulang-ulang oleh kelompok Syiah adalah bahwa Utsman bin Affan RA melakukan nepotisme ekstrem dengan hanya menunjuk kerabatnya dari Bani Umayyah untuk menduduki jabatan-jabatan strategis (seperti gubernur) dan memecat para sahabat senior.

Koreksi Fakta Sejarah: Tuduhan ini mengabaikan fakta objektif bahwa para pejabat yang ditunjuk oleh Utsman adalah orang-orang yang memiliki kapasitas, rekam jejak militer, dan kepemimpinan yang mumpuni.

  • Mu'awiyah bin Abi Sufyan, misalnya, sudah ditunjuk menjadi gubernur Syam sejak masa Khalifah Umar bin Khattab RA karena kecakapannya. Utsman hanya melanjutkan ketetapan tersebut.

  • Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh, yang ditunjuk memimpin Mesir, berhasil membuktikan kapasitasnya dengan memimpin ekspansi ke Afrika Utara dan memenangkan pertempuran laut pertama dalam sejarah Islam (Dzatus Shawari).

Ketika ada pejabat dari kerabatnya yang melakukan kesalahan, Utsman tidak segan-segan menindak tegas dan memecat mereka, seperti yang beliau lakukan kepada Al-Walid bin Uqbah (gubernur Kufah) ketika terbukti melanggar hukum syariat. Utsman memimpin dengan prinsip keadilan, bukan atas dasar feodalisme keluarga.

2. Fitnah Menyelewengkan dan Membakar Al-Qur'an

Syiah sering kali memutarbalikkan jasa besar Utsman bin Affan RA dalam menyatukan umat di atas satu bacaan Al-Qur'an. Mereka menuduh Utsman telah membakar naskah-naskah asli Al-Qur'an demi melenyapkan ayat-ayat yang (menurut klaim sepihak Syiah) berisi tentang wasiat kepemimpinan Ali bin Abi Thalib RA.

Fakta Pengumpulan Al-Qur'an: Langkah Utsman membakar lembaran-lembaran primer setelah kodifikasi selesai justru merupakan jasa terbesar yang menyelamatkan Al-Qur'an dari perpecahan umat. Pada masa itu, Islam telah menyebar ke berbagai bangsa, dan perbedaan dialek (lahjah) mulai memicu perdebatan sengit di antara kaum muslimin tentang bacaan mana yang paling benar.

Atas saran Hudzaifah bin Al-Yaman RA dan melalui musyawarah dengan para sahabat senior—termasuk Ali bin Abi Thalib RA—Utsman membentuk tim yang diketuai Zaid bin Tsabit RA untuk menyalin Al-Qur'an ke dalam dialek Quraisy yang standar. Pembakaran naskah lain dilakukan agar tidak ada lagi celah perselisihan di masa depan.

Ali bin Abi Thalib RA sendiri membela tindakan Utsman dengan mengatakan:

"Wahai manusia, bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kalian berlebih-lebihan dalam mencela Utsman dengan menyebutnya sebagai 'pembakar mushaf'. Demi Allah, tidaklah beliau membakar mushaf-mushaf tersebut melainkan atas dasar kesepakatan (musyawarah) dari kami semua para sahabat."

3. Fitnah Menyalahgunakan Baitul Mal (Harta Negara)

Syiah menuduh Utsman bin Affan RA menguras harta Baitul Mal untuk diberikan secara cuma-cuma sebagai hadiah mewah kepada keluarganya, sementara rakyat banyak hidup dalam kesusahan.

Koreksi Karakter Utsman: Tuduhan ini sangat kontradiktif dengan kepribadian Utsman yang terkenal sebagai salah satu konglomerat paling dermawan di jazirah Arab. Jauh sebelum menjabat sebagai Khalifah, Utsman telah menginfakkan mayoritas harta pribadinya untuk kejayaan Islam. Beliau yang membeli sumur Bi'ru Rumat dari seorang Yahudi untuk digratiskan bagi kaum muslimin, dan beliau pula yang membiayai sepertiga pasukan dalam Perang Tabuk (Jaisyul Usrah).

Saat menjadi Khalifah, Utsman justru tidak mengambil satu dirham pun gaji dari Baitul Mal. Beliau mencukupi kebutuhan hidupnya dari sisa kekayaan bisnis pribadinya yang masih berjalan. Adapun hadiah yang beliau berikan kepada kerabatnya berasal dari kantong pribadinya sendiri sebagai bentuk amalan menyambung tali silaturahmi (shilatut rahim), bukan dari uang negara.

4. Peran Ideolog Syiah Pertama dalam Pembunuhan Utsman

Jika kita merunut akar sejarah, gerakan radikal yang memicu demonstrasi massal hingga berujung pada pengepungan rumah dan pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan RA diinisiasi oleh sosok bernama Abdullah bin Saba'.

Sejarah mencatat bahwa Abdullah bin Saba' adalah seorang Yahudi dari Yaman yang berpura-pura masuk Islam demi merusak agama ini dari dalam. Dialah orang pertama yang berkeliling ke kota-kota seperti Mesir, Kufah, dan Basrah untuk menyebarkan fitnah tentang Utsman, sekaligus menjadi orang pertama yang mencetuskan doktrin ekstrem Syiah: bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerima wasiat gaib (Washi) yang berhak menjadi pemimpin, dan Utsman adalah perampas kekuasaan.

Narasi kebencian yang diproduksi oleh Bin Saba' inilah yang meracuni pikiran orang-orang awam hingga mereka tega menumpahkan darah Khalifah yang mulia saat beliau sedang membaca Al-Qur'an. Kebencian Syiah modern terhadap Utsman adalah kelanjutan langsung dari warisan ideologis Abdullah bin Saba' tersebut.

5. Dampak Fatal bagi Akidah dan Ukhuwah

Mencela dan mengafirkan Utsman bin Affan RA memiliki konsekuensi hukum dan akidah yang sangat berat dalam Islam. Allah SWT telah menegaskan keridhaan-Nya kepada para sahabat yang terlibat dalam Bai'atur Ridhwan, di mana Utsman adalah alasan utama mengapa baiat itu dilakukan. Rasulullah SAW juga bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ مَالٌ فَلْيَتَصَدَّقْ بِهِ ، وَمَا عَلَى عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ هَذَا الْيَوْمِ

"...Tidak ada dosa bagi Utsman atas apa yang dia lakukan setelah hari ini (setelah mendanai Perang Tabuk)." (HR. Tirmidzi)

Ketika teologi Syiah mewajibkan pengikutnya untuk melaknat Utsman, mereka sebenarnya sedang mendustakan kesaksian Allah dan Rasul-Nya. Fitnah ini sengaja dipelihara agar umat Islam selalu berada dalam lingkaran dendam sejarah dan terpecah belah dari jamaah kaum muslimin yang umum.

Kesimpulan

Semua tuduhan kelompok Syiah terhadap Khalifah Utsman bin Affan RA adalah fitnah batil yang sengaja didesain untuk meruntuhkan reputasi generasi sahabat. Utsman adalah sosok pemimpin yang adil, dermawan, terpuji, dan berjasa besar dalam menjaga keutuhan teks Al-Qur'an yang kita baca hari ini.

Sebagai umat Islam di Indonesia, kita wajib menjaga lisan kita dari mencela para sahabat Nabi. Menghormati Utsman bin Affan RA adalah bagian dari keimanan kita kepada manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah. Mari kita bentengi diri dari infiltrasi narasi sejarah palsu yang berusaha menjauhkan kita dari kecintaan kepada para pembela awal agama Islam.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: