Syiahindonesia.com - Keimanan kepada takdir (Qada dan Qadar) merupakan rukun iman keenam yang menjadi pilar penopang akidah setiap Muslim. Memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini berada dalam ilmu, kehendak, dan ciptaan Allah SWT adalah inti dari ketundukan seorang hamba. Namun, dalam teologi Syiah, konsep takdir mengalami distorsi yang sangat serius akibat pengaruh kuat filsafat Mu'tazilah (kaum rasionalis ekstrem). Mereka cenderung menolak kemahakuasaan Allah atas perbuatan makhluk dengan dalih menjaga "Keadilan Tuhan". Penyimpangan ini bukan sekadar perdebatan akademis, melainkan sebuah kekeliruan fundamental yang dapat merusak penyerahan diri total seorang Muslim kepada Rabb-nya.
1. Adopsi Paham Mu'tazilah: Menafikan Kehendak Allah
Kesalahan utama Syiah dalam masalah takdir adalah keyakinan bahwa manusia adalah pencipta mutlak bagi perbuatannya sendiri (Khalqul Af’al). Mereka beranggapan bahwa perbuatan manusia tidak ada hubungannya dengan kehendak (Masyi’ah) dan ciptaan Allah. Logika yang mereka gunakan adalah: jika Allah yang menciptakan perbuatan buruk manusia lalu menghukumnya, maka Allah dianggap zalim.
Pandangan ini bertentangan dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berpegang pada firman Allah:
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (QS. Ash-Shaffat: 96).
Dalam Islam yang murni, kita meyakini bahwa Allah menciptakan perbuatan tersebut, sementara manusia memiliki Kasb (usaha) dan pilihan, sehingga manusia tetap bertanggung jawab atas tindakannya tanpa menafikan kemahakuasaan Allah sebagai satu-satunya Pencipta.
2. Doktrin Bada’: Menisbatkan Ketidaktahuan kepada Allah
Penyimpangan paling fatal Syiah terkait takdir adalah doktrin Bada’. Secara harfiah, Bada’ berarti nampak setelah sebelumnya tersembunyi. Syiah meyakini bahwa Allah bisa mengubah keputusan atau takdir-Nya karena munculnya suatu keadaan baru yang sebelumnya "tidak diketahui" oleh Allah, atau Allah baru "berubah pikiran".
Ini adalah penghinaan besar terhadap sifat Ilmu Allah. Menganggap Allah baru mengetahui sesuatu atau berubah keputusan karena adanya fakta baru sama saja dengan menyamakan Allah dengan makhluk yang memiliki keterbatasan dan ketidaktahuan. Allah SWT berfirman:
أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"...Bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 282).
Ilmu Allah meliputi segala sesuatu sejak azali hingga abadi, tidak ada yang baru bagi Allah. Doktrin Bada’ sering digunakan oleh tokoh-tokoh Syiah sebagai "pelarian" ketika ramalan atau janji-janji imam mereka tidak menjadi kenyataan.
3. Menolak Ketetapan Lauhul Mahfuzh
Konsep takdir dalam Islam meyakini bahwa segala sesuatu telah tertulis di Lauhul Mahfuzh sebelum penciptaan alam semesta. Namun, dengan adanya konsep Bada’, Syiah secara praktis meragukan ketetapan yang telah tertulis tersebut. Jika Allah bisa "berubah pikiran", maka apa yang tertulis di Lauhul Mahfuzh menjadi tidak pasti. Hal ini meruntuhkan ketenangan hati seorang mukmin yang seharusnya merasa tentram dengan ketetapan Allah.
4. Mendewakan Akal di Atas Wahyu
Syiah terjebak dalam rasionalisme yang kebablasan. Mereka merasa akal manusia mampu menjangkau hakikat keadilan Allah secara menyeluruh, sehingga mereka berani "mengoreksi" konsep takdir agar sesuai dengan logika keadilan versi mereka. Padahal, takdir adalah rahasia Allah (Sirrullah) yang tidak semuanya bisa dicerna oleh akal yang terbatas.
Ulama salaf mengingatkan bahwa menyelami takdir tanpa bimbingan wahyu hanya akan membawa pada kesesatan. Allah tidak bisa diukur dengan standar logika manusia yang sering kali dipengaruhi oleh hawa nafsu dan keterbatasan data.
5. Dampak Psikologis dan Akidah bagi Pengikutnya
Penyimpangan dalam konsep takdir ini membawa dampak buruk:
Kegoncangan Iman: Pengikut Syiah tidak memiliki sandaran yang kokoh karena menganggap takdir bisa berubah-ubah tergantung "mood" ilahi (menurut versi Bada’).
Kekosongan Tawakal: Karena menganggap manusia adalah pencipta mutlak perbuatannya, rasa tawakal dan ketergantungan kepada Allah menjadi luntur, berganti dengan kesombongan diri.
Membuka Pintu Khurafat: Doktrin Bada’ memudahkan para tokoh agama mereka untuk menipu umat dengan klaim-klaim spiritual yang tidak terbukti.
Kewaspadaan bagi Umat Islam di Indonesia
Di tanah air, paham Syiah sering kali masuk melalui diskusi filsafat dan kalam yang menarik bagi kalangan intelektual muda. Mereka diajak untuk menggugat konsep takdir Sunni dengan alasan "kebebasan manusia". Kita harus waspada karena:
Infiltrasi Ideologi: Di balik bahasa filsafat yang indah, terselubung upaya meragukan kemahakuasaan dan kesempurnaan ilmu Allah.
Standar Ganda: Mereka bicara kebebasan manusia, namun mewajibkan ketaatan mutlak (bahkan membuta) kepada Imam.
Kesimpulan
Penyimpangan Syiah dalam konsep takdir berakar pada pengadopsian paham Mu'tazilah yang ekstrem dan penciptaan doktrin Bada’ yang melecehkan Ilmu Allah. Dengan memutus hubungan antara kehendak Allah dan perbuatan makhluk, serta menganggap Allah bisa mengalami "perubahan pikiran", Syiah telah keluar dari koridor akidah Islam yang murni. Sebagai Muslim yang lurus, kita wajib mengimani takdir dengan penuh keridhaan, meyakini ilmu Allah yang sempurna, dan tetap berusaha maksimal di bawah naungan kehendak-Nya yang mutlak.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: