Syiahindonesia.com - Dalam ajaran Islam yang murni, hubungan antara seorang hamba dengan Sang Pencipta adalah hubungan langsung tanpa sekat kasta atau perantara yang memiliki kuasa mandiri. Namun, dalam doktrin Syiah, konsep mendekatkan diri kepada Allah telah mengalami distorsi yang sangat jauh melalui praktik Tawassul dan Istighatsah yang menyimpang. Di Indonesia, propaganda Syiah sering kali membungkus praktik ini dengan narasi "mencintai Ahlul Bait," padahal jika diteliti secara mendalam, apa yang mereka lakukan telah melampaui batas syariat dan masuk ke dalam jurang kemusyrikan. Memahami letak kesesatan ini sangat penting agar umat Islam tidak terpedaya oleh ritual yang sekilas tampak religius namun justru merusak fondasi Tauhid.
1. Perbedaan Tawassul Syar'i dan Tawassul Syiah
Secara bahasa, Tawassul berarti mengambil sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Islam Sunni mengenal Tawassul yang disyariatkan, yaitu bertawassul dengan asmaul husna, amal shalih, atau doa orang shalih yang masih hidup. Namun, Syiah menjadikan para Imam yang telah wafat sebagai perantara mutlak yang seolah-olah menjadi "pemegang kunci" pintu rahmat Allah.
Mereka meyakini bahwa tanpa menyebut nama para Imam, doa seorang hamba tidak akan pernah sampai kepada Allah. Keyakinan ini menyerupai pola pikir kaum musyrikin jahiliyah yang menjadikan berhala sebagai perantara. Allah SWT membantah logika sesat ini dalam Al-Qur'an:
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." (QS. Az-Zumar: 3).
Ulama Sunni menegaskan bahwa menjadikan makhluk sebagai perantara wajib dalam berdoa adalah bentuk penghinaan terhadap kemurahan Allah yang Maha Mendengar.
2. Istighatsah kepada Imam: Kesyirikan yang Nyata
Kejanggalan yang lebih parah adalah praktik Istighatsah, yaitu memohon pertolongan dalam keadaan darurat kepada selain Allah. Di kalangan penganut Syiah, seruan "Ya Ali Madad" (Wahai Ali, tolonglah aku) atau "Ya Husain" lebih sering terdengar daripada seruan kepada Allah saat mereka tertimpa musibah.
Meminta sesuatu yang hanya mampu dilakukan oleh Allah (seperti menyembuhkan penyakit, memberi rezeki, atau menyelamatkan dari bencana) kepada makhluk yang sudah wafat adalah bentuk syirik besar (Asy-Syirkul Akbar). Allah Ta'ala berfirman:
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah (berdoa) kepada sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat memperkenankan doanya sampai hari kiamat..." (QS. Al-Ahqaf: 5).
3. Keyakinan bahwa Imam Memiliki Kuasa Ilahi
Kesesatan Istighatsah Syiah berakar pada doktrin Wilayah Takwiniyah, yaitu keyakinan bahwa para Imam mengatur alam semesta. Karena mereka menganggap Imam Ali atau Imam Husain memiliki kendali atas atom-atom di alam, maka mereka merasa sah-sah saja meminta bantuan langsung kepada para Imam tersebut.
Bagi mereka, para Imam memiliki pendengaran yang meliputi seluruh dunia dan mampu mengabulkan jutaan permintaan dalam satu waktu. Ini adalah bentuk penyerupaan makhluk dengan sifat-sifat khusus Allah (Tasybih). Dalam akidah Islam, hanya Allah yang Maha Mendengar dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
4. Pelecehan terhadap Esensi Doa sebagai Ibadah
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits shahih:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
"Doa itu adalah ibadah." (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).
Karena doa adalah ibadah, maka memberikannya kepada selain Allah adalah bentuk keberpalingan dari Tauhid. Syiah telah mengubah esensi doa dari komunikasi hamba-Pencipta menjadi ritual pengkultusan manusia. Mereka membangun narasi bahwa Allah "terlalu suci" untuk didatangi langsung, sehingga butuh "protokol" melalui para Imam. Ini adalah pemikiran yang diadopsi dari ajaran Nasrani dan Majusi, bukan dari Islam yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
5. Ritual di Kuburan yang Melampaui Batas
Praktik Istighatsah ini biasanya memuncak di pemakaman para Imam (seperti di Karbala atau Najaf). Di sana, para pengikut Syiah melakukan sujud ke arah kuburan, mencium nisan, dan menangis histeris memohon bantuan kepada penghuni kubur.
Banyak dari mereka yang meyakini bahwa ziarah ke makam Husain dan ber-istighatsah di sana memiliki pahala yang lebih besar daripada ibadah haji ke Baitullah. Kesesatan ini secara sistematis menjauhkan umat dari kiblat yang benar dan menggantinya dengan kuburan-kuburan yang dikeramatkan secara berlebihan.
6. Dampak bagi Akidah Umat di Indonesia
Penyebaran konsep Tawassul dan Istighatsah ala Syiah di tanah air sering kali masuk melalui kemasan "pembacaan shalawat" atau "doa bersama" yang disisipi tawasul kepada 12 Imam. Masyarakat yang awam mungkin merasa hal ini biasa, namun dampaknya sangat fatal:
Luntur-nya Kemurnian Tauhid: Hati lebih terikat kepada makhluk daripada kepada Allah.
Terbukanya Pintu Khurafat: Munculnya keyakinan pada benda-benda atau tempat keramat yang dikaitkan dengan para Imam.
Hilangnya Keikhlasan: Ibadah dilakukan demi mengharap syafaat Imam secara salah, bukan mengharap ridha Allah semata.
Kesimpulan
Konsep Tawassul dan Istighatsah dalam Syiah bukanlah sekadar masalah perbedaan teknis berdoa, melainkan penyimpangan akidah yang sangat mendasar. Dengan menjadikan para Imam sebagai perantara wajib dan tempat meminta pertolongan, Syiah telah jatuh ke dalam praktik yang diperangi oleh para Nabi, yaitu kesyirikan. Sebagai umat Islam yang berpegang teguh pada prinsip Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan), kita harus menjauhi ritual-ritual tersebut dan kembali kepada cara berdoa yang diajarkan Rasulullah ﷺ, yaitu langsung memohon kepada Allah SWT tanpa perantara makhluk apa pun.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: