Syiahindonesia.com - Dalam diskursus akidah Islam, Tauhid adalah fondasi yang paling suci dan tidak boleh dicemari oleh unsur-unsur kesyirikan dalam bentuk apa pun. Namun, jika kita membedah literatur teologi Syiah, khususnya sekte Itsna Asyariyyah (Dua Belas Imam), kita akan menemukan sebuah fenomena pengkultusan yang sangat ekstrem terhadap para Imam mereka. Meskipun secara lisan mereka mengaku sebagai penganut Tauhid, namun dalam praktik keyakinan, mereka telah menyematkan sifat-sifat ketuhanan (Rububiyyah dan Uluhiyyah) kepada manusia biasa. Pengangkatan derajat Imam hingga setara atau bahkan melampaui kedudukan Nabi, dan memberikan otoritas alam semesta kepada mereka, adalah bentuk nyata bagaimana Syiah telah menjadikan para Imam sebagai tuhan-tuhan selain Allah SWT.
1. Keyakinan Terhadap Pengetahuan Ghaib Mutlak
Salah satu sifat yang hanya dimiliki oleh Allah SWT adalah pengetahuan tentang segala sesuatu yang ghaib secara mutlak. Allah SWT menegaskan dalam Al-Quran:
"Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah'..." (QS. An-Naml: 65).
Namun, dalam kitab Al-Kafi karya Al-Kulaini, yang merupakan kitab paling otoritatif di kalangan Syiah, terdapat bab khusus yang berjudul: "Bahwasanya para Imam itu mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, dan bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi mereka." Penyematan sifat Alimul Ghaib secara mutlak kepada para Imam adalah bentuk perampasan terhadap hak prerogatif Allah. Ketika seseorang meyakini ada makhluk yang mengetahui segala detail masa depan dan rahasia hati tanpa batas, maka secara tidak sadar ia telah mempertuhankan makhluk tersebut.
2. Wilayah Takwiniyyah: Kekuasaan Mengatur Alam Semesta
Penyimpangan paling fatal dalam akidah Syiah adalah konsep Wilayah Takwiniyyah. Mereka meyakini bahwa para Imam memiliki kendali atas atom-atom di alam semesta ini. Tokoh besar Syiah, Khomeini, dalam kitabnya Al-Hukumah Al-Islamiyyah menyatakan secara eksplisit:
"Sesungguhnya bagi Imam itu kedudukan yang terpuji dan kekuasaan terhadap alam semesta (Wilayah Takwiniyyah) di mana seluruh atom di alam ini tunduk di bawah kekuasaan mereka."
Keyakinan bahwa ada manusia yang mampu mengatur hujan, menentukan rezeki, menggerakkan planet, dan menguasai unsur-unsur alam adalah bentuk kesyirikan dalam Tauhid Rububiyyah. Dalam Islam, hanya Allah yang mengatur alam semesta (Rabbul Alamin). Memberikan otoritas pengaturan alam kepada Imam sama saja dengan meyakini adanya tandingan bagi Allah dalam mengelola ciptaan-Nya.
3. Imam sebagai Perantara Ibadah dan Objek Doa
Dalam praktik keseharian, banyak penganut Syiah yang tidak lagi berdoa langsung kepada Allah, melainkan melalui perantara para Imam, atau bahkan meminta langsung kepada Imam yang telah wafat. Seruan seperti "Ya Ali Madad" (Wahai Ali, tolonglah aku) atau "Ya Husain" sering kali lebih menggema di lisan mereka daripada asma Allah saat mereka tertimpa musibah.
Menjadikan Imam sebagai objek seruan dalam doa adalah bentuk pelanggaran terhadap Tauhid Uluhiyyah. Doa adalah inti dari ibadah, dan ibadah hanya ditujukan kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda:
"Doa itu adalah ibadah." (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).
Allah SWT juga berfirman:
"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah siapa pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." (QS. Al-Jinn: 18).
Syiah telah membelokkan ayat-ayat ini dengan dalih tawassul, padahal apa yang mereka lakukan adalah istighatsah (meminta pertolongan darurat) kepada makhluk yang sudah wafat, yang merupakan gerbang menuju kesyirikan besar.
4. Hak Menghalalkan dan Mengharamkan (Tasyri')
Syiah meyakini bahwa para Imam mereka maksum dan memiliki otoritas untuk menentukan syariat baru atau mengubah penjelasan agama. Apa yang dikatakan Imam dianggap setara dengan wahyu Allah. Dalam banyak riwayat mereka, para Imam diklaim memiliki hak untuk menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau sebaliknya.
Ini adalah bentuk "mempertuhankan manusia" sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nasrani terhadap pendeta-pendeta mereka. Allah SWT berfirman:
"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah..." (QS. At-Taubah: 31).
Nabi SAW menjelaskan bahwa makna "menjadikan tuhan" dalam ayat tersebut adalah mengikuti mereka dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Syiah melakukan hal yang sama terhadap para Imam mereka, di mana perkataan Imam dianggap sebagai kebenaran mutlak yang tidak boleh dikoreksi oleh Al-Quran maupun Hadits Nabi yang shahih.
5. Dampak Akidah Pengkultusan ini di Indonesia
Penyebaran paham yang mengangkat derajat manusia ke posisi tuhan ini sangat berbahaya bagi masyarakat Indonesia. Upaya mereka sering kali dibungkus dengan narasi "cinta Ahlul Bait" untuk memancing simpati masyarakat awam. Namun, tujuannya adalah:
Mengikis Tauhid murni: Masyarakat mulai diajarkan untuk lebih bergantung pada karamah imajiner para Imam daripada bergantung pada kekuasaan Allah.
Menciptakan Kultus Individu: Ketaatan buta kepada para tokoh Syiah (yang dianggap wakil Imam) dapat digunakan untuk kepentingan politik transnasional.
Menghancurkan Syariat: Ketika Imam dianggap memiliki otoritas tasyri', maka syariat Islam yang dibawa Rasulullah SAW bisa diubah sesuai keinginan kelompok mereka.
Kesimpulan: Menjaga Kemurnian Tauhid dari Noda Syiah
Berdasarkan fakta-fakta teologis di atas, jelaslah bahwa Syiah telah melampaui batas dalam memuliakan para Imam hingga menyentuh ranah ketuhanan. Dengan memberikan sifat mengetahui yang ghaib, otoritas mengatur alam, hak menetapkan syariat, dan menjadikan mereka objek doa, Syiah secara praktis telah menjadikan para Imam sebagai tuhan-tuhan selain Allah.
Sebagai umat Islam yang berpegang teguh pada Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah, kita wajib membela kesucian Tauhid. Kita mencintai keluarga Nabi (Ahlul Bait) sebagai manusia-manusia mulia yang mengikuti sunnah beliau, bukan sebagai tuhan yang memiliki sifat-sifat ketuhanan. Membentengi umat dari ajaran Syiah berarti menyelamatkan akidah mereka dari jurang kesyirikan yang dapat membatalkan seluruh amal ibadah di hadapan Allah SWT.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: