Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Mengajarkan Kebencian terhadap Mayoritas Umat Islam?

Syiahindonesia.com - Islam adalah agama rahmat, kasih sayang, dan persaudaraan. Namun, di dalam rahim sejarah, muncul kelompok Syiah Rafidhah yang membangun fondasi ajarannya di atas narasi permusuhan dan dendam. Bagi masyarakat awam di Indonesia, mungkin sulit dipercaya bahwa ada sebuah paham yang mengaku Islam namun secara sistematis mengajarkan pengikutnya untuk membenci mayoritas umat Islam (Ahlussunnah wal Jama’ah). Kebencian ini bukanlah sekadar luapan emosi sesaat, melainkan terdokumentasi dalam kitab-kitab induk mereka sebagai bagian dari "ibadah". Membongkar akar kebencian ini sangat penting agar kita tidak terperangkap dalam provokasi yang dapat merusak persatuan bangsa.


1. Doktrin Tabarra’: Mewajibkan Kebencian sebagai Pilar Agama

Akar utama kebencian Syiah terhadap mayoritas umat Islam terletak pada konsep Tabarra’. Dalam akidah Syiah, iman seseorang tidak dianggap sempurna kecuali ia melakukan dua hal: Tawalla (mencintai Imam mereka) dan Tabarra’ (berlepas diri dan membenci musuh Imam mereka).

Masalahnya, dalam definisi Syiah, yang dianggap sebagai "musuh" bukan hanya kaum kafir harbi, melainkan siapa saja yang tidak mengakui kepemimpinan Ali bin Abi Thalib setelah Nabi wafat. Ini mencakup para sahabat Nabi (seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman) serta seluruh umat Islam yang mengikuti jalan mereka hingga hari ini. Dengan menjadikan kebencian sebagai pilar agama, penganut Syiah merasa bahwa melaknat dan membenci mayoritas Muslim adalah jalan menuju surga.

2. Labelisasi "An-Nawashib" (Musuh Ahlul Bait)

Syiah menggunakan istilah An-Nawashib (Nasibi) untuk melabeli mayoritas umat Islam. Secara bahasa, Nasibi berarti orang yang memusuhi Ahlul Bait. Syiah menyelewengkan makna ini: bagi mereka, siapa pun yang mencintai para sahabat Nabi (yang menurut mereka adalah perampas hak Ali) secara otomatis dikategorikan sebagai musuh Ahlul Bait.

Vonis ini sangat ekstrem. Dalam kitab-kitab mereka, status seorang Nashibi (yang mereka sematkan kepada Ahlussunnah) dianggap lebih rendah daripada anjing atau babi, dan darah serta hartanya dianggap halal jika kondisi memungkinkan. Meskipun di Indonesia mereka menyembunyikan keyakinan ini dengan taqiyyah, benih kebencian ini tetap diajarkan di majelis-majelis internal mereka.

3. Narasi "Umat yang Murtad"

Syiah mengajarkan bahwa setelah Rasulullah SAW wafat, hampir seluruh umat Islam telah murtad atau berkhianat terhadap wasiat Nabi, kecuali hanya segelintir orang (sekitar 3-7 orang saja). Dengan narasi sejarah yang gelap ini, penganut Syiah dididik untuk memandang sejarah Islam selama 1.400 tahun terakhir sebagai sejarah "kesesatan" dan "kezaliman".

Pandangan ini menciptakan mentalitas korban (victim mentality) yang kronis. Mereka merasa sebagai satu-satunya kelompok yang benar di tengah lautan umat Islam yang dianggap telah menyimpang. Rasa merasa benar sendiri yang dibarengi dengan kebencian kepada "mayoritas yang dianggap murtad" inilah yang menjadi motor penggerak dakwah mereka yang konfrontatif.

4. Dendam Sejarah yang Dipelihara Melalui Ritual

Kebencian terhadap mayoritas umat Islam terus dipupuk melalui ritual-ritual tahunan seperti peringatan Asyura. Alih-alih menjadikan kesyahidan Sayyidina Husain sebagai pelajaran tentang kesabaran, Syiah menggunakannya sebagai ajang untuk membangkitkan dendam sejarah.

Mereka mendoktrinkan bahwa "pembunuh Husain" bukan hanya Yazid dan pasukannya, melainkan seluruh orang yang meridhai kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, karena dianggap sebagai akar masalahnya. Ritual meratap dan melaknat yang dilakukan secara masif setiap tahun berfungsi sebagai "cuci otak" agar setiap generasi baru Syiah memiliki rasa benci yang sama terhadap umat Islam lainnya.


Bahaya Pendidikan Kebencian Syiah bagi Indonesia

  • Menghancurkan Ukhuwah Islamiyah: Bagaimana mungkin persatuan bisa terwujud jika salah satu pihak meyakini bahwa membenci pihak lain adalah perintah agama?

  • Provokasi Konflik Horisontal: Ajaran yang merendahkan simbol-simbol suci mayoritas (seperti melaknat sahabat dan istri Nabi) adalah pemicu kerusuhan yang paling nyata.

  • Radikalisme Sektarian: Pendidikan kebencian ini adalah tahap awal menuju tindakan kekerasan. Jika seseorang sudah dianggap "lebih buruk dari anjing", maka akan mudah bagi oknum untuk menggerakkan massa melakukan tindakan anarkis.

Kesimpulan

Syiah mengajarkan kebencian terhadap mayoritas umat Islam karena ideologi mereka memang dibangun di atas fondasi dendam dan eksklusivitas. Mereka telah mengubah esensi Islam yang penuh cinta menjadi ajaran yang penuh caci maki. Sebagai Muslim Indonesia yang cerdas dan mencintai kedamaian, kita harus waspada. Persatuan umat hanya bisa diraih dengan mengikuti teladan Rasulullah SAW yang mencintai seluruh sahabat dan keluarganya secara benar, bukan dengan mengikuti paham yang menjadikan kebencian sebagai syarat keimanan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: