Syiahindonesia.com - Dalam Islam, kitab-kitab ulama berfungsi sebagai jembatan untuk memahami wahyu Allah dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Namun, dalam dunia Syiah, literatur-literatur primer mereka justru menjadi sumber utama penyesatan yang menjauhkan umat dari kebenaran. Melalui kitab-kitab yang ditulis oleh tokoh-tokoh otoritatif mereka, Syiah menyebarkan doktrin yang merusak akidah, melecehkan martabat para sahabat, hingga meragukan kesucian Al-Qur'an. Memahami isi dan metodologi kitab-kitab ini sangat penting bagi umat Islam, khususnya di Indonesia, agar tidak tertipu oleh sampul luar yang tampak religius namun berisi racun pemikiran yang sangat berbahaya.
1. Menanamkan Doktrin Pengkafiran Sahabat Nabi
Kitab-kitab primer Syiah seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini (yang kedudukannya bagi Syiah setara dengan Shahih Bukhari bagi Sunni) dipenuhi dengan riwayat-riwayat palsu yang menyatakan bahwa para sahabat Nabi telah murtad setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, kecuali hanya segelintir orang saja.
Dengan membaca kitab-kitab ini, penganut Syiah dididik untuk membenci sosok-sosok mulia seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Ini adalah upaya penghancuran pilar Islam, karena jika para pembawa risalah dianggap kafir, maka seluruh ajaran yang mereka bawa akan dianggap cacat. Ini adalah cara sistematis mereka untuk memutus hubungan umat dengan generasi terbaik Islam.
2. Memasukkan Narasi "Tahrif" (Perubahan) Al-Qur'an
Kesesatan paling fatal ditemukan dalam kitab-kitab seperti Fashlul Khitab fi Istsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab karya An-Nuri al-Thabrisi. Dalam kitab tersebut, dikumpulkan ribuan riwayat yang diklaim menunjukkan bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam saat ini tidak lengkap dan telah diubah oleh para sahabat.
Meskipun secara lahiriah (Taqiyyah) ulama Syiah sekarang mengaku beriman pada Al-Qur'an yang sama, keberadaan kitab-kitab rujukan yang melegalkan doktrin Tahrif tetap menjadi landasan ideologis tersembunyi mereka. Ini adalah penyesatan tingkat tinggi yang merongrong keyakinan umat terhadap kebenaran firman Allah SWT.
3. Pengkultusan Imam di Atas Derajat Kenabian
Dalam kitab-kitab mereka, terdapat bab-bab khusus yang menempatkan para Imam pada posisi ketuhanan atau setidaknya di atas para Nabi dan Rasul. Ulama Syiah, termasuk Khomeini dalam kitabnya Al-Hukumatul Islamiyyah, menyatakan bahwa:
"Sesungguhnya Imam memiliki kedudukan yang terpuji dan derajat yang tinggi, serta kekuasaan atas alam semesta yang tunduk kepada unsur-unsurnya, di mana tidak ada malaikat muqarrab maupun Nabi yang diutus dapat mencapainya."
Doktrin ini jelas-jelas merupakan bentuk kesyirikan dalam aspek Rububiyah dan Uluhiyah, karena memberikan hak-hak prerogatif Allah dan keutamaan mutlak kepada manusia biasa.
4. Legalisasi Kebohongan Melalui Doktrin Taqiyyah
Kitab-kitab Syiah mengajarkan bahwa berbohong demi menutupi akidah (Taqiyyah) adalah kewajiban yang sangat besar pahalanya. Mereka mencantumkan riwayat palsu yang menyebutkan bahwa meninggalkan Taqiyyah sama dengan meninggalkan shalat.
Penyimpangan ini menyesatkan umat karena menghilangkan nilai kejujuran dalam beragama. Akibatnya, sulit bagi masyarakat awam untuk mendeteksi kesesatan mereka, karena apa yang mereka sampaikan di depan publik sering kali berbeda dengan apa yang tertulis dalam kitab-kitab rujukan internal mereka.
5. Menggunakan Hadits-Hadits Maudhu’ (Palsu)
Metodologi penulisan kitab Syiah tidak mengenal ilmu Jarh wa Ta’dil (penilaian kredibilitas perawi) yang ketat sebagaimana dalam Islam Sunni. Mereka lebih banyak mencantumkan riwayat-riwayat berdasarkan mimpi, bisikan gaib, atau jalur periwayatan dari orang-orang yang dikenal sebagai pendusta dan ekstremis (Ghuluw).
Dengan menyandarkan ajaran mereka pada hadits-hadits palsu yang dinisbatkan kepada Ahlul Bait, mereka berhasil menyesatkan orang-orang yang memiliki kecintaan tulus kepada keluarga Nabi, namun tidak memiliki bekal ilmu hadits yang memadai untuk menyaring kebenaran.
6. Dampak bagi Umat Islam Indonesia
Masuknya terjemahan kitab-kitab Syiah ke Indonesia secara besar-besaran telah menimbulkan berbagai kerancuan:
Melemahkan Akidah: Masyarakat diajak meragukan keadilan sahabat dan kesempurnaan syariat.
Provokasi Sektarian: Narasi-narasi dalam kitab mereka sering kali memicu kebencian terhadap mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah).
Kebingungan Intelektual: Penggunaan istilah-istilah filosofis yang rumit dalam kitab mereka sering kali membuat pemuda Muslim merasa bahwa ajaran ini lebih "intelek", padahal isinya penuh dengan khurafat.
Kesimpulan
Kitab-kitab Syiah adalah instrumen utama dalam menyebarkan kesesatan mereka. Dengan membungkus penghinaan terhadap sahabat, peraguan terhadap Al-Qur'an, dan pengkultusan imam dalam jubah literatur keagamaan, mereka berusaha mengaburkan batasan antara yang haq dan yang bathil. Sebagai umat Islam yang lurus, kita harus membentengi diri dengan mempelajari kitab-kitab ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang terpercaya dan waspada terhadap setiap literatur yang mencoba merongrong kemurnian akidah dan kesucian Al-Qur'an serta Sunnah Nabi ﷺ.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: