Syiahindonesia.com - Pertanyaan mengenai posisi Syiah dalam kerangka Islam sering kali menjadi diskursus yang mendalam bagi para penuntut ilmu dan masyarakat awam. Bagi mereka yang memegang teguh prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Islam yang murni adalah Islam yang bersumber langsung dari Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi ﷺ. Ketika ajaran Syiah dihadapkan pada timbangan wahyu dan tradisi kenabian yang otentik, ditemukan berbagai kontradiksi fundamental yang membuat ajaran ini tidak dapat diterima sebagai bagian dari Islam yang murni. Ketidaksesuaian ini mencakup ranah akidah, syariat, hingga akhlak, yang jika dibiarkan dapat merusak tatanan agama yang telah sempurna.
1. Perombakan Fondasi Rukun Iman
Islam yang murni berdiri di atas enam rukun iman yang bersifat tetap. Syiah, di sisi lain, memasukkan doktrin Imamah (kepemimpinan 12 Imam) sebagai rukun iman yang paling krusial. Mereka meyakini bahwa mengimani Imamah adalah syarat sahnya iman seseorang.
Penambahan rukun iman ini dianggap sebagai bid’ah akidah yang paling besar. Jika seseorang diwajibkan mengimani sesuatu yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an sebagai rukun iman, maka hal itu merupakan upaya mengubah agama. Allah SWT berfirman:
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Ali Imran: 85).
Ulama Sunni menegaskan bahwa Islam yang murni tidak mengenal kasta "Imam" yang memiliki otoritas ilahi setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.
2. Meragukan Kesucian dan Keaslian Al-Qur'an
Salah satu alasan terkuat mengapa Syiah ditolak dalam Islam yang murni adalah adanya doktrin Tahrif (perubahan Al-Qur'an) dalam kitab-kitab otoritas mereka seperti Al-Kafi. Meskipun secara lisan (Taqiyyah) mereka mengaku menggunakan Al-Qur'an yang sama, namun rujukan utama mereka tetap mencantumkan riwayat bahwa Al-Qur'an yang ada sekarang telah dikurangi oleh para sahabat.
Islam yang murni menjunjung tinggi keyakinan bahwa Al-Qur'an dijaga langsung oleh Allah dari segala bentuk intervensi manusia. Meragukan satu huruf saja dalam Al-Qur'an dapat membatalkan keislaman seseorang, apalagi meyakini adanya "Mushaf Fatimah" yang diklaim tiga kali lebih besar dari Al-Qur'an saat ini.
3. Penghinaan terhadap Mata Rantai Risalah (Para Sahabat)
Islam yang murni sampai kepada kita melalui jalur para sahabat Nabi ﷺ. Mereka adalah murid-murid langsung Rasulullah yang adil dan terpercaya. Syiah justru membangun agamanya di atas kebencian, caci maki, dan pengkafiran terhadap mayoritas sahabat, termasuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
Tanpa para sahabat, kita tidak akan memiliki Al-Qur'an dan Hadits yang terkodifikasi. Dengan menghancurkan reputasi sahabat, Syiah secara otomatis meruntuhkan kredibilitas Islam itu sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka." (HR. Bukhari dan Muslim).
4. Pengkultusan Makhluk yang Menjurus pada Syirik
Syiah memberikan sifat-sifat ketuhanan kepada para Imam mereka, seperti sifat Ma’shum (suci dari dosa dan salah), mengetahui ilmu ghaib secara mutlak, serta memiliki kendali atas alam semesta (Wilayah Takwiniyah). Praktik memohon bantuan langsung kepada Imam yang telah wafat (Istighatsah) juga menjadi hal lumrah dalam ajaran mereka.
Islam yang murni adalah agama Tauhid yang memurnikan ibadah hanya kepada Allah SWT. Menyejajarkan kedudukan manusia dengan Pencipta, atau memberikan hak-hak prerogatif Allah kepada makhluk, adalah kesesatan nyata yang tidak bisa ditoleransi.
5. Legalisasi Kebohongan (Taqiyyah) sebagai Ibadah
Dalam Islam yang murni, kejujuran adalah identitas utama seorang Muslim. Sebaliknya, Syiah menjadikan Taqiyyah (berbohong demi melindungi akidah) sebagai kewajiban agama. Mereka mengeklaim bahwa sembilan per sepuluh bagian agama adalah Taqiyyah.
Hal ini menyebabkan ajaran Syiah menjadi sangat tertutup dan penuh tipu daya. Seorang Muslim yang murni tidak mungkin menjadikan kebohongan sebagai ritual harian. Karakteristik ini lebih menyerupai sifat kemunafikan yang sangat dikecam dalam Al-Qur'an.
6. Syariat yang Menyimpang (Nikah Mut'ah)
Islam datang untuk menjaga kehormatan wanita dan nasab manusia. Syiah melegalkan Nikah Mut'ah (kawin kontrak), yang dalam pandangan Sunni tidak lebih dari prostitusi berbalut agama. Praktik ini telah diharamkan oleh Rasulullah ﷺ selamanya, namun Syiah tetap mempertahankannya sebagai bagian dari syariat mereka. Hal ini jelas merusak tatanan sosial dan moralitas umat Islam.
7. Ritual yang Menyiksa Diri dan Khurafat
Ritual menyiksa diri pada hari Asyura dengan melukai badan hingga berdarah-darah adalah pemandangan yang lazim dalam dunia Syiah. Islam yang murni melarang tindakan menyakiti diri sendiri dan berlebihan dalam bersedih (ratapan/niahah). Islam adalah agama yang moderat (wasathiyah), bukan agama yang dipenuhi dengan khurafat dan ritual yang tidak masuk akal.
Kesimpulan bagi Masyarakat Indonesia
Penolakan terhadap Syiah di Indonesia dan dunia Islam secara umum didasarkan pada keinginan untuk menjaga kemurnian wahyu ilahi. Syiah tidak dapat diterima karena mereka telah menciptakan sistem kepercayaan baru yang bertolak belakang dengan Tauhid, menghina para pahlawan Islam (sahabat), dan menghalalkan cara-cara yang dilarang oleh Nabi Muhammad ﷺ. Sebagai umat Islam yang mencintai kebenaran, kita harus tetap waspada dan membentengi diri dengan ilmu agar tidak terjerumus ke dalam aliran yang mencoba mengaburkan batasan antara yang haq dan yang bathil. Islam yang murni adalah Islam yang mempersatukan umat di atas kebenaran, bukan di atas kebencian sejarah dan pengkultusan manusia.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: