Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Menolak Abu Bakar, Umar, dan Utsman?


Syiahindonesia.com -
Salah satu titik perbedaan paling tajam dan menyakitkan dalam sejarah Islam adalah sikap kelompok Syiah terhadap tiga Khalifah pertama: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhum. Bagi mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), ketiga sosok ini adalah pilar-pilar utama dakwah Islam yang telah dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW. Namun, dalam konstruksi teologi Syiah, mereka dianggap sebagai perampas hak kepemimpinan (Khilafah) yang seharusnya menjadi milik Ali bin Abi Thalib. Penolakan ini bukan sekadar masalah perbedaan pilihan politik masa lalu, melainkan telah menjadi doktrin akidah yang sangat fundamental dalam ajaran mereka. Memahami akar dari penolakan ini penting agar kita dapat membela kehormatan para Sahabat Nabi dari fitnah yang tidak berdasar.


Dasar Doktrin Penolakan: Konsep Washiyyah

Syiah membangun keyakinan bahwa kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW bukanlah urusan musyawarah, melainkan urusan wahyu. Mereka mengklaim bahwa Rasulullah SAW telah meninggalkan Washiyyah (wasiat) eksplisit yang menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya.

Berdasarkan asumsi ini, mereka memandang:

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq: Dianggap sebagai orang yang pertama kali "merebut" hak Ali di Saqifah Bani Sa'idah.

  • Umar bin Khattab: Dianggap sebagai arsitek di balik terpilihnya Abu Bakar dan penindas keluarga Nabi.

  • Utsman bin Affan: Dianggap melanjutkan "kezaliman" dua khalifah sebelumnya.

Pandangan ini sangat bertentangan dengan firman Allah SWT yang memuji para Sahabat yang berbaiat di bawah pohon (Baiatur Ridwan), di mana Abu Bakar, Umar, dan Utsman ada di dalamnya:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon..." (QS. Al-Fath: 18).

Jika Allah sudah menyatakan rida-Nya kepada mereka, lantas atas dasar apa manusia setelahnya berani mencela dan menolak mereka?


Dampak Penolakan Sahabat terhadap Validitas Syariat

Penolakan Syiah terhadap tiga Khalifah ini membawa konsekuensi yang sangat merusak bagi struktur agama Islam:

1. Meragukan Kemurnian Al-Qur'an

Karena Al-Qur'an dikumpulkan dan dibukukan pada masa Abu Bakar dan disempurnakan pada masa Utsman, maka dengan menolak integritas mereka, Syiah secara otomatis meragukan kitab suci yang ada di tangan kita hari ini. Inilah awal munculnya doktrin Tahrif (perubahan Al-Qur'an) di kalangan mereka.

2. Gugurnya Ribuan Hadits Nabi

Mayoritas hadits Nabi SAW diriwayatkan melalui jalur para Sahabat, termasuk Aisyah binti Abu Bakar (istri Nabi). Dengan memberikan stigma negatif kepada Abu Bakar dan Umar, Syiah menolak ribuan hadits shahih yang menjadi panduan hidup umat Islam. Mereka hanya menerima riwayat yang sesuai dengan selera ideologi mereka.

3. Membangun Akidah di Atas Kebencian

Dalam banyak literatur Syiah, terdapat doa-doa khusus yang berisi laknat kepada Abu Bakar dan Umar (yang mereka sebut secara simbolis sebagai "Dua Berhala Quraisy"). Hal ini sangat jauh dari akhlak Islam yang diajarkan Rasulullah SAW:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي ، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

"Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku! Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (satu genggam) infak salah seorang dari mereka, tidak pula setengahnya." (HR. Bukhari & Muslim).


Kesesatan Logika Syiah: Mengapa Ali Membaiat Mereka?

Satu pertanyaan besar yang tidak bisa dijawab secara logis oleh doktrin Syiah adalah: Jika benar Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah perampas hak, mengapa Ali bin Abi Thalib membaiat mereka dan bekerja sama dengan mereka?

Syiah menjawabnya dengan doktrin Taqiyyah (berpura-pura). Namun, jawaban ini justru menghina Ali bin Abi Thalib. Menggambarkan sosok "Singa Allah" yang pemberani sebagai orang yang takut dan bermuka dua selama puluhan tahun demi urusan duniawi adalah pelecehan terhadap karakter Ali yang mulia. Ali membaiat mereka karena beliau tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang paling pantas memimpin umat setelah Nabi.


Pentingnya Membentengi Akidah di Indonesia

Di Indonesia, ajaran yang merendahkan Sahabat ini seringkali disembunyikan dalam kemasan "cinta Ahlul Bait". Masyarakat diajak untuk mencintai Ali, namun secara perlahan disisipi kebencian kepada Abu Bakar dan Umar. Umat Islam harus waspada: Tidak ada cinta kepada keluarga Nabi (Ahlul Bait) di dalam hati yang membenci Sahabat Nabi. Keduanya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Langkah-langkah yang harus diambil:

  • Edukasi Generasi Muda: Ajarkan keutamaan para Sahabat (Manaqib) sejak dini di madrasah dan rumah.

  • Waspada Literatur: Periksa buku-buku agama yang beredar, pastikan tidak mengandung narasi yang menyudutkan Khulafaur Rasyidin.

  • Persatuan Ahlus Sunnah: Menguatkan pemahaman bahwa membela kehormatan Sahabat adalah bagian dari menjaga keutuhan agama.

Penutup

Menolak Abu Bakar, Umar, dan Utsman bukan hanya masalah sejarah, melainkan bentuk pembangkangan terhadap keridaan Allah yang telah termaktub dalam Al-Qur'an. Mencintai mereka adalah ibadah, dan mengikuti jejak mereka adalah keselamatan. Semoga Allah SWT menjauhkan bangsa Indonesia dari ajaran-ajaran yang membangun fondasinya di atas cacian dan kebencian terhadap generasi terbaik umat ini.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: