Syiahindonesia.com - Sejarah mencatat bahwa dalam menyebarkan pengaruhnya, kelompok Syiah tidak selalu menggunakan jalur konfrontasi terbuka. Sebaliknya, mereka sering kali menggunakan metode infiltrasi yang sangat halus, sistematis, dan terencana untuk masuk ke jantung dunia Islam yang mayoritas berakidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di Indonesia, fenomena penyusupan ini menjadi perhatian serius para ulama karena strategi yang digunakan sering kali tidak disadari oleh masyarakat awam. Dengan membungkus doktrin mereka dalam kemasan-kemasan yang tampak islami, humanis, dan inklusif, mereka berusaha menggeser paradigma akidah umat secara perlahan. Artikel ini akan membedah berbagai pintu masuk dan modus operandi yang digunakan untuk menyusupkan ajaran Syiah ke tengah-tengah umat Islam.
1. Strategi Taqiyyah: Penyamaran Identitas
Pintu masuk utama dalam setiap upaya penyusupan adalah Taqiyyah. Dalam doktrin Syiah, menyembunyikan identitas asli di hadapan mayoritas bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban agama.
Modus Operandi:
Menghindari Label "Syiah": Mereka jarang memperkenalkan diri sebagai penganut Syiah di awal perkenalan. Mereka lebih suka menggunakan istilah yang lebih "aman" seperti "Pecinta Ahlul Bait", "Mazhab Ja'fari", atau sekadar "Islam yang Rasional".
Shalat Berjamaah di Masjid Sunni: Untuk menghilangkan kecurigaan, mereka sering kali ikut shalat berjamaah di masjid-masjid Ahlus Sunnah dengan mengikuti tata cara sunni secara lahiriah, padahal di dalam hati mereka menyimpan keyakinan yang berbeda.
2. Infiltrasi Melalui Jalur Pendidikan dan Beasiswa
Dunia pendidikan merupakan sasaran empuk karena di sanalah karakter dan pemikiran generasi muda dibentuk. Penyusupan di jalur ini biasanya bersifat jangka panjang.
Penawaran Beasiswa ke Luar Negeri: Banyak pemuda Muslim Indonesia yang ditarik melalui tawaran beasiswa penuh ke pusat-pusat pendidikan mereka di luar negeri (seperti di Qom, Iran). Sekembalinya ke tanah air, mereka menjadi agen penyebar pemikiran yang telah didoktrinasi secara masif.
Penyusupan ke Perguruan Tinggi: Mereka sering kali masuk melalui unit kegiatan mahasiswa (UKM) atau lembaga kajian ilmiah dengan membawa isu-isu "Filsafat Islam" atau "Irfan" (tasawuf versi mereka) yang menarik minat para intelektual muda, namun di dalamnya disisipkan pelecehan terselubung terhadap para Sahabat Nabi.
3. Menggunakan Isu "Persatuan Islam" (Taqrib)
Salah satu jargon yang paling sering digunakan untuk menyusup adalah seruan "Persatuan Islam" atau Taqrib baina al-Madzahib. Di permukaan, ajakan ini tampak sangat mulia, namun sering kali menjadi kuda troya untuk melegitimasi keberadaan mereka.
Tujuan Tersembunyi:
Dengan jargon persatuan, mereka menuntut agar penyimpangan akidah mereka tidak dikritik.
Mereka mencoba mensejajarkan posisi Syiah yang merupakan sekte menyimpang dengan mazhab-mazhab fiqih yang muktabar (Syafi'i, Maliki, dsb.), sehingga masyarakat menganggap perbedaan Syiah-Sunni hanyalah masalah perbedaan pendapat biasa.
Allah SWT mengingatkan kita untuk waspada terhadap tipu daya dalam Surah Al-Baqarah ayat 204:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
"Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras."
4. Pemanfaatan Media dan Budaya
Di era digital, penyusupan dilakukan melalui konten-konten media sosial yang dikemas secara profesional.
Film dan Dokumenter: Membuat konten sejarah yang menitikberatkan pada tragedi keluarga Nabi (seperti Karbala) untuk memancing emosi dan empati penonton, yang kemudian digiring pada kebencian kepada para Sahabat.
Penerbitan Buku: Menyusupkan buku-buku yang sekilas tampak seperti buku sejarah Islam umum, namun di dalamnya terdapat narasi-narasi palsu tentang "kezaliman" Abu Bakar dan Umar terhadap Fatimah RA.
5. Jalur Sosial dan Kemanusiaan
Syiah sering kali mendirikan lembaga sosial atau yayasan kemanusiaan untuk menarik simpati masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Dengan memberikan bantuan materi, pengobatan gratis, atau bantuan bencana, mereka membangun citra positif. Setelah masyarakat merasa berutang budi, barulah doktrin-doktrin agama mulai disusupkan secara bertahap.
Rasulullah SAW telah memperingatkan akan datangnya fitnah yang samar:
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
"Sesungguhnya menjelang datangnya hari kiamat akan muncul fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita." (HR. Abu Dawud).
Langkah Antisipasi bagi Umat Islam
Penyusupan ini hanya bisa dilawan dengan ilmu dan kewaspadaan. Beberapa langkah konkrit yang bisa dilakukan:
Memperkuat Kajian Akidah Salaf: Memahami dengan benar kedudukan Sahabat dan Ahlul Bait menurut pandangan Ahlus Sunnah.
Kritis terhadap Sumber Belajar: Selalu memeriksa latar belakang pengajar, penulis buku, atau lembaga yang memberikan bantuan.
Membentengi Keluarga: Memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang bahaya ajaran yang mencela Sahabat dan istri Nabi.
Koordinasi dengan Ulama: Segera berkonsultasi dengan para ulama atau lembaga resmi seperti MUI jika menemukan indikasi aktivitas yang mencurigakan di lingkungan sekitar.
Kesimpulan
Penyusupan Syiah ke dunia Islam dilakukan dengan berbagai cara yang sangat halus, mulai dari penyamaran identitas hingga pemanfaatan isu-isu sosial. Tujuannya tetap satu: meruntuhkan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari dalam. Sebagai Muslim yang mencintai kemurnian agama, kita tidak boleh lengah. Persatuan umat memang penting, namun persatuan tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip akidah yang paling mendasar.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: