Breaking News
Loading...

Syiah dan Kedekatan Mereka dengan Kaum Kafir

Syiahindonesia.com - Dalam beberapa dekade terakhir, perbincangan tentang Syiah di Indonesia semakin menguat. Tidak sedikit umat Islam yang mempertanyakan arah gerakan dan relasi politik sebagian tokoh serta kelompok Syiah dengan kekuatan non-Muslim, baik di tingkat global maupun regional. Artikel ini bertujuan memberikan penjelasan yang sistematis, berbasis dalil, sejarah, dan pandangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah untuk mengantisipasi penyebaran pemikiran yang dinilai menyimpang dari manhaj Islam yang lurus.


1. Prinsip Loyalitas dalam Islam: Al-Wala’ wal Bara’

Dalam akidah Islam Ahlus Sunnah, terdapat prinsip penting yang dikenal sebagai al-wala’ wal bara’ (loyalitas dan berlepas diri). Prinsip ini menuntut seorang Muslim untuk mencintai dan loyal kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin, serta berlepas diri dari kekufuran dan permusuhan terhadap Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpinmu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka.”
(QS. Al-Ma’idah: 51)

Ayat ini sering dijadikan dasar oleh ulama untuk menjelaskan batasan hubungan loyalitas dalam Islam. Hubungan sosial, muamalah, dan kerja sama dalam kebaikan diperbolehkan. Namun, loyalitas ideologis dan pembelaan terhadap kekufuran jelas dilarang.


2. Konsep Taqiyah dalam Syiah dan Dampaknya

Salah satu ajaran yang paling kontroversial dalam teologi Syiah adalah konsep taqiyah, yakni menyembunyikan keyakinan demi keselamatan atau kepentingan tertentu. Dalam literatur Syiah klasik, taqiyah bahkan dianggap sebagai bagian penting dari agama mereka.

Dalam sejumlah riwayat Syiah disebutkan bahwa taqiyah adalah “sembilan persepuluh agama.” Konsep ini menimbulkan problem serius dalam konteks dakwah dan relasi sosial, karena membuka peluang untuk menyatakan sesuatu yang berbeda dari keyakinan sebenarnya.

Dari perspektif Ahlus Sunnah, kejujuran adalah prinsip dasar. Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jika sebuah kelompok menjadikan penyamaran keyakinan sebagai bagian sistem teologis, maka ini berpotensi merusak kepercayaan sosial dan ukhuwah Islamiyah.


3. Sejarah Hubungan Politik Syiah dan Kekuasaan Non-Muslim

Dalam sejarah Islam, terdapat beberapa fase di mana penguasa atau kelompok yang berafiliasi dengan Syiah menjalin relasi strategis dengan kekuatan non-Muslim demi kepentingan politik.

Sebagian ulama Ahlus Sunnah mencatat bahwa pada masa tertentu, kelompok Syiah ekstrem (Rafidhah) lebih fokus pada konflik internal dengan Ahlus Sunnah dibanding menghadapi musuh eksternal. Bahkan dalam sejarah konflik regional, terdapat tudingan kolaborasi politik dengan kekuatan asing demi memperluas pengaruh.

Perlu ditegaskan, tidak semua individu Syiah melakukan hal demikian. Namun, secara ideologis dan historis, pola relasi politik tersebut menjadi bahan kajian dan kewaspadaan bagi umat Islam.


4. Sikap Syiah terhadap Sahabat Nabi dan Implikasinya

Salah satu perbedaan paling mendasar antara Ahlus Sunnah dan Syiah adalah sikap terhadap para sahabat Nabi ﷺ. Dalam ajaran Ahlus Sunnah, seluruh sahabat dihormati dan dicintai.

Allah berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)

Sebagian literatur Syiah mengandung kritik keras bahkan celaan terhadap sahabat utama seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman رضي الله عنهم. Sikap ini berimplikasi serius karena sahabat adalah perantara utama dalam transmisi Al-Qur’an dan Sunnah.

Jika generasi terbaik diragukan integritasnya, maka fondasi agama pun akan goyah.


5. Kedekatan Ideologis atau Strategis?

Istilah “kedekatan dengan kaum kafir” perlu dipahami secara proporsional. Tidak setiap kerja sama otomatis haram. Islam membolehkan muamalah dan kerja sama dalam kebaikan dan keadilan.

Allah berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu.”
(QS. Al-Mumtahanah: 8)

Namun yang menjadi persoalan adalah ketika relasi tersebut berubah menjadi loyalitas ideologis atau pembelaan terhadap sistem yang memusuhi Islam. Dalam sejumlah kajian, sebagian tokoh Syiah dinilai lebih lunak terhadap kekuatan Barat dibandingkan terhadap kelompok Sunni.

Ini menimbulkan pertanyaan besar tentang orientasi politik dan ideologisnya.


6. Strategi Penyebaran Syiah di Indonesia

Di Indonesia, penyebaran Syiah sering dilakukan melalui jalur intelektual, penerbitan buku, diskusi akademik, dan kegiatan sosial. Sebagian dilakukan dengan pendekatan moderat dan menghindari isu-isu sensitif seperti imamah atau kritik terhadap sahabat.

Konsep taqiyah kembali menjadi perhatian karena ajaran inti seringkali tidak disampaikan secara terbuka di awal.

Sebagai bangsa dengan mayoritas Muslim Sunni, kewaspadaan diperlukan agar tidak terjadi konflik horizontal. Edukasi berbasis dalil dan akhlak harus dikedepankan.


7. Sikap Ahlus Sunnah dalam Menghadapi Penyimpangan

Ahlus Sunnah wal Jamaah menempuh tiga pendekatan utama:

  1. Ilmiah – Membantah syubhat dengan dalil Al-Qur’an dan Sunnah.

  2. Dakwah hikmah – Menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun.

  3. Kewaspadaan sosial – Mencegah penyebaran ajaran menyimpang tanpa menimbulkan kekacauan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi landasan bahwa segala bentuk bid’ah dalam akidah harus ditolak.


8. Pentingnya Literasi Akidah bagi Umat Islam Indonesia

Mengantisipasi penyebaran ajaran menyimpang bukan berarti memusuhi individu, tetapi menjaga kemurnian akidah. Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai negeri Sunni dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Penguatan literasi akidah, kajian tafsir, dan pemahaman hadis harus diperluas. Umat Islam juga perlu memahami perbedaan antara toleransi sosial dan kompromi akidah.

Toleransi tidak berarti menyetujui kesesatan. Islam mengajarkan keadilan, tetapi juga ketegasan dalam prinsip.


9. Kesimpulan

Syiah dan isu kedekatan mereka dengan kaum kafir merupakan topik sensitif yang memerlukan kajian objektif dan berbasis dalil. Sejarah, doktrin teologis seperti taqiyah, serta sikap terhadap sahabat menjadi faktor yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan Sunni.

Namun, respons terbaik bukanlah kekerasan atau kebencian, melainkan penguatan ilmu, dakwah yang argumentatif, dan perlindungan akidah umat.

Semoga Allah menjaga Indonesia dari perpecahan dan memberi kita taufik untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat رضي الله عنهم.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: