Syiahindonesia.com - Dalam bangunan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mencintai dan memuliakan seluruh Sahabat Nabi Muhammad SAW adalah kewajiban agama yang tidak bisa ditawar. Mereka adalah generasi terbaik yang dipilih Allah untuk mendampingi Rasul-Nya dan menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia. Namun, salah satu penyimpangan paling ekstrem dan menyakitkan dalam ajaran Syiah adalah doktrin pengkafiran (takfir) terhadap mayoritas Sahabat Nabi. Mereka membangun narasi bahwa sepeninggal Rasulullah SAW, para Sahabat telah berkhianat dan murtad dari ajaran Islam karena tidak membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin. Doktrin keji ini bukan sekadar masalah sejarah, melainkan serangan langsung terhadap kredibilitas agama Islam itu sendiri.
1. Akar Doktrin: Murtadnya Sahabat Setelah Nabi Wafat
Syiah meyakini sebuah riwayat ekstrem yang tercantum dalam kitab-kitab induk mereka, salah satunya dalam kitab Rijalul Kasy-syi, yang mengklaim bahwa seluruh Sahabat Nabi murtad kecuali hanya tiga atau beberapa orang saja.
Teks Riwayat Syiah: "Manusia (para Sahabat) itu murtad setelah Nabi SAW wafat, kecuali tiga orang." Aku bertanya: "Siapakah ketiga orang itu?" Beliau menjawab: "Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi."
Analisis Akidah: Meyakini mayoritas Sahabat murtad berarti secara tidak langsung menyatakan bahwa dakwah Rasulullah SAW selama 23 tahun telah gagal total karena tidak mampu mencetak generasi yang setia pada iman. Ini adalah penghinaan besar terhadap keberhasilan tarbiyah (pendidikan) Nabi Muhammad SAW.
2. Konsep Wilayah sebagai Rukun Iman yang Paling Utama
Mengapa Syiah sampai pada kesimpulan pengkafiran tersebut? Hal ini dikarenakan mereka menempatkan Wilayah (kepemimpinan Ali dan keturunannya) sebagai rukun iman yang paling tinggi, bahkan melebihi shalat dan zakat.
Dalam pandangan Syiah, siapa pun yang menolak atau mendahului Ali dalam kepemimpinan dianggap telah membatalkan seluruh amalannya dan keluar dari Islam. Oleh karena itu, Abu Bakar, Umar, dan Utsman—serta ribuan Sahabat yang membaiat mereka—dianggap sebagai perampas hak ketuhanan dan pelaku kesyirikan besar karena "mengambil hak milik Allah" (yaitu penunjukan imam).
Allah SWT membantah pengkafiran ini dalam Surah Al-Fath ayat 18:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon..."
Jika Allah sudah menyatakan rida-Nya kepada ribuan Sahabat dalam Al-Qur'an, maka siapa pun yang mengkafirkan mereka berarti telah mendustakan ayat-ayat Allah.
3. Dampak Terhadap Validitas Al-Qur'an dan Sunnah
Tujuan terselubung dari doktrin pengkafiran Sahabat ini adalah untuk meruntuhkan fondasi Islam.
Merusak Transmisi Wahyu: Jika para Sahabat yang mengumpulkan Al-Qur'an dan meriwayatkan hadits dianggap kafir atau murtad, maka secara otomatis kepercayaan umat terhadap keaslian Al-Qur'an dan Sunnah akan hilang. Inilah yang diinginkan oleh para pembuat ideologi Syiah: memutus hubungan umat dengan sumber asli agamanya.
Menghancurkan Syariat: Dengan menolak riwayat dari mayoritas Sahabat (seperti Abu Hurairah, Aisyah, dan Umar), Syiah membuang lebih dari 90% khazanah hadits Nabi dan menggantinya dengan riwayat-riwayat palsu dari imam-imam mereka.
4. Kontradiksi dengan Sikap Ali bin Abi Thalib
Salah satu kebohongan terbesar Syiah adalah menggambarkan seolah-olah Ali bin Abi Thalib membenci para Sahabat lainnya. Faktanya:
Ali Membaiat Ketiga Khalifah: Ali bin Abi Thalib membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Jika mereka kafir, tidak mungkin Ali yang dijuluki "Asadullah" (Singa Allah) akan memberikan baiat dan bekerja sama dengan kaum kafir dalam urusan agama.
Ali Menamai Anaknya dengan Nama Sahabat: Ali menamai putra-putranya dengan nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Ini adalah bukti kecintaan dan penghormatan yang luar biasa, karena tidak mungkin seseorang memberikan nama musuh bebuyutannya kepada anak kandungnya sendiri.
Bahaya Takfir Sahabat bagi Umat di Indonesia
Penyebaran paham kebencian ini di Indonesia seringkali dibungkus dengan narasi "cinta Ahlul Bait". Masyarakat diajak untuk mencintai keluarga Nabi, namun di saat yang sama disisipi racun untuk membenci para Sahabat.
Risiko yang dihadapi:
Perpecahan Ukhuwah: Membenci Sahabat akan memicu konflik horizontal dengan mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah) yang sangat mencintai Sahabat.
Kesesatan Akidah: Umat Islam yang terpengaruh akan kehilangan figur teladan dan mulai meragukan kebenaran Al-Qur'an yang mereka baca setiap hari.
Kesimpulan
Mengkafirkan mayoritas Sahabat Nabi adalah puncak kesesatan akidah Syiah yang bertentangan dengan Al-Qur'an, Sunnah, akal sehat, dan fakta sejarah. Para Sahabat adalah manusia-manusia mulia yang telah Allah jamin surga bagi mereka. Tugas kita adalah mencintai mereka semua, sebagaimana pesan Rasulullah SAW: "Janganlah kalian mencela Sahabat-Sahabatku!" Menjaga kehormatan Sahabat adalah bagian tak terpisahkan dari menjaga kehormatan Rasulullah SAW dan kemurnian agama Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: