Oleh: KH Bachtiar Nasir || Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI)
Pertanyaan:
Ustaz, selama ini terdapat sekat teologis yang cukup kuat antara Sunni dan Syiah di Indonesia. Dalam konteks serangan Israel terhadap Iran, apakah umat Islam Indonesia sebaiknya melihat ini semata sebagai konflik antarnegara, atau sebagai serangan terhadap kedaulatan dunia Islam secara umum?
Jawaban:
Saya memahami adanya kegelisahan dan pertanyaan mendasar: “Bagaimana kita bersikap ketika terdapat perbedaan akidah yang tajam antara Sunni dan Syiah?” Izinkan saya mendudukkan persoalan ini dalam tiga bingkai utama agar rasio dan iman dapat berjalan seiring.
1. Membedakan Ranah Akidah dan Ranah Muamalah Politik
Dalam ranah akidah, posisi kita sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah sudah jelas dan tidak perlu diperdebatkan kembali.
Batas-batas teologis tetap kita jaga. Namun, dalam konteks serangan Israel terhadap Iran, yang sedang kita hadapi bukanlah perdebatan teologi di ruang kelas atau mimbar masjid, melainkan persoalan muamalah internasional dan kezaliman global.
Islam mengajarkan kita untuk membela pihak yang dizalimi, tanpa memandang perbedaan suku, warna kulit, bahkan keyakinan—terlebih terhadap sesama umat yang bersujud kepada Allah dan menghadap kiblat yang sama.
Menolak agresi Israel terhadap Iran bukan berarti menyetujui seluruh doktrin teologi mereka, melainkan menegakkan prinsip keadilan universal dalam ajaran Islam.
2. Dimensi Geopolitik dan Dukungan terhadap Palestina
Kita perlu melihat persoalan ini secara jernih dalam perspektif geopolitik. Dalam realitas kawasan, Iran merupakan salah satu aktor regional yang secara terbuka menyatakan dukungan terhadap perjuangan Palestina, termasuk isu Al-Quds dan Gaza.
Karena itu, jika serangan terhadap Iran dilihat dalam konteks lebih luas, sebagian kalangan memahaminya sebagai bagian dari dinamika regional yang dapat berdampak pada peta dukungan terhadap Palestina.
Maka, menyikapi konflik ini tidak cukup hanya dengan pendekatan mazhab, tetapi juga dengan membaca dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan perjuangan rakyat Palestina.
3. Menghindari Polarisasi Internal
Sejarah menunjukkan bahwa perpecahan internal sering kali melemahkan posisi umat dalam menghadapi tantangan eksternal. Polarisasi Sunni–Syiah yang dipertajam justru berpotensi mengalihkan perhatian dari isu kemanusiaan dan keadilan yang lebih mendesak. Kita tentu tidak berbicara tentang penyatuan akidah.
Akidah tetap pada tempatnya. Namun dalam konteks menghadapi ketidakadilan dan agresi, diperlukan kedewasaan untuk membedakan antara perbedaan teologis dan sikap terhadap prinsip keadilan serta kedaulatan.
Dengan demikian, umat Islam Indonesia dapat memandang konflik ini secara proporsional: sebagai konflik antarnegara dalam tataran politik internasional, namun sekaligus memiliki implikasi lebih luas terhadap stabilitas kawasan dan solidaritas terhadap isu-isu dunia Islam. Sikap yang bijak adalah menjaga prinsip akidah, sembari tetap konsisten pada nilai keadilan dan kemanusiaan universal.*
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: