Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Menolak Hadis-Hadis Shahih dari Imam Bukhari dan Muslim?

 


Syiahindonesia.com -
Penolakan Syiah terhadap hadis-hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim bukanlah persoalan teknis keilmuan semata, melainkan bersumber dari problem mendasar dalam akidah dan manhaj beragama mereka. Kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim telah disepakati oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai kitab hadis paling otentik setelah Al-Qur’an. Namun Syiah secara sistematis menolak, meragukan, bahkan mendiskreditkan kedua kitab tersebut karena isinya bertentangan dengan doktrin imamah, sikap mereka terhadap para sahabat, serta konstruksi sejarah versi Syiah sendiri.

Kedudukan Shahih Bukhari dan Muslim dalam Islam

Dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim menempati posisi yang sangat tinggi karena disusun dengan metode ilmiah yang ketat, seleksi sanad yang luar biasa, serta verifikasi perawi yang mendalam. Para ulama sepakat bahwa kedua kitab ini merupakan rujukan utama dalam memahami sunnah Nabi ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

« تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي »
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan sunnahku.”
(HR. Malik)

Hadis-hadis shahih yang dihimpun oleh Imam Bukhari dan Muslim merupakan bagian utama dari sunnah Nabi ﷺ yang menjaga kemurnian ajaran Islam.

Akar Penolakan Syiah terhadap Hadis Shahih

Penolakan Syiah terhadap Shahih Bukhari dan Muslim berakar pada sikap mereka terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ. Mayoritas perawi hadis dalam kedua kitab tersebut berasal dari kalangan sahabat, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Abu Hurairah, dan lainnya. Sementara Syiah memiliki keyakinan ekstrem bahwa sebagian besar sahabat telah murtad atau berkhianat setelah wafatnya Nabi ﷺ, kecuali segelintir orang yang mereka anggap loyal kepada Ali bin Abi Thalib.

Allah Ta’ala justru memuliakan para sahabat dalam Al-Qur’an:

﴿ وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ﴾
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)

Ayat ini secara tegas membantah narasi Syiah yang merendahkan para sahabat.

Hadis Shahih yang Meruntuhkan Doktrin Syiah

Banyak hadis shahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim yang secara langsung bertentangan dengan keyakinan inti Syiah, terutama terkait imamah dan keutamaan sahabat. Misalnya, hadis tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar, hadis tentang keridhaan Nabi ﷺ kepada para sahabat, serta hadis yang menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak mewasiatkan kekhalifahan secara khusus kepada Ali رضي الله عنه.

Rasulullah ﷺ bersabda:

« اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ »
“Ikutlah dua orang setelahku, Abu Bakar dan Umar.”
(HR. Tirmidzi, dinilai shahih)

Hadis semacam ini tidak mungkin diterima oleh Syiah karena menghancurkan fondasi klaim imamah eksklusif mereka.

Metode Hadis Syiah yang Lemah dan Subjektif

Sebagai gantinya, Syiah mengembangkan kitab-kitab hadis mereka sendiri seperti Al-Kafi karya al-Kulaini. Kitab-kitab ini tidak diseleksi dengan standar ketat sebagaimana metode ulama hadis Ahlus Sunnah. Bahkan sebagian ulama Syiah sendiri mengakui bahwa mayoritas hadis dalam kitab mereka lemah atau bermasalah dari sisi sanad.

Ironisnya, Syiah menolak hadis shahih Bukhari-Muslim yang sanadnya bersambung dan perawinya terpercaya, tetapi menerima riwayat-riwayat lemah bahkan palsu selama mendukung doktrin imamah dan kebencian terhadap sahabat.

Penolakan Sunnah demi Kepentingan Ideologis

Penolakan terhadap Shahih Bukhari dan Muslim sejatinya adalah penolakan terhadap sunnah Nabi ﷺ itu sendiri. Ketika sunnah bertentangan dengan doktrin kelompok, maka sunnah ditolak, ditakwil secara ekstrem, atau dituduh sebagai hasil rekayasa politik.

Allah Ta’ala memperingatkan:

﴿ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴾
“Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.”
(QS. An-Nur: 63)

Ayat ini menjadi ancaman keras bagi siapa pun yang menolak sunnah Rasulullah ﷺ demi hawa nafsu dan kepentingan ideologi.

Dampak Penolakan Hadis Shahih bagi Umat

Sikap Syiah ini membawa dampak besar bagi pemahaman agama umat. Ketika hadis shahih ditolak, maka syariat menjadi cair, sejarah Islam dipelintir, dan umat diarahkan untuk mengikuti figur-figur yang dianggap suci selain Nabi ﷺ. Ini membuka pintu kesesatan, fanatisme buta, dan perpecahan yang mendalam di tengah umat Islam.

Lebih jauh, penolakan ini juga memutus hubungan umat dengan warisan ilmiah Islam yang telah dijaga selama lebih dari seribu tahun oleh para ulama hadis.

Kesimpulan

Penolakan Syiah terhadap hadis-hadis shahih dalam Shahih Bukhari dan Muslim bukanlah masalah perbedaan ilmiah yang wajar, melainkan konsekuensi logis dari penyimpangan akidah dan kebencian terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ. Hadis-hadis tersebut ditolak karena meruntuhkan klaim imamah, membela kehormatan sahabat, dan menjaga kemurnian sunnah Nabi ﷺ.

Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia perlu memahami akar masalah ini agar tidak terjebak dalam propaganda yang mengatasnamakan “cinta Ahlul Bait” namun justru menolak sunnah Rasulullah ﷺ dan merusak fondasi Islam yang shahih. Kewaspadaan, ilmu, dan komitmen kepada Al-Qur’an dan sunnah sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah benteng utama dari penyimpangan semacam ini.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: