Syiahindonesia.com – Ayat-ayat Al-Qur’an tentang Ahlul Bait memiliki kedudukan mulia dalam Islam, namun pemahamannya harus mengikuti manhaj yang lurus sesuai penjelasan Rasulullah ﷺ dan pemahaman para sahabat. Syiah menjadikan ayat-ayat ini sebagai landasan utama untuk membangun doktrin imamah dan ke-ma’shum-an para imam, dengan cara menakwilkan makna ayat secara ideologis dan terlepas dari konteks nash. Cara ini dinilai para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai bentuk pemutarbalikan makna ayat yang berbahaya, karena mengubah fungsi Al-Qur’an dari petunjuk universal menjadi alat pembenaran mazhab.
Kedudukan Ahlul Bait dalam Islam Menurut Ahlus Sunnah
Ahlus Sunnah wal Jama’ah mencintai dan memuliakan Ahlul Bait Rasulullah ﷺ sebagaimana tuntunan agama. Kecintaan ini bersifat proporsional: tanpa ghuluw (berlebihan) dan tanpa merendahkan pihak lain. Rasulullah ﷺ bersabda:
أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي
“Aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang (hak) Ahlul Baitku.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan kewajiban memuliakan Ahlul Bait, bukan menjadikan mereka sebagai sumber wahyu atau otoritas ilahiah.
Ayat Tathhir dan Penyempitan Makna
Ayat yang paling sering diputarbalikkan maknanya oleh Syiah adalah Ayat Tathhir:
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
“Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.”
(QS. Al-Ahzab: 33)
Syiah mengklaim ayat ini sebagai dalil kemaksuman Ali dan para imam keturunannya. Padahal, konteks ayat secara jelas berbicara tentang istri-istri Nabi ﷺ, dan hadits-hadits sahih menunjukkan bahwa Ahlul Bait mencakup istri-istri Nabi bersama Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Ulama Sunni menegaskan bahwa ayat ini berbicara tentang kemuliaan dan kesucian moral, bukan kemaksuman dari dosa dan kesalahan.
Pemutusan Ayat dari Konteksnya
Metode Syiah dalam menafsirkan ayat Ahlul Bait sering dilakukan dengan memutus ayat dari konteks sebelumnya dan sesudahnya. Ayat-ayat dalam surat Al-Ahzab sebelum dan sesudah Ayat Tathhir berisi perintah dan larangan kepada istri-istri Nabi ﷺ, yang menegaskan bahwa mereka termasuk Ahlul Bait. Mengabaikan konteks ini merupakan kesalahan metodologis yang serius dalam tafsir Al-Qur’an.
Allah Ta’ala berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?”
(QS. Muhammad: 24)
Ayat ini menegaskan pentingnya memahami Al-Qur’an secara utuh, bukan selektif.
Ayat Mawaddah dan Manipulasi Makna Cinta
Syiah juga memanipulasi ayat tentang kecintaan kepada kerabat Nabi:
قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى
“Katakanlah: Aku tidak meminta kepada kalian imbalan apa pun atas dakwah ini, kecuali kecintaan kepada kerabat.”
(QS. Asy-Syura: 23)
Ayat ini oleh Syiah ditafsirkan sebagai kewajiban mengikuti kepemimpinan imam. Padahal ulama Sunni menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan kecintaan dan penghormatan, bukan pengangkatan kerabat sebagai pemimpin agama yang ma’shum.
Ayat Ulil Amri Dijadikan Alat Legitimasi Imamah
Syiah juga menakwil ayat tentang ulil amri sebagai dalil imamah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.”
(QS. An-Nisa: 59)
Syiah mengklaim bahwa ulil amri adalah para imam mereka. Ahlus Sunnah menegaskan bahwa ulil amri mencakup pemimpin dan ulama kaum Muslimin secara umum, selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Menyempitkan makna ulil amri hanya pada imam-imam tertentu adalah bentuk pemaksaan tafsir.
Menjadikan Tafsir sebagai Alat Ideologi
Kesalahan utama Syiah bukan sekadar perbedaan tafsir, melainkan menjadikan tafsir sebagai alat ideologi. Ayat-ayat Al-Qur’an ditakwil agar sesuai dengan doktrin imamah, bukan sebaliknya. Metode ini bertentangan dengan manhaj Ahlus Sunnah yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan Sunnah Nabi ﷺ, pemahaman sahabat, dan ijma’ umat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi landasan utama dalam memahami Al-Qur’an sesuai pemahaman generasi terbaik.
Dampak Pemutarbalikan Ayat bagi Umat
Pemutarbalikan makna ayat tentang Ahlul Bait berdampak besar pada akidah umat. Kecintaan yang seharusnya melahirkan keteladanan justru berubah menjadi kultus individu, pengkafiran terhadap mayoritas sahabat, dan permusuhan terhadap kaum Muslimin Sunni. Di Indonesia, pola ini berpotensi merusak persatuan umat dan menimbulkan kebingungan akidah di kalangan awam.
Penutup
Syiah memutarbalikkan makna ayat-ayat tentang Ahlul Bait dengan cara memutus konteks, menakwil secara ideologis, dan menjadikannya dasar doktrin imamah. Ahlus Sunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa Ahlul Bait dimuliakan dan dicintai sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ, tanpa ghuluw dan tanpa penyimpangan makna wahyu. Kewaspadaan dan pemahaman tafsir yang benar menjadi kunci untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an dari manipulasi yang menyesatkan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: