Dalam praktiknya, pemuda Muslim kerap disuguhi narasi ketidakadilan sejarah yang dipelintir, seakan-akan mayoritas umat Islam telah mengkhianati keluarga Nabi ﷺ. Tragedi Karbala diangkat secara berlebihan dan dipisahkan dari konteks sejarah yang utuh, lalu dijadikan alat untuk membangun sentimen kebencian terhadap para sahabat Nabi. Padahal Islam mengajarkan keadilan, keseimbangan, dan larangan mengikuti hawa nafsu dalam menilai peristiwa sejarah. Allah ﷻ berfirman: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ﴾ yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi penegak keadilan.” (QS. An-Nisa: 135). Ayat ini menegaskan bahwa sejarah Islam harus dipahami dengan adil, bukan dengan kebencian ideologis.
Syiah juga menyesatkan pemuda Muslim melalui infiltrasi pemikiran di lingkungan pendidikan, khususnya kampus dan komunitas diskusi. Dengan menggunakan istilah-istilah filsafat, sejarah kritis, dan kajian akademik, ajaran Syiah dipresentasikan sebagai mazhab Islam yang sah dan setara dengan Ahlus Sunnah. Namun, pada tahap lanjutan, pemuda mulai diarahkan untuk meragukan otoritas hadis shahih, mencurigai para sahabat, dan menolak ijma’ ulama. Padahal para sahabat adalah generasi terbaik yang dipilih Allah untuk menemani Rasul-Nya. Allah ﷻ berfirman: ﴿لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ﴾ yang artinya, “Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (QS. Al-Fath: 18).
Upaya menyesatkan pemuda Muslim juga dilakukan dengan mengaburkan konsep cinta kepada Ahlul Bait. Syiah mengklaim bahwa hanya merekalah pecinta sejati keluarga Nabi ﷺ, sementara Sunni dituduh membenci Ahlul Bait. Tuduhan ini sangat menyesatkan, karena Ahlus Sunnah justru mencintai Ahlul Bait sesuai tuntunan syariat, tanpa ghuluw atau pengkultusan. Rasulullah ﷺ bersabda: «لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ» yang artinya, “Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebih-lebihan memuji Isa putra Maryam.” (HR. Bukhari). Hadis ini menjadi prinsip penting agar kecintaan tidak berubah menjadi penyimpangan akidah.
Pemuda Muslim juga kerap dijerat dengan narasi perlawanan terhadap kezaliman global, imperialisme, dan ketidakadilan dunia. Syiah memosisikan diri sebagai simbol perlawanan dan perjuangan, sementara Islam Sunni digambarkan pasif dan kompromistis. Narasi ini sangat efektif bagi pemuda yang memiliki semangat aktivisme tinggi, namun berbahaya karena mengaitkan kebenaran agama dengan agenda politik dan ideologi tertentu. Islam tidak mengajarkan kebenaran berdasarkan emosi atau slogan perlawanan, melainkan berdasarkan wahyu. Allah ﷻ berfirman: ﴿وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا﴾ yang artinya, “Jika kamu taat kepadanya (Rasul), niscaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. An-Nur: 54).
Selain itu, Syiah menanamkan konsep imamah sebagai doktrin sentral yang wajib diyakini, bahkan dianggap lebih penting daripada rukun iman yang dikenal dalam Islam. Pemuda Muslim diarahkan untuk meyakini bahwa kepemimpinan agama adalah hak eksklusif keturunan tertentu yang bersifat maksum dan tidak bisa salah. Konsep ini bertentangan langsung dengan ajaran Islam yang menegaskan bahwa para nabi saja tidak luput dari kesalahan manusiawi, apalagi selain mereka. Allah ﷻ berfirman: ﴿قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ﴾ yang artinya, “Katakanlah, sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian yang diberi wahyu.” (QS. Al-Kahfi: 110).
Upaya penyesatan juga dilakukan melalui normalisasi ritual-ritual yang tidak dikenal dalam Islam, seperti melukai diri, mengagungkan kuburan, dan memohon pertolongan kepada selain Allah. Semua ini diperkenalkan kepada pemuda secara bertahap, dimulai dari simpati emosional hingga pembenaran teologis. Padahal tauhid adalah inti ajaran Islam. Allah ﷻ berfirman: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾ yang artinya, “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5).
Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa upaya Syiah dalam menyesatkan pemuda Muslim dilakukan melalui strategi yang halus namun berbahaya, dengan memanfaatkan emosi, intelektualitas semu, krisis identitas, serta ketidaktahuan sejarah dan akidah. Jika pemuda Muslim tidak dibekali pemahaman Islam yang lurus berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah sesuai pemahaman para sahabat, maka mereka sangat rentan terjerumus dalam penyimpangan akidah yang serius. Oleh karena itu, kewaspadaan, pendidikan tauhid yang benar, serta penguatan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadi benteng utama dalam menjaga generasi muda dari pengaruh ajaran sesat yang merusak Islam dari dalam.
(albert/syiahindonesia.com)
0 komentar: