Breaking News
Loading...

Kebrutalan Aparat Iran: Tembaki Demonstran Pakai Peluru Tajam


 Seorang saksi mata menyebut aparat keamanan Iran telah melakukan aksi brutal kepada para pengunjuk rasa. Menurutnya, aparat keamanan Iran telah menggunakan peluru tajam untuk melerai demonstran.

Di tengah pembatasan arus informasi yang ketat di Iran imbas gelombang demonstrasi yang terus berkecamuk, seorang saksi mata memberikan gambaran situasi yang tengah terjadi di Negeri Para Mullah itu.

Pria berusia 40-an tahun menyampaikan kesaksiannya pada BBC. Dalam wawancara itu, pria yang tak disebutkan identitasnya ini menceritakan kejadian di sebuah kota kecil di Iran bagian Selatan. Ia menyebut gelombang protes telah menjadi peristiwa brutal yang mengerikan.

Seturut BBC, saksi mata tersebut menyebut bahwa kini para pengunjuk rasa ditembaki dengan peluru tajam. Pasukan keamanan menembaki barisan pengunjuk rasa secara brutal.

"Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri, mereka menembak langsung ke barisan pengunjuk rasa. Orang-orang jatuh di tempat mereka berdiri," tuturnya.

Saksi mata tersebut bagian dari pengunjuk rasa yang melakukan protes di kota-kota kecil di Iran Selatan. Ia melihat pasukan keamanan menggunakan senapan serbu model AK untuk menembaki para pengunjuk rasa.

"Kami melawan rezim brutal dengan tangan kosong," katanya.

Kesaksian ini serupa dengan kisah yang diungkap seorang perempuan di Teheran pada 8 Januari 2026 lalu, sebelum pembatasan internet diberlakukan Pemerintah Iran. Perempuan itu mengatakan seluruh wilayah Teheran dipenuhi pengunjuk rasa di berbagai tempat. Namun, hal tersebut ditanggapi secara brutal oleh pasukan keamanan.

"Pada hari Jumat, pasukan keamanan hanya membunuh dan membunuh dan membunuh," tutur perempuan yang tak disebutkan identitasnya itu.

Ia juga menggambarkan Teheran sebagai medan perang. Baik para pengunjuk rasa maupun aparat keamanan, sama-sama membuat barikade dan bentrok di jalanan.

"Dalam perang, kedua belah pihak memiliki senjata. Di sini, orang-orang hanya bernyanyi dan mereka terbunuh. Ini adalah perang sepihak," jelasnya lebih lanjut.

Penembakan dengan peluru tajam juga dilaporkan terjadi di Fardis, sebuah kota sebelah barat Teheran. Di sana, pasukan paramiliter Basij yang terafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan menyerang pengunjuk rasa secara tiba-tiba.

Pasukan paramiliter itu dilaporkan mengendarai sepeda motor dan menembakkan peluru tajam ke arah kerumunan pengunjuk rasa. Serangan itu disebut terjadi setelah berjam-jam polisi tak terlihat di lokasi.

"Dua atau tiga orang tewas di setiap gang," kata seorang saksi.

Sejauh ini, korban meninggal akibat unjuk rasa di Iran telah dikonfirmasi, namun jumlahnya masih simpang siur. Ketidakjelasan jumlah korban ini imbas penutupan arus informasi dari Iran oleh otoritas setempat.

Akses internet di Iran diputus, awak media internasional juga dilarang bekerja secara bebas di Iran. Hal ini membuat informasi sulit diverifikasi secara optimal.

Organisasi HAM Iran yang berbasis di Norwegia, IHRNGO, menyebut bahwa setidaknya 648 pengunjuk rasa telah tewas hingga Senin (12/1), sembilan di antaranya anak di bawah usia 18 tahun.

Media yang terafiliasi dengan pemerintah Iran, Tasnim, melaporkan setidaknya 109 aparat keamanan tewas dalam bentrokan hingga Senin.

Seturut BBC Persia, outlet berita itu terus menerima berbagai video yang memperlihatkan gedung-gedung pemerintah dan kendaraan polisi terbakar di banyak tempat.

Di tengah situasi itu, rumah sakit-rumah sakit di Iran juga dilaporkan kewalahan dengan banyaknya mayat yang terus berdatangan. Beberapa video bahkan memperlihatkan sebuah truk yang memuat mayat sedang dibongkar.




************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: