Breaking News
Loading...

Bukti Syiah Memiliki Kedekatan dengan Kaum Zionis

Syiahindonesia.com - Pembahasan mengenai kedekatan sebagian unsur Syiah dengan kepentingan kaum Zionis bukanlah isu yang muncul tanpa dasar, melainkan topik serius yang telah lama dikaji oleh para ulama, sejarawan, dan pengamat politik dunia Islam. Tujuan pembahasan ini bukan untuk menebar kebencian antarumat, melainkan sebagai langkah kewaspadaan akidah dan politik agar kaum Muslimin, khususnya di Indonesia, tidak terjebak pada narasi palsu yang dikemas dengan slogan perlawanan namun bertolak belakang dengan realitas di lapangan.

Prinsip Dasar Islam dalam Menilai Sikap Politik

Islam mengajarkan bahwa sikap politik umat harus berpijak pada keadilan, kejujuran, dan keberpihakan terhadap kaum tertindas, bukan pada kepentingan kelompok atau mazhab tertentu. Al-Qur’an dengan tegas melarang kaum Muslimin condong kepada pihak zalim, siapa pun mereka dan apa pun latar belakangnya.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ ﴾
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”
(QS. Hud: 113)

Ayat ini menjadi kaidah utama para ulama dalam menilai hubungan politik apa pun yang berpotensi menguatkan kezaliman, termasuk kezaliman Zionis terhadap rakyat Palestina.

Fakta Historis Hubungan Politik yang Kontroversial

Dalam sejarah Timur Tengah modern, terdapat sejumlah catatan yang menunjukkan adanya hubungan tidak langsung maupun langsung antara rezim Syiah tertentu dengan kepentingan Zionis, terutama dalam konteks geopolitik dan konflik regional. Hubungan ini sering dibungkus dengan istilah “kepentingan strategis”, padahal dampaknya justru melemahkan posisi umat Islam secara keseluruhan.

Beberapa analis mencatat bahwa pada masa-masa tertentu, konflik internal antarsesama Muslim yang dipicu atau diperparah oleh aktor Syiah justru memberikan ruang aman bagi Israel untuk memperluas pengaruhnya tanpa perlawanan berarti. Dalam kondisi umat sibuk bertikai secara sektarian, penjajahan berlangsung tanpa hambatan.

Retorika Anti-Zionis yang Tidak Selaras dengan Praktik

Salah satu hal yang paling sering dikritik oleh para ulama adalah ketidaksesuaian antara retorika dan tindakan. Di satu sisi, tokoh-tokoh Syiah sering mengumandangkan slogan anti-Zionis yang keras, namun di sisi lain, kebijakan dan langkah strategis mereka justru merugikan perjuangan umat Islam secara luas.

Islam sangat menekankan kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

« آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ »
“Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sering dijadikan pengingat bahwa umat Islam tidak boleh menilai hanya dari slogan dan propaganda.

Politik Proksi dan Keuntungan bagi Zionis

Dalam banyak konflik di dunia Islam, terutama di Timur Tengah, Syiah sering berperan sebagai aktor politik proksi yang secara tidak langsung menguntungkan kepentingan Zionis. Konflik internal yang berkepanjangan menyebabkan negara-negara Muslim melemah, terpecah, dan kehilangan fokus utama dalam membela Palestina.

Allah Ta’ala telah memperingatkan bahaya perpecahan ini sejak awal:

﴿ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ﴾
“Dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.”
(QS. Al-Anfal: 46)

Ayat ini menunjukkan bahwa perpecahan internal adalah pintu utama kehancuran umat.

Pandangan Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah secara konsisten menegaskan bahwa bahaya Syiah tidak hanya terletak pada perbedaan teologis, tetapi juga pada implikasi politiknya. Ketika akidah imamah dipadukan dengan ambisi kekuasaan, maka kepentingan umat sering dikorbankan demi loyalitas kepada figur dan kelompok tertentu.

Ulama juga menegaskan bahwa membela Palestina tidak boleh dijadikan alat legitimasi bagi penyimpangan akidah atau kezaliman terhadap sesama Muslim. Islam mengajarkan keadilan universal, bukan keadilan selektif.

Dampak Penyebaran Narasi Ini di Indonesia

Di Indonesia, narasi kedekatan Syiah dengan perlawanan global sering digunakan sebagai pintu masuk untuk menyebarkan ajaran mereka secara halus. Banyak masyarakat awam yang akhirnya tertipu karena mengira bahwa Syiah adalah satu-satunya kelompok yang konsisten melawan Zionisme.

Padahal, sejarah dan fakta di lapangan menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks dan berbahaya. Karena itulah ulama Indonesia berkewajiban memberikan edukasi dan peringatan agar umat tidak salah arah.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah.”
(QS. An-Nisa: 135)

Kewaspadaan Tanpa Kezaliman

Penting untuk ditegaskan bahwa kritik terhadap Syiah bukan berarti membolehkan kezaliman terhadap individu atau kelompok. Islam tetap mewajibkan keadilan, adab, dan objektivitas. Namun, kewaspadaan terhadap ajaran dan agenda politik yang merusak umat adalah bagian dari menjaga agama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

« الدِّينُ النَّصِيحَةُ »
“Agama adalah nasihat.”
(HR. Muslim)

Nasihat inilah yang menjadi dasar peringatan para ulama.

Kesimpulan

Bukti-bukti kedekatan sebagian unsur Syiah dengan kepentingan Zionis menunjukkan bahwa umat Islam tidak boleh tertipu oleh retorika semata. Islam menuntut konsistensi, keadilan, dan persatuan di atas kebenaran, bukan persatuan semu yang mengorbankan akidah dan prinsip.

Umat Islam Indonesia harus memperkuat literasi akidah dan sejarah agar tidak mudah disusupi oleh paham yang menyimpang, serta tetap teguh berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam membela kebenaran dan keadilan secara utuh.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: