Aksi demonstrasi di Iran telah memasuki hari ke-16 dengan total korban meninggal dunia adalah 648 demonstran dan 109 aparat.
Data yang diunggah oleh Iran Human Rights (IHRNGO) per 12 Januari 2026, jumlah korban tewas dalam gelombang protes anti pemerintah itu adalah setidaknya 648 pengunjuk rasa, termasuk 9 anak di bawah usia 18 tahun, dan ribuan lainnya luka-luka.
Al Jazeera juga melaporkan jika korban tewas tidak hanya terdapat di kelompok pendemo, melainkan juga dari aparat yang bertugas. Setidaknya 109 aparat meregang nyawa dalam demo besar yang dipicu oleh tuntutan ekonomi tersebut.
Karena pemutusan akses internet nasional sejak 8 Januari 2026 dan pembatasan informasi yang ketat, jumlah sebenarnya sulit diverifikasi. Beberapa laporan bahkan memperkirakan lebih dari 6.000 korban tewas, dan lebih dari 10.000 orang telah ditangkap.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan Amerika Serikat bahwa Iran siap menghadapi perang jika Washington benar‑benar memilih opsi militer terhadap negara itu.
Pernyataan ini dikeluarkan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan tindakan militer sebagai respons atas penanganan protes anti pemerintah di Iran.
Araghchi mengatakan bahwa saluran komunikasi dengan AS masih terbuka, namun Iran kini memiliki kesiapan militer yang besar dan siap untuk segala kemungkinan, termasuk konflik berskala besar. Ia juga memastikan jika kekuatan Iran saat ini lebih kuat dibandingkan saat konflik 12 hari tahun lalu.
“Jika Washington ingin menguji opsi militer yang pernah mereka uji sebelumnya, kami siap untuk itu,” kata Araghchi dikutip Al Jazeera.
Lebih lanjut, Araghchi juga menyatakan bahwa Iran tidak menginginkan perang dan berharap AS memilih jalur dialog yang “bijak” dan adil, sambil menegaskan kesediaannya untuk duduk di meja perundingan asalkan dilakukan tanpa ancaman atau tekanan satu pihak.
Dalam wawancara tersebut, Araghchi menuduh bahwa protes dan kekerasan yang terjadi telah “diprovokasi” untuk memberi justifikasi bagi campur tangan luar negeri, dan bahwa pemerintah Iran memiliki bukti adanya keterlibatan unsur asing dalam kerusuhan.
Sebelumnya, perwakilan Gedung Putih mengatakan jika Presiden AS Donald Trump tidak takut akan ancaman penggunaan militer untuk meredakan konflik di Iran.
“(Trump) tidak takut menggunakan kekuatan dan kemampuan mematikan militer Amerika Serikat jika dan ketika ia menganggapnya perlu,” kata sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt dikutip The Guardian.
“Serangan udara akan menjadi salah satu dari banyak sekali pilihan yang ada di meja bagi panglima tertinggi,” tambahnya.
Tak hanya memiliki opsi penggunaan cara militer untuk meredamkan konflik berdarah dan berkelanjutan di Iran, Trump juga memberlakukan tambahan tarif sebesar 25 persen bagi negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran.
Hal ini diumumkan secara terbuka melalui akun Truth Social miliknya pada 13 Januari 2026 dan dinyatakan langsung berlaku serta bersifat final. Artinya, negara yang tetap berdagang dengan Iran akan dikenai pajak impor lebih tinggi saat melakukan perdagangan dengan AS, sehingga biaya masuk barang ke pasar AS menjadi jauh lebih mahal.
Tujuan utama kebijakan ini adalah memberi tekanan ekonomi dan politik kepada Iran tanpa harus langsung menggunakan kekuatan militer. Dengan cara ini, Trump ingin memaksa negara-negara lain untuk memilih, tetap berdagang dengan Iran atau mempertahankan akses dagang yang lebih murah ke pasar AS.
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: