Slide

Syiah Indonesia

Syubhat Dan Bantahan

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Tanya Jawab

Dedengkot Syiah Bahrudin Alias Abu Haidar Abi Telah Mati

Jakarta (Syiahindonesia.com) - Seorang ustadz Syiah bernama Bahrudin, telah di jemput ajalnya tadi malam, Selasa 19 Agustus 2014 jam 19.30 WIB di RS Fatmawati, Jakarta, sebagaimana di lansir dalam situs resmi IJABI.

Dedengkot Syiah yang juga eksis di Facebook dengan nama Abu Haidar Abi ini merupakan salah satu da'i Syiah yang menyebarkan ajaran-ajaran Syiah di Indonesia bersama dengan barisan Jalaludin Rahmat sebagai Anggota Dewan Syura IJABI. Hal ini juga tersinalir dari aktifitas-aktifitasnya di Facebook dengan akun @abuhaidar.abi, yang memposting ajaran-ajaran Syiah.

Berikut beberapa screen shot yang diambil dari update status Facebook yang merupakan bagian pemahaman aliran Syiah:

 













Semoga Allah mematikan kita dalam keadaan husnul khotimah, dalam keadaan sebagai seorang Muslim hakiki yang memegang jalan para sahabat dan para salafusholeh, dan bukan jalannya orang-orang sesat yang mendapat petunjuk. Allahumma Ammin. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Syiah Di Singapura Shalat Fardhu 3 Kali Sehari

Singapura (Syiahindonesia.com) -  Syi’ah dan Ahmadiyah di negeri Singapura diberi 1 bangunan tempat ibadah khusus. Mereka dilarang mendirikan rumah ibadah lain atau berdakwah diluar bangunan tersebut. Penganutnya juga tidak disebut sebagai muslim. Negara dan masyarakat menyebut mereka sebagai Syi’ah atau Ahmadiyah.

Yang menarik, di tempat ibadah milik Syi’ah, penganutnya tidak menyelenggarakan “sholat” jum’at. Untuk ibadah harian, mereka hanya melaksanakan “sholat” subuh, zuhur dan magrib.

Di Singapura, Syi’ah betul-betul menampakkan perbedaanya dengan Islam. Sehingga kaum muslimin tidak mudah tertipu. Berbeda dengan Syi’ah di Indonesia. Mereka secara terang-terangan menjalankan ritual ajaran syi’ah mengatas namakan Islam atau Ahlul Bait. Andaikan mereka tidak buka-bukaan, tentu kaum muslimin di Indonesia tidak mudah dikelabui. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Sumber: Gensyiah.com

Syiah Adalah Bathil, Sesat Dan Kafir

Bogor (Syiahindonesia.com) - Sekitar 60 orang dari kalangan du’at di seluruh Indonesia menghadiri undangan berupa seminar Daurah Syar’iyyah yang diselenggarakan AQL Islamic Centre bekerjasama dengan al-Haiah al-‘alamiyah Li al-Ta’rif bi al-Islam, di Puncak, Bogor.

Dauroh yang diadakan selama 2 hari pada tanggal 12-14 Agustus itu, menghadirkan Syeikh Dawud bin Sulaiman al-Mahi, salah seorang ulama dari Arab Saudi sebagai pemateri utama, serta beberapa tokoh agama di Indonesia seperti Ust. Bahtiar Nashir, Ust. Farid Ahmad Okbah, dan Ust. Muhammad Zaitun.

Dauroh dengan tema ‘Alaikum Bisunnati” , membahas seputar kesesatan Syiah dan beberapa persamaannya dengan tasawwuf.

Dalam Dauroh yang di ketuai oleh Syaikh Kholid Al-Hamudi, pemateri Syaikh Dawud bin Sulaiman al-Mahi mejelaskan bahwa Syiah sangatlah berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari kelompok sesat yang lain, karena ajaran sesat ini disebarkan tidak dengan menggunakan dakwah, melainkan dengan tindakan ekstrim seperti peng-kafiran ataupun pembunuhan, hal ini disebabkan karena arah dari tujuan disebarkannya ajaran ini adalah karena sejatinya mereka menginginkan adanya sebuah Daulah Syiah.

Beberapa ringkasan dari materi dauroh oleh syaikh Dawud bin Sulaiman al-Mahi.

Setiap agama haruslah mempunyai sumber pegangan, baik agama itu benar maupun bathil.
Yahudi misalnya, mereka punya sumber agama mereka berupa at-Taurot, Talmud, sumber Hukum-Hukum Tak-tertulis yang menerangkan Taurat, kitab suci asal hukum-hukum Yahudi.
Nashroni, mereka punya sumber agama berupa kitab suci dan tradisi orang Nashroni.
Pun demikian dengan Islam, agama samawi ini mempunyai sumber hukum yang telah disepakati oleh ulama berupa al-Quran, as-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.

Jika kita sudah mengetahui sumber-sumber agama islam ini, maka harus ada metode untuk dapat memahami sumber-sumber ini, sehingga kita dapat beramal dengannya dan bisa menerapkannya dalam kehidupan.
Lantas bagaimana kita memahami sumber ini?

Jawabannya adalah, dalam memahaminya terjadi perbedaan diantara umat islam sampai mereka berpecah belah menjadi kelompok yang bermacam-macam, dan jumlahnya hingga mencapai 73 golongan.

Perhatikanlah golongan syiah beserta bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan! Darimana datangnya bid’ah-bid’ah tersebut?!

Seharusnya kita bersepakat atas sumber-sumber agama dan bersepakat pula dalam metode memahaminya agar kita bisa bersatu dan tidak berpecah belah. Jika terjadi perbedaan, maka kita bisa menerapkan firman Allah;

“dan jika kalian berselisih terhadap suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Quran) dan Rasul-Nya (as-Sunnah).” [An-Nisa:59]

Oleh karena itu bisa kita dapati pada kaum-kaum salaf, jika mereka berbeda mereka bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah dengan barometer yang telah kita sebutkan diatas (al-Quran dan as-Sunnah).

Dalam pembahasan kali ini, kita akan mengkaji bagaimana metode syiah dalam memandang sumber-sumber agama mereka. Mereka mengklaim bahwa agama mereka ini termasuk dari madzhab dalam islam, sama seperti madzhab-madzhab yang lain seperti Maliki, Hambali, Syafi’i, dan Hanafi, tak lain karena mereka berargumen bahwa sumber-sumber agama mereka sama dengan sumber-sumber agama Islam. Berikut ulasannya:

1. Al-quran menurut pandangan Syiah
a. Mereka meyakini bahwa al-Quran tidak bisa dijadikan hujjah tanpa adanya para wali (Imam Syiah)
b. Mereka meyakini bahwa para imam mereka mempunyai pengetahuan khusus mengenai al-Quran yang tidak seorangpun bisa menyamainya.
c. Mereka meyakini bahwa perkataan para imam itu bisa menghapus ayat-ayat al-Quran, dan perkataan mereka bisa menjadikan yang muqoyyad menjadi mutlaq, dan yang ‘amm menjadi khosh.

2. As sunnah menurut pandangan Syiah
As sunnah menurut mereka adalah apa saja yang berasal dari orang yang ma’shum, baik itu perkataan, perbuatan, maupun taqrir (persetujuan).1  Adapun yang dimaksud dengan orang yang ma’shum versi mereka Adalah rasulullah saw dan kedua belas imam mereka. Oleh karena itu, salah satu ulama konteporer mereka mengatakan bahwa, “sesungguhnya keyakinan terhadap kema’shuman para imam itu menjadikan hadits-hadtis yang berasal dari mereka itu shohih tanpa mensyaratkan tersambungnya sanad kepada Nabi sebagaimana yang disyaratkan oleh Ahlus Sunnah,2  hal ini karena imamah menurut mereka adalah penerus nubuwah,3  dan para imam itu sama seperti para Rasul, perkataan mereka adalah perkataan Allah dan perintah mereka adalah perintah Allah, mentaati mereka sama dengan mentaati Allah, dan bermaksiat kepada mereka sama dengan bermaksiat kepada Allah, dan para imam tidak berucap kecuali apa yang dari Allah dan apa yang diwahyukan Allah.4

3. Ijma’ menurut pandangan Syiah
Syiah tidak menganggap ijma’ para sahabat, kaum salaf dan ijma’nya umat islam sebagai sebuah ijma (kesepakatan). Dan dalam hal ini mereka mempunyai keyakinan yang berbeda-beda. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa perkataan imam adalah ijma’, dan yang lainnya berpendapat bahwa hal-hal yang menyelisihi umat islam itu terdapat petunjuk.

4. Adapun qiyas menurut syiah pastilah berbeda dengan jalan para sahabat dan salafus sholeh, hal ini karena al-Quran, as-Sunnah, dan ijma’ yang merupakan sumber-sumber Syiah ini berbeda dengan sumber-sumber Islam.

Dengan demikian, dapat disimpulkan dengan jelas bahwa agama Syiah sangatlah berbeda dengan ajaran Islam yang sebenarnya, sangat menyimpang jauh. Agama mereka bathil dan sesat, karena cara pandang mereka tentang sumber-sumber agama itu berbeda, maka berbeda pula agama yang mereka anut. Yang mengartikan bahwa Syiah itu bukan termasuk dari islam, juga bukan termasuk dari madzhab dalam Islam sebagaimana beberapa orang klaim dengan dalih bahwa madzhab dalam Islam tidak hanya berjumlah 4, namun 5. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Fote note:
[1] Muhammad Taqi Al Hakim, Al Ushul Al ‘Ammah Lil Fiqh Al Muqoron, hal 122
[2] Abdullah fayadh, Tarikh Al Imamiyah, hal 140
[3] Muhammad Ridha Al Mudhofar, ‘Aqoid Asyiah, hal 166
[4] Ibnu Babaweh, Al I’tiqodat, hal 106

Waspadalah, Buku Pendidikan Islam Terbitan Erlangga "Berbau" Syiah

Jakarta (Syiahindonesia.com) - Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMK Kelas XI kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga terindikasi ikut menyebarkan pemahaman Syiah.

Dalam halaman 5 buku terbitan penerbit Kristen tersebut, tertulis makna kosakata “ulil amri” dalam menjelaskan Surat An Nisa ayat 59:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Penulis, yang terdiri dari Hj. Iim Halimah; H. Abd. Rahman; H.A. Sholeh Dimyathi; dan H. Ridhwan itu menjelaskan makna “ulil amri” sebagai berikut:

“Para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Ada yang berpendapat bahwa maksud kata ‘penguasa’ adalah imam-imam di kalangan ‘ahlul bait’ (keluarga Nabi saw. Dari keturunan Ali dan Fatimah), ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah ‘penyeru-penyeru’ pada kebaikan dan ada pula yang berpendapat ‘pemuka-pemuka agama yang diikuti kata-katanya’.”
Penjelasan “ulil amri” dengan pemahaman bahwa mereka adalah Imam-imam Syiah bukanlah pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, melainkanpendapat yang berasal dari tradisi Syiah.

Dalam Tafsir Departemen Agama Republik Indonesia, disebutkan berikut, “…ulil `amri yaitu orang-orang yang memegang kekuasaan di antara mereka. Orang-orang yang memegang kekuasaan itu meliputi: pemerintah, penguasa, alim ulama dan pemimpin-pemimpin. Apabila mereka telah sepakat dalam suatu hal, maka kaum muslimin berkewajiban melaksanakannya dengan syarat bahwa keputusan mereka tidak bertentangan dengan isi Kitab Alquran. Kalau tidak demikian halnya, maka kita tidak wajib melaksanakannya, bahkan wajib menentangnya, karena tidak dibenarkan seseorang itu taat dan patuh kepada sesuatu yang merupakan dosa dan maksiat pada Allah SWT.”

Ibnul Jauzi menyatakan: “Mengenai ulil amri terdapat empat pendapat.

  1. Ulil amri adalah para pemimpin (umara’). Pendapat tersebut diungkapkan oleh Abu Hurairah, Ibnu ‘Abbas -dalam sebuah riwayat-, Zaid bin Aslam, as-Sudi dan Muqatil.
  2. Mmereka adalah para ulama. Pendapat ini diriwayatkan oleh Abu Thalhah dari Ibnu ‘Abbas. Ini juga merupakan pendapat Jabir bin Abdullah, al-Hasan, Abu ‘Aliyah, ‘Atha’, an-Nakha’i, adl-Dlahak, Khushaif juga meriwayatkannya dari Mujahid.
  3. Mereka adalah para shahabat Nabi radliyallahu ‘anhum. Ibnu Abi Najih meriwayatkannya dari Mujahid. Abu Bakar bin Abdullah al-Muzani juga berpendapat demikian.
  4. Mereka adalah Abu Bakar, Umar. Ini merupakan pendapat ‘Ikrimah.”
Dari keempat penafsiran tersebut tidak ada satupun yang menyatakan sebagaimana yang dinyatakan oleh penyusun, dan justru tafsir ayat bahwa ulil 'amri adalah mereka para imam-imam di kalangan ‘ahlul bait’ini sama dengan penafsiran oleh ulama tafsir Syiah.

Dalam Tafsir Al-Burhan, salah satu kitab tafsir Syiah dikatakan tentang ayat ini, bahwa Jabir Al-Anshari (ra) meriwayatkan:

Ketika Allah menurunkan ayat ini aku bertanya:

Ya Rasulallah, kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan Ulil-amri yang ketaatannya kepada mereka Allah kaitkan dengan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya?

Rasulullah saw menjawab:
Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku: Pertama, Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Al-Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Muhammad bin Ali yang dalam Taurat gelarnya masyhur Al-Baqir. Wahai Jabir, kamu akan menjumpai dia, sampaikan salamku kepadanya. Kemudian Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Al-Hasan bin Muhammad, kemudian dua nama Muhammad dan yang punya dua gelar Hujjatullah di bumi-Nya dan Baqiyatullah bagi hamba-hamba-Nya yaitu Ibnul Hasan, dialah yang Allah perkenalkan sebutan namanya di seluruh belahan bumi bagian barat dan timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoyahkan keimamahannya kecuali bagi orang-orang yang Allah kokohkan keimanan dalam hatinya.” { Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 494, 443-Qundusi al hanafi}. Wallohu musta'an. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Sumber: fimadani.com

9 Orang Syiah Dicabut Kewarganegaraannya Di Bahrain Karena Tindakan Terorisme



Bahrain (Syiahindonesia.com) - Pengadilan Bahrain mencabut kewarganegaraan sembilan orang Syiah lantaran telah melakukan "tindakan teroris" menurut amandemen Undang-Undang legislatif tentang perlindungan masyarakat dari aksi "terorisme".

Pengadilan telah menjatuhi hukuman kepada 15 orang Syiah dengan beberapa tuduhan, diantaranya adalah; menjalin komunikasi dengan orang-orang yang bekerja untuk kepentingan Republik Iran dan organisasi kelompok teroris guna merugikan keamanan dan stabilitas negara, serta pembentukan organisaasi teroris dengan tujuan untuk  menonaktifkan ketentuan hukum yang berlaku.

Salah satu dari mereka dibebaskan karena kurangnya bukti, sementara empat belas orang lainnya dihukum hukuman penjara mulai dari lima sampai lima belas tahun.

Sebuah sumber pengadilan mengatakan bahwa pengadilan memutuskan "hak empat belas terdakwa ketentuan berkisar antara 5 sampai 15 tahun, dan membebaskan satu orang terdakwa, serta memerintahkan pencabutan kewarganegaraan sembilan ornag terdakwa yang dihukum lantaran membentuk organisasi teroris dengan tujuan untuk menyelundupkan senjata ke wilayah Bahrain dan penyelundupan terhadap sekelompok tahanan kasus pidana yang ditunda dari pusat.”

Sebenarnya sudah dari dulu pihak berwenang Bahrain telah menjatuhi hukuman untuk kelompok Syiah, namun tanpa keputusan pengadilan dan tuduhan "merugikan keamanan negara." Ini termasuk 31 Syiah pada tahun 2012.

Di sisi lain, Kementerian Dalam Negeri memerintahkan kepada Bahrain Bahrain untuk melindungi status hukum kewarganegaraan Qatar, hal ini karena memetak-metakan status kewarganegaraan Qatar di Bahrain berdampak negatif atas stabilitas keamanan negara. (Nisyi/Syiahindonesia.com)
Sumber: dd-sunnah.net