Slide

Syiah Indonesia

Syubhat Dan Bantahan

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Tanya Jawab

Malaysia larang edarkan 3 buku syiah terbitan Indonesia

Syiahindonesia.com - Alhamdulillah, inilah salah satu kebijakan harus diteladani pemerintah Indonesia dari Malaysia untuk meredam syiah. Kementerian Dalam Negeri (KDN) Malaysia telah menetapkan pelarangan mengedarkan tiga buah buku syiah yang diterbitkan di Indonesia, karena tergolong menyebarkan doktrin yang bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah di negaranya, sebagaimana dilansir Syiah Bukan Islam pada Rabu (26/11/2014).

Sekretaris Bagian Pengendalian Publikasi dan Teks Al-Qur’an, Abdul Aziz Mohamed Nor menjelaskan, tiga buku yang diharamkan adalah “Pengantar Ilmu-ilmu Islam,” “Dialog Sunnah Syi’ah” dan “Tafsir Sufi Al-Fatihah Mukadimah.”

Buku “Pengantar Ilmu-ilmu Islam” ditulis oleh Murtadha Muthahhari dan diterbitkan Pustaka Zahra dari Jakarta, sedangkan “Dialog Sunnah Syi’ah” ditulis oleh A Syarafuddin Al-Musawi dan diterbitkan Penerbit Mizan Bandung. Sementara “Tafsir Sufi Al-Fatihah Mukadimah” pula ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat dan diterbitkan PT Remaja Rosdakarya, juga dari Bandung.”

“Jika ini dibiarkan, buku-buku tersebut dapat membahayakan ketertiban,” ujar Abdul Aziz kepada wartawan, tadi malam (25/11). Perintah larangan ini, lanjut Abdul Aziz, sesuai dengan Pasal 7 (1) Akta Mesin Cetak dan Penerbitan 1984 yang menjadi satu pelanggaran menurut ayat 2 Pasal 8 akta tersebut.

    “Adalah menjadi satu kesalahan jika pihak yang mencetak, mengimpor, memproduksi, mereproduksi, mempublikasikan, menjual, mengeluar, mengeliling, menawarkan untuk menjual, mendistribusikan atau ada dalam miliknya, bahan yang akan dikenakan perintah larangan itu.”

Abdul Aziz menambahkan, siapapun yang melanggar larangan ini bisa dipenjara maksimal tiga tahun atau denda maksimal RM20,000 atau keduanya. (adibahasan/arrahmah.com/syiahindonesia.com)

Emilia: "Karbala, Tanah yang Diberkahi Sebelum Makkah dan Madinah"

Syiahindonesia.com - Dalam status BBM nya, mantan Sekretaris IJABI (ormas Syiah) Pusat ini menuliskan pernyataan menyesatkan.

Pernyataan ini menggambarkan keyakinan Syiah mengenai kedudukan Tanah Suci Makkah dan juga Madinah yang berada dibawah derajat keberkahan tanah Karbala.

Ungkapan itu semakin membuat kita yakin bahwa aliran Syiah yang ada di Indonesia benar-benar sesat. Bukan lagi kitab-kitab ulama mereka yang menuliskan kesesatan-kesesatan Syiah. Tapi sudah diutarakan langsung oleh da'i-da'i mereka disini.

Gambaran sikap extremnya (ghuluw) mereka terhadap tanah Karbala adalah menjadikan Karbala sebagai syiar agama Syiah.

Bagi kaum Muslimin adalah sebuah kenikmatan besar jika bisa mendapatkan rezki umrah ke Mekkah, apalagi haji. Tapi bagi Syiah, belumlah afdhal jika dalam hidupnya tidak berziarah ke Karbala. Karena itu mereka punya menyediakan agen tour dan travel  yang dikhususkan kesana.

Begitu juga, pengagungan mereka pada tanah tempat terbunuhnya cucu Nabi tecinta, al-Husein radhiyallahu 'anhu ini sampai pada tahap menjadikan tanah itu sebagai tanah yang diperebutkan berkahnya dan dijadikan obat yang manjur bagi segala penyakit. Dan bahkan dijadikan pula sebagai tempat sujud.

 Dan masih ingatkan pernyataan extrem Presiden Syiah di Irak. Dimana dia menginginkan agar Qiblat umat Islam pindah ke Karbala. (Lihat videonya disini: http://www.youtube.com/watch?v=a8d3J-Pl9MQ )

Masihkah ada yang berpendapat bahwa Syiah itu tidak sesat? (Muh. Istiqamah/lppimakassar.com/syiahindonesia.com)

Syiah Berhasil Menyusup ke UIN Malang

Syiahindonesia.com - Gaung nama Universitas Islam Negeri (UIN) Malang kian jadi perhatian dunia. Salah satu  negara muslim yang menggandeng UIN adalah Iran. UIN Malang dijadikan pilihan karena kampus Islam yang berada di Jalan Gajayana ini dianggap berpotensi besar menjadi World Class University. Bentuk kerja sama itu sudah dituangkan dalam MoU (memorandum of understanding) yang dilakukan di UIN kemarin.

Hojjat Ebrahimian, Cultural Counselor Kedutaan Besar Iran di Indonesia menjelaskan bahwa kerja sama ini bertujuan meningkatkan hubungan antarnegara muslim. ”Indonesia dan Iran mestinya harus saling mendukung satu sama lain,” ujar Ebrahimian ditemui di UIN kemarin, lansir RadarMalang, (31/7)

Kelanjutan dari kerja sama yang sudah disepakati itu, Kedutaan Iran dalam waktu dekat bakal membangun Iran Corner di UIN.  Iran Corner ini sebagai tempat mahasiswa UIN untuk belajar bahasa Persia dan mempelajari kebudayaan dan politik di Arab, khususnya Iran. ”Kami berharap, antara Indonesia dan Iran bisa saling berbagi pengalaman dalam mengkaji budaya dan isu dunia,” tutur lulusan Teheran University ini.

Selain Iran Corner, juga akan dibuat aplikasi kerja sama dalam bidang seminar, kajian Iranian, dan Iraniology yang mencakup bidang keilmuan dan kebudayaan. Tak hanya itu, nantinya kedua negara ini akan melakukan pertukaran pelajaran dan dosen hingga pemberian beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang ingin belajar di Iran. ”Syaratnya hanya nilai yang baik, akhlak yang baik, dan mendapat rekomendasi dari kampus,” tutupnya. (cw2/c2/abm)

* Menurut berita yang diterima oleh Tim GenSyiah.com : UIN kecolongan karena ada oknum Syi’ah atau Tassayu’ di UIN. dan sudah diberi hukuman

Kisah Hizbulloh Lengkap (Bag. 5)

Invasi Israel dan Sikap Syi’ah

Syiahindonesia.com - Akan tetapi pada tahun 1982 M, tepatnya tanggal 6 Juni tahun itu, terjadilah peristiwa yang mengacaukan semua skenario mereka. Mereka semua dikejutkan oleh invasi Zionis Israel atas seluruh Lebanon Selatan, bahkan Israel sempat mengepung Beirut demi mengusir Yasir Arafat beserta segenap pemimpin Fatah dan milisi-milisi Palestina agar keluar dari selatan Lebanon. Jelaslah bahwa kesepakatan antara militer Israel dan pihak Nasrani Maranis telah terjadi dalam rangka mengusir orang-orang Palestina yang menjadi suatu kekuatan kompresif dalam masyarakat Lebanon. Terjadilah berbagai pembataian warga Palestina, yang paling besar di antaranya adalah Pembantaian Shabra dan Shatila, yang menewaskan tiga ribu orang Palestina, dan Zionis Israel –atas bantuan Nashrani Maranis- pun berhasil mengusir orang-orang Palestina dari selatan Lebanon dan Beirut.

Peristiwa ini pada awalnya sesuai dengan harapan Syi’ah,sebab mereka sejak dahulu menuntut agar orang-orang Palestina dikeluarkan dari selatan Lebanon, sebagai langkah awal pendirian negara mereka di sana. Akan tetapi pihak Zionis tidak lantas kembali ke markas mereka setelah mengusir orang-orang Palestina, namun tetap bercokol di Lebanon dan melakukan pendudukan militer atas seluruh wilayah selatan.

Kejadian ini menghancurkan harapan-harapan kaum Syi’ah untuk mendirikan negara mereka, mengingat bahwa mereka saat itu masih terpecah menjadi kelompok sekuler dan konservatif. Yang pada akhirnya kelompok konservatif memutuskan untuk memisahkan diri dari Harakah AMAL, dan melanjutkan kontak mereka dengan para pemimpin di Iran untuk mendapat dukungan mereka. Mereka lantas membentuk sebuah lembaga yang terdiri dari 9 orang untuk berangkat ke Teheran dan berjumpa dengan Al Khumaini. Mereka menyatakan keimanan mereka terhadap ajaran wilayatul faqih, yang konsekuensinya mengimani kekuasaan l Khumaini sebagai ‘faqih’ yang dimaksud, yang akan mengurus masalah kaum Syi’ah di Lebanon. Al Khumaini menyetujui lembaga tersebut dan mereka kembali lagi ke Lebanon demi memisahkan diri secara total dengan Harakah AMAL, dan membentuk harakah baru yang dikenal saat itu dengan nama Harakah AMAL Al Islamiyyah, dibawah kepemimpinan Abbas Al Musawi.

Iran memiliki campur tangan kuat dalam berdirinya harakah baru ini. Bahkan Iran sempat mengirim 1500 tentara revolusinya ke Suriah, lalu dari Suriah ke lembah Bikkaa di Lebanon. Mereka semua dikirim untuk melatih kemiliteran Harakah AMAL Al Islamiyyah,memberi bantuan finansial dan militer yang cukup kepada mereka. Dengan demikian, harakah yang baru ini mendapat dukungan dari dua negara besar di kawasan tersebut, yaitu Iran dan Suriah, dan di saat yang sama Suriah tetap mendukung Harakah AMAL yang nasionalis.

Berdirinya Hizbullah dan Penguasaan atas wilayah selatan

Perang sipil di Lebanon masih berkecamuk, sementara kekuatan Harakah AMAL Al Islamiyyah semakin bertambah hingga Abbas Al Musawi mengumumkan berdirinya Hizbullah pada bulan Februari tahun 1985 M sebagai ganti dari Harakah AMAL Al Islamiyyah. Tiga bulan kemudian, tepatnya bulan Mei 1985 M, Harakah AMAL yang dipimpin oleh Nabieh Barrie melakukan pembantaian terhadap warga Palestina yang menewaskan ratusan orang, dalam rangka pembersihan etnis Palestina yang masih ada di selatan Lebanon dan Bikkaa. Dari situ, mulai terjadi perselisihan di antara harakah AMAL dan Hizbullah, yang berakhir dengan perang besar di antara keduanya. Hizbullah berhasil menumpas Harakah AMAL tahun 1988 M. Hasilnya, 90% anggota Harakah AMAL beralih ke Hizbullah dibawah kendali Iran, sesuai dengan aturan wilayatul faqih dan didukung penuh oleh kekuatan Suriah. Bersamaan dengan itu, Harakah AMAL keluar dari sayap militer, dan hanya menjadi gerakan politik saja.

Meskipunwilayah tersebut telah dikuasai oleh Hizbullah, hanya saja ia mendapati bahwa markaz kekuatan pusatnya –yang berada di selatan Lebanon- masih dikuasai oleh Yahudi. Inilah yang mendorong Hizbullah untuk menguasai sebagian wilayah di Beirut, agar memiliki markaz sebagai titik tolak setiap gerakan. Hizbullah tidak bergerak ke Beirut timur tempat komunitas Nashrani, akan tetapi ke Beirut barat, terutama bagian selatannya. Hizbullah mulai menduduki tempat-tempat tersebut dengan kekuatan senjata, dan seluruh tempat itu adalah kantong-kantong Ahlisunnah.

Hizbullah kadang membangun fasilitas-fasilitasnya di tempat umum, dan kadang di tanah milik Ahlussunnah, akan tetapi Pemerintah Lebanon hanya berpangku tangan melihat itu semua, sampai wilayah selatan Beirut menjadi Syi’ah tulen, dan dikuasai sepenuhnya oleh Hizbullah.

Pada tahun 1989 M, Al Khumaini meninggal dunia dan menyerahkan jabatan pimpinan revolusinya kepada Ali Al Khamanei. Kondisi Hizbullah sendiri tidak mengalami perubahan, sebab ia masih terikat dengan aturan wilayatul faqih yang baru yang dipegang oleh Ali Khamanei. Pada tahun yang sama, pihak-pihak yang bertikai di Lebanon atas perantara Saudi bertemu di Thaif, untuk membikin kesepakatan dalam rangka menghentikan perang saudara di Lebanon. Di tahun yang sama pula, terjadi pembunuhan terhadap tokoh Sunni terbesar di Lebanon, yaitu Syaikh Hasan Khalid rahimahullah, selaku mufti Lebanon dari kalangan Sunni sejak tahun 1966 M. Ini dimaksudkan agar Ahlisunnahkehilangan kepemimpinan mereka, dan di waktu yang sama, Hizbullah muncul sebagai simbol Islam di Lebanon.


Perang Melawan Yahudi dan Berubah Sikap Terhadap Ahlussunnah

Hizbullah mulai mempersiapkan rencana untuk menggempur Yahudi demi membebaskan wilayah-wilayah mereka dan merencanakan sebagai tempat berdirinya negara Syi’ah. Demi tercapainya tujuan tersebut, kucuran dana pun mengalir deras dari Iran, di samping dari Suriah. Israel pun mengalami kekhawatiran hingga mereka melakukan pembunuhan terhadap Abbas Al Musawi yang menjadi Sekjen Hizbullah pada tahun 1992 M. Jabatan Sekjen akhirnya diambil alih oleh Hasan Nashrullah.

Di tahun yang sama, muncullah tokoh Sunni baru, dan Ahlisunnah Lebanon pun mulai berkumpul di sekitarnya. Dialah Rafiq Al Hariri yang menjabat sebagai PM Lebanon tahun 1992 hingga 1996 M. Ia mulai membangun kembali Lebanon, dan mendapat dukungan penuh dari banyak warga Lebanon.

Pada tahun 1996 M, Zionis Israel melakukan agresi brutal atas Lebanon, yang dikenal dengan operasi ‘Grapes of Wrath’. Sejak itu, jiwa patriotisme warga Lebanon mulai berkobar untuk melepaskan diri dari penjajahan Israel. Hizbullah mengumumkan pembentukan pasukan-pasukan Lebanon untuk melawan musuh Zionis. Pasukan tersebut adalah gabungan dari berbagai kelompok Lebanon yang bermacam-macam, akan tetapi mayoritas anggotanya dari Ahlisunnahyang mencapai 38%, Syi’ah 25%, Druz 20% dan Nashrani 17%.

Serangan-serangan pasukan Lebanon mengakibatkan ditarik mundurnya pasukan Zionis dari sebagian besar wilayah selatan Lebanon pada tahun 2000, kecuali daerah pertanian Shebaa. Hizbullah akhirnya menduduki seluruh wilayah tersebut, dan menolak keinginan Tentara Nasional Lebanon untuk menyebarkan pasukannya di wilayah tersebut. Bahkan Hizbullah mulai merampas fasilitas-fasilitas milik Ahlisunnahdi wilayah selatan dan di pegunungan Lebanon. Tidak sampai di situ, Hizbullah juga berani mengganggu sejumlah masjid, seperti Masjid Nabi Yunus, dan tanah-tanah wakaf milik masjid tersebut yang terdapat di daerah Al Jeyah.


Rafiq Al Hariri dan Gerakan Syi’ah

Di tahun yang sama yaitu ditahun keluarnya Yahudi dari Lebanon, Rafiq Al Hariri diangkat kembali menjadi PM Lebanon. Kesempatan ini digunakan olehnya untuk menampakkan jati diri dan keluarganya, dan menjadi simbol Sunni cukup dikenal yang menjadi pesaing terkuat sesungguhnya bagi gerakan Syi’ah di Lebanon.

Kekuatan Hizbullah terus bertambah, dan ia masih mencari kesempatan untuk mendirikan negara Syi’ah yang didukung oleh Iran dan Suriah. Akan tetapi terangkatnya pamor Rafiq Al Hariri menjadi masalahbesar bagi gerakan Syiah di Lebanon.

Pada tahun 2004 M, Al Hariri mengundurkan diri dari jabatan PM akibat perselisihan antara dia dengan orang-orang Suriah yang jumlahnya cukup banyak di tubuh tentara Lebanon. Kemudian terjadilah peristiwa berdarah yang sangat mengejutkan, tepatnya pada 14 Februari 2005 M dengan terbunuhnya Rafiq Al Hariri ketika berada dalam kendaraannya di Beirut, di tengah tersebarnya berbagai agen intelijen internasional yang beroperasi di Lebanon, seperti CIA, Perancis, Suriah, Iran dan Lebanon sendiri. Dengan demikian, AhlisunnahLebanon kembali kehilangan salah satu tokoh kharismatik mereka.

Pasca terbunuhnya Rafiq Al Hariri Lebanon guncang, sementara tuduhan internasional mengarah kepada Suriah.Dari situ masyarakat internasional menuntut agar Suriah menarik diri dari Lebanon. Maka Hizbullah melakukan demonstrasi besar-besaran pada 8 Maret 2005 demi mempertahankan keberadaan Suriah di Lebanon. Hal ini mendapat respon balik dari Gerakan Al Mustaqbal, yang merupakan gerakan keluarga Al Hariri di bawah pimpinan Sa’ad Al Hariri. Ia mendapat dukungan dari Democratic Gathering Bloc pimpinan seorang Druz yaitu Walid Jumblat, dan Hizbul Quwwah Al Lubnaniyyah yang mewakili kaum Maronis pimpinan Sameer Ja’ja’. Ketiganya melakukan demonstrasi besar pada tanggal 14 Maret 2005 dengan tuntutan keluarnya Suriah dari Lebanon. Sebab itulah demonstrasi tersebut disebut demonstrasi 14 Maret, dan berhasil mengeluarkan Suriah dari Lebanon di bulan yang sama. (nisyi/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

Kisah Hizbulloh Lengkap (Bag. 6)

Dilema Hizbullah dan Perang tahun 2006

Syiahindonesia.com - Setelah keluarnya Suriah, Hizbullah menghadapi dilema di Lebanon, lebih-lebih dengan makin kuatnya persaingan antar golongan pasca terbunuhnya Al Hariri. Sebab itulah Hizbullah memilih untuk beraliansi secara politik bersama kekuatan-kekuatan lain untuk ikut serta dalam pemilu parlemen Lebanon bulan Mei 2005 M. Ia bergabung dengan ketiga kelompok lain yaitu Gerakan Al Mustaqbal yang Sunni, Gerakan Jumbalat yang Druz –meski mereka sangat memusuhi kedua gerakan ini-, di samping itu,mereka juga bergabung dengan Gerakan politik Harakah AMAL. Aliansi ini dikenal dengan aliansi kwartet.Secara keseluruhan mereka berhasil meraih 72 kursi di Parlemen dari total 128 kursi. Dengan demikian, mereka menjadi mayoritas di parlemen, yang akhirnya menjadi bagian dari pemerintah Lebanon yang dipimpin oleh Fuad Seniora.

Hizbullah telah menekan dirinya sendiri, dan beraliansi dengan kelompok Sunni meski mereka berseberangan. Ini semua demi menampakkan bahwa Hizbullah ikut serta dalam kepentingan Nasional. Padahal Hasan Nashrullah sendiri tidak pernah hadir dalam sidang-sidang parlemen maupun muktamar umum mereka. Ia hanya mengirim utusannya dan bersikap kepada semua pihak sebagai atasan, sebagai persiapan untuk menjadi pemimpin masa depan atas mereka semua.

Bukti terbesar atas asumsi ini adalah terlibatnya Hizbullah dalam operasi militer melawan Zionis Israelyang terjadi pada tanggal 12 Juli 2006. Hizbullah berhasil menawan dua tentara Israel dan menewaskan delapan lainnya. Semua itu ia lakukan tanpa konsultasi sedikit pun dengan negara yang ia menjadi bagian dalam pemerintahannya; dan juga tidak berkonsultasi dengan faksi-faksi lain yang menjadi sekutunya dalam parlemen. Padahal operasi militer inilah yang menyeret negara seluruhnya –dan bukan hanya Hizbullah- dalam perang melawan tentara Israel.

Pada akhirnya terjadilah perang besar yang terkenal pada bulan Juli 2006 M. Israel terus-menerus menyerang Lebanon selama 33 hari penuh, dengan target menghancurkan bungker-bungker Hizbullah sekaligus Lebanon. Hizbullah melakukan serangan balik kepada Israel dengan menembakkan roket-roket, sehingga korban tewas dari rakyat Lebanon sangat banyak dalam perang ini.

Ketidak berhasilan tentara Israil menghentikan serangan roket Hizbullah dianggap sebagai ‘kemenangan besar’ bagi Hizbullah, sebab Yahudi telah menghentikan serangan udara mereka tanpa berhasil melumpuhkan sistem kekuatan roket Hizbullah, maupun membebaskan dua orang pasukannya yang ditawan Hizbullah.

Perang pun berakhir seiring dengan kehancuran besar yang dialami oleh rakyat Lebanon atas negerinya. Kehancuran tersebut merata di setiap daerah di Lebanon. Di samping itu, rakyat Lebanon merasakan eksistensi Syi’ah yang semakin kuat, yang tercermin melalui Hizbullah yang tetap memegang senjata canggih produk Iran-nya, dan didukung penuh oleh Suriah. Hal ini sengaja diciptakan agar semua orang merasa bahwa negara mereka sedang mengarah ke seorang tokoh Syi’ah tertentu, seiring dengan banyaknya simpati dari umat Islam secara umum atas Hizbullah dalam melawan Yahudi (Israil).

Menurut anda, apakah yang terjadi di Lebanon setelah itu?
Apa langkah-langkah yang ditempuh oleh Syi’ah selanjutnya dalam skenario mereka?
Bagaimana visi Hasan Nashrullah sehubungan dengan masa depan Lebanon?
Mengapa Hizbullah kalah dalam pemilu parlemen bulan Juni 2009 M, padahal Hizbullah semakin kuat?
Dan apa yang semestinya diperbuat oleh segenap umat Islam dalam menyikapi permasalahan ini?

KISAH HIZBULLAH 3

Dalam dua makalah sebelumnya, kita telah membicarakan berkenaan dengan kisah Hizbullah 1 dan 2 sekaligus pendirinya, hubungan Hizbullah-Iran dan Hizbullah-Suriah, serta megaproyek mereka untuk mendirikan Negara Syi’ah di Lebanon. Pembahasan kita berakhir pada meletusnya perang Lebanon tahun 2006 M di mana Zionis Israel gagal menghancurkan kekuatan Hizbullah, dan gagal membidik pemimpinnya. Hal ini mengakibatkan kegembiraan luar biasa di dunia Islam, dan kebanggaan besar bagi pemuda-pemuda Islam. Lebih-lebih mengingat mereka belum pernah menyaksikan kemenangan hakiki melawan Yahudi dalam peperangan sejak tahun 1973 M, yaitu sejak lebih dari 30 tahun! Orang-orang pun saling memberikan selamat kepada Hizbullah dan pemimpinnya, Hasan Nashrullah. Bahkan sebagian mengira bahwa Hasan Nashrullah adalah pemimpin gerakan seluruh umat Islam. Mereka seakan lupa latar belakang orang ini, yaitu Syi’ah Itsna Asyariah; yang memiliki permusuhan abadi terhadap Ahlisunnah, baik hal itu ia nampakkan ataupun tidak.

Hizbullah dan Kudeta Pemerintahan

Keluarnya Hizbullah dari perang Lebanon 2006 M dengan harapan dapat memanfaatkan momentum besar tersebut. Ia segera menetapkan untuk mengkudeta pemerintah Lebanon yang tidak lain ia adalah bagian darinya. Pada tanggal 30 Desember 2006 M, Hizbullah menggalang aksi besar-besaran di sekitar istana pemerintahan. Mereka bahkan mendirikan lebih dari 600 tenda agar aksi tersebut bertahan lebih lama. Mereka menuntut agar PM Sunni Fuad Seniora mengundurkan diri, padahal menurut undang-undang Lebanon, penggantinya juga harus Sunni; akan tetapi keinginan Hizbullah tadi menandakan bahwa mereka mampu merubah-rubah keadaan semau mereka, dan siapa saja yang akan menggantikan PM harus taat dan mendengar terhadap instruksi ‘pemimpin masa depan’ Lebanon, yang digambarkan sosok Hasan Nashrullah. Akan tetapi pemerintah tidak menggubris ‘instruksi’ Hasan Nashrullah tersebut, hingga aksi berkemah tadi berlangsung hingga 18 bulan berturut-turut!

Keadaan semakin runyam ketika Hizbullah melakukan operasi militer anarkis, dengan mengerahkan pasukan bersenjatanya untuk mengepung Beirut barat secara total, yang merupakan wilayah penduduk Ahlisunnah. Mereka mengancam akan menduduki wilayah tersebut, atau tidak akan melonggarkan kepungan sampai PM yang dimaksud mengundurkan diri. Hal itu terjadi pada 9 Mei 2008 M.

Rupanya masalah ini tidak lagi sekedar ‘bisikan hati’. Sesungguhnya masalah ini merupakan percobaan nyata di lapangan dengan bergeraknya milisi-milisi untuk menguasai titik-titik utama di ibukota Beirut. Bahkan ini sangat menarik perhatian, tatkala Walid Jumblat mengungkap apa yang terjadi enam hari sebelum pengepungan, tepatnya tanggal 3 Mei 2008M. Ia mengatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa dirinya menemukan dokumen surat-menyurat antara menteri pertahanan Lebanon Ilyas Almur dengan pihak intelijen tentara nasional Lebanon. Dokumen tersebut melaporkan adanya sejumlah kamera milik Hizbullah yang dipasang di airport Beirut. Jumblat juga menyebutkan bahwa di saat yang sama ketika persenjataan dilarang masuk ke Lebanon, ternyata arus pengiriman senjata mengalir deras dari Iran kepada Hizbullah. Artinya, tidak lama lagi Hizbullah akan menjadi satu-satunya kelompok bersenjata di Lebanon yang persenjataannya jauh lebih besar daripada tentara nasional Lebanon.

Kesepakatan Doha dan kesalahan Nashrullah

Pengepungan Beirut barat berlanjut selama 13 hari, hingga ditandatanganinya kesepakatan Doha untuk mengakhiri perang dan menyudahi aksi mereka. Akan tetapi, seiring dengannya bubar pula aliansi kwartet yang terbentuk antara gerakan Al Mustaqbal yang Sunni, Hizbullah dan Harakah AMAL yang Syi’ah, serta Partai Demokratik yang Druz. Mereka semua mendapati bahwa aliansi semacam ini adalah sangat sulit dipertahankan, dan berbagai kepentingan Ahlisunnah dan Syi’ah pasti akan saling kontradiktif. Dari sini, mulai lah kedua belah pihak saling melempar tuduhan dan bersaing ketat. Gerakan Al Mustaqbal atau Aliansi 14 Maret, kini meyakini bahwa Syi’ah sangat mungkin mengambil alih kekuasaan secara total di Lebanon. Hizbullah pun mulai menuduh Gerakan Al Mustaqbal sebagai kaki tangan Amerika dengan maksud menurunkan pamor mereka di mata rakyat Lebanon dan gerakan-gerakan Nasionalis lainnya. Tuduh-menuduh terus berlanjut antara kedua belah pihak, dan semakin menguat dari waktu ke waktu seiring dengan makin dekatnya Pemilihan anggota parlemen baru pada bulan Juni 2009 M. Akhirnya, Gerakan Al Mustaqbal yang dipimpin oleh Sa’ad Al Hariri ikut serta dalam Pemilu melawan Hizbullah yang dipimpin oleh Hasan Nashrullah. Masing-masing pihak mulai memamerkan kapabilitasnya untuk memimpin sekaligus menjatuhkan lawan politiknya.

Hasan Nashrullah telah membuat kekeliruan besar yang semestinya tidak dilakukan oleh seorang pakar politikus sepertinya. Akan tetapi Allah berkehendak untuk menyingkap apa yang ada di balik tabir… Dalam pidatonya menjelang Pemilu pada tanggal 29 Mei 2009 M, – yang teks pidatonya ada dalam situs resmi Hizbullah di internet-, bahwa jika kelompoknya menang dalam Pemilu, maka ia akan memasukkan persenjataan ke Lebanon dari Suriah dan Iran. Ia telah menampakkan bahasa Syi’ahnya yang kental, bahkan mengatakan: “Yang saya tahu ialah bahwa Republik Islam Iran, khususnya Imam pemimpin Revolusi yang mulia: Sayyid Al Khamenei tidak akan pelit untuk memberikan segalanya bagi Lebanon”.

Ia mengatakan secara jelas kepada rakyat Lebanon, bahwa pendanaan yang akan menjamin stabilitas dan kejayaan mereka akan datang dari pihak Syi’ah, dan ini adalah bujukan sekaligus ancaman, dan suatu hal yang menarik perhatian akan kuantitas Hizbullah dan relasinya.

“Pesan” tersebut sampai ke rakyat Lebanon, namun dalam bentuk yang berlawanan dari yang diharapkan Hasan Nashrullah. Rakyat Lebanon akhirnya sadar akan bahaya Syi’ah. Mereka tahu bahwa naiknya kelompok Hizbullah ke kursi pemerintahan, berarti bertambahnya kekuatan bagi Hizbullah, bukan bagi Lebanon. Di samping itu, kemungkinan berdirinya sebuah negara Syi’ah yang loyal kepada Iran dan Suriah menjadi dekat sekali. Dari sinilah rakyat Lebanon takut terhadap arah Hizbullah, dan ketakutan tersebut nampak di kotak-kotak suara saat Pemilu hingga mereka memberikan suaranya ke Aliansi 14 Maret, padahal Sa’ad Al Hariri tidaklah secakap bapaknya, mendiang Rafiq Al Hariri. Akan tetapi rakyat Lebanon telah menyadari sendiri akan bahaya momen ini, dan tidak ada lagi waktu untuk mengatakan bahwa Pemilu ini akibat tekanan Amerika, sebab ternyata Pemilu ini adalah pemilu yang bersih dan tidak ada satu pihak pun yang mengritik ketransparanannya.

Akhirnya Aliansi 14 Maret menang dalam Pemilu dengan merebut 14 kursi lebih banyak dari Hizbullah. Ini adalah angka yang besar dalam pemilu Lebanon, dan ini berarti bahwa masalah-masalah akan semakin jelas. (nisyi/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.