Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Teheran – Presiden Iran, Hassan Rowhani, Rabu (31/10), memperingatkan kemungkinan masa-masa sulit terhadap warganya ketika sanksi baru AS mulai berlaku pada Ahad depan. Namun dia mengaku akan berbuat terbaik untuk meredakan kondisi itu.

Amerika Serikat memberlakukan sejumlah sanksi terhadap Iran setelah Washington menarik diri dari kesepakatan nuklir tahun 2015 pada Mei lalu. AS mengaku langkah itu bertujuan untuk membatasi program nuklir Iran. Sanksi utama yang diberlakukan untuk menghentikan ekspor minyak Iran sepenuhnya.

Rohani menggambarkan langkah itu sebagai “ketidakadilan baru” yang tidak ditakuti oleh pemerintahnya. Namun di sisi lain, ia memperingatkan warganya akan kondisi sulit jika sanksi tersebut mulai berlaku.

“Selama beberapa bulan terakhir rakyat kami menghadapi masa-masa sulit dan beberapa bulan ke depan kemungkinan akan lebih sulit. Tetapi pemerintah akan menggunakan semua energinya untuk mengurangi masalah ini,” kata Rowhani seperti dinukil Reuters dari siaran radio dan tv Iran.

Biaya hidup meningkat dalam beberapa bulan terakhir di Iran, yang menyebabkan demonstrasi sporadis melawan eksploitasi dan korupsi. Para demonstran meneriakkan slogan anti-pemerintah dalam aksi mereka.

Nilai Riyal Iran mencatat rekor terendah terhadap dolar AS karena ancaman pemberlakukan kembali sanksi AS. Di lain sisi, warga Iran berbondong-bondong membeli dolar untuk melindungi tabungan sebagai antisipasi krisis.

Ahad lalu, Iran mulai menjual minyak mentah ke perusahaan swasta untuk diekspor sebagai bagian dari strategi untuk melawan sanksi.

Iran juga melakukan langkah menjual minyak mentahnya ke penawaran bursa. Pada penjualan pertama, Iran terpaksa menetapkan harga lebih murah dari yang biasa dijual. Hal itu karena tidak ada yang menawar dengan harga yang telah ditentukan. Kiblat.net

0 komentar: