Breaking News
Loading...

Menurut Hamka, Islam yang masuk di Nusantara terutama melalui Mesir, yang bermadzhab Syafi`i
Dalam buku yang dikutip Hamka melalui “The Effect of Western Influence on Native Civilisations in the Malay Archipelago”, kumpulan buah fikiran Prof. Dr Schrieke, menyebutkan karangan Ferrand dalam bukunya “L`Empire Sumatranis`, yang disalin dalam bahasa Melayu, disebutkan adanya sebuah armada terdiri dari 35 buah kapal-kapal Parsi, berlayar meninggalkan pulau Ceylon pada tahun 717 M, menuju Sriwijaya –sekarang Palembang-, dan tinggal disana selama lima bulan kemudian kembali berlayar menuju Tiongkok.

Hamka meyakinkan dan menjelaskan bahwa ke 35 buah kapal tersebut tidak diragukan adalah kapal Arab, meskipun dalam catatan Ferrand yang disalin Prof. Schrieke itu disebut kapal Parsi. Karena pada tahun 717 Masehi, kekuasaan Arab atau Islam lah yang telah meliputi tanah Iran. Zaman itu ialah masa pemerintahan Khalifah Bani Umayyah yang ketujuh, yaitu Sulaiman bin Abdul Malik, bertepatan dengan tahun 98 Hijriyah, artinya masih diabad ujung abad pertama hijriyyah.

Jika kita mengkaji, 2 tahun sebelum itu (715 M) angkatan Perang Islam di bawah Panglima Muhammad bin Qasim telah sampai menginjak bumi Hindustan-India-, dan tanah Iran khususnya serta Tanah Asia Tengah umumnya pada masa itu telah di dalam kekuasaan bani Umaiyah. Jika ada kapal berlayar dari Iran, maka ia adalah kapal Arab.

Maka Hamka menyebutkan bahwa nyatalah sejak dalam abad kedelapan, pengembaraan masih tetap bersambung ke pulau-pulau Melayu yang telah dimulai pada permulaan Islam itu. Ia tidak terputus,karena Sriwijaya pada masa itu dalam puncak kemegahannya. Saudagar-saudagar dari Arab dan Parsi dan Hindustan berniaga; membeli hasil bumi di Sriwijaya dan menjual kain-kain tenunan indah.

Meskipun pengarang-pengarang geografi Arab pada saat itu belum menyebutkan keadaan pulau-pulau ini sebelum abad kesembilan, sebagaimana keterangan Ferrand yang dikuatkan oleh Prof. Schrieke. Namun penelitian Hamka mendapatkan adanya ketersambungan silsilah sejarah kedatangan Islam di Nusantara. Sebab telah dapat dipahami adanya pelayaran dan perniagaan yang telah ramai sejak abad ketujuh dan delapan di Nusantara.

Pada abad kesembilan barulah penyelidik-penyelidik geografi mulai meletakkan gambaran atau deskripsi dari pulau-pulau yang mereka kunjungi tersebut. Hamka mencatat sejumlah tokoh yang secara tersirat menyebutkan tentang pulau-pulau Melayu dalam kitab-kitab karangan ahli ilmu bumi dari bangsa Arab dan Persia, yang sejak abad kesembilan telah menjelaskan atau menyebutkan nama-nama pulau yang mereka kunjungi atau temui,  Ibnu Khardazbah (820-855 M) dalam kitabnya Al Masalik wal Mamalik, Ibnu Faqih (wafat 902 M), Ibnu Rustah ( wafat 903 M) pada kitabnya Al `A`laqun Nafisah, Saudagar Sulaiman (wafat tahun 916 M) pada kitabnya Silsilatut Tawarikh, Al Mas`ud (wafat tahun 956 M) pada kitabnya Murujuz Zahab dan yang terakhir Ibnu Batutah pada pertengahan abad keempat belas (1345 dan1346 M) melalui kitabnya Tuhfat Nazzar fi Ghara`ib Amsar wa Aja`in Asfar  yang pada abad itu mengembara ke Nusantara dan menerangkan tentang kerajaan Islam di pantai utara Aceh, yaitu Pasai Samudra.

Maka dari beberapa penelitian Hamka tentang masuknya Islam pertama kali di Nusantara, Islam di Nusantara tidaklah berbeda dari Islam yang juga datang ke tempat lainnya, dari segi fiqih, tasawuf, dan aqidah, yang banyak dianut oleh umat Islam pada umumnya di Tanah Arab dan negeri-negeri Islam lainnya, yang bermadzhab Ahlusunnah wa Jamaah.

Menurut Hamka, Islam yang masuk di Nusantara terutama melalui Mesir, yang bermadzhab Syafi`i

Menurut Hamka, Islam yang masuk di Nusantara terutama melalui Mesir, yang bermadzhab Syafi`i, sedangkan India mayoritas bermadzhab Hanafi. Adapun Tasawufnya bermadzhab Ghazali Asy Syafi`i yang dianut mayoritas muslim di Nusantara, bukan Al Hallaj Asy Syi`i. Bahkan di Kerajaan SamudraPasai ketika itu sudah ada seorang guru Tasawuf tinggi dan diakui, bukan saja di dalam negeri, namun sampai mengajar di tanah Arab dan banyak murid-muridnya yang besar dalam keilmuan Tasawuf. Dituliskan oleh Syaikh Yusuf bin Isma`il an Nabhany dalam kitabnya `Jami Karamatil Aulyaa`, bahwa al Yafi`I Syaikh Tasauf yang terkenal di negeri Mekkah, berguru kepada seorang “Al-Jawy” (Bangsa Jawa) yang terkenal, namanya Syaikh Abu `Abdillah Mas`ud bin Abdillah Al Jawy. Ia adalah seorang Syaikh yang besar dan masyhur di negeri Aden dan sekitarnya. Dan beliau adalah termasuk orang-orang besar pengikut Syaikh dan Faqih Al `Uayah, yang pernah menuntut ilmu kepada al Faqih al Kabir Isma`il al Hadrami.  Hingga pada abad-abad selanjutnya muncul para tokoh-tokoh tasawuf dan mutakallim besar di Nusantara juga seperti Hamzah Fanshuri, Abdurrauf Singkel, Nuruddin Ar Raniri. Artinya telah sangat dekat hubungan antara para ulama dan masyarakat kerajaan di Nusantara pada pusat Islam di Tanah Arab dalam pemikiran, madzhab dan kebudayaannya. Hamka kemudian memberikan beberapa kesimpulan tentang teori masuknya Islam di Nusantara tersebut, dengan alasan dan perbandingan tentang Islam di Nusantara yang masuk di Nusantara yaitu melalui Tanah Arab, khususnya Mesir, bukan India atau Persia. (Lihat Prof. Dr. Hamka, Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1981, hlm. 216-217).


Hamka akhirnya berkesimpulan;

Pertama, Ibnu Batuthah menyaksikan bahwa raja Pasai bermadzhab Syafi`i.

Kedua, Ibnu Khaldun yang hidup sezaman dengan Ibnu Batuthah mengatakan dalam “Muqaddimah” nya bahwa negeri Mesir adalah penganut madzhab Syafi`I terbesar.

Ketiga, nama dan gelar-gelar raja Pasai yang mula-mula yaitu meniru gelar Raja-raja keturunan Shalahudin Al Ayubi di Mesir: Al Malik Saleh, Al Malikul Adil, Al Malikul Mansur dan sebagainya. Dan nama-nama Raja India dan Persia ketika itu tidak menggunakan gelar demikian. Sedang gelar Syah baru dipakai setelah Malaka.

Keempat, rupanya sudah orang Indonesia yang naik haji. Dan Ibnu Batutah mengatakan bahwa madzhab penduduk Mekkah yang umum ialah madzhab Syafi`i. Maka kalau pengaruh Islam dari India yang masuk terlebih dahulu, niscaya madzhab Hanafilah yang dipeluk oleh raja-raja Pasai yang gelar-gelar mereka itu diakui atau dianugerahkan oleh Khalifah Bani `Abbas yang ketika itu berkuasa di Mesir, di bawah naungan Raja-raja Memeluk.

Kelima, ada beberapa penyidik mengatakan bahwa besar pengaruh India atas ke Islaman di Indonesia karena faham mystic India itu terdapat amat mendalam pada ke Islamannya bangsa Indonesia. Maka setelah ditilik sejarah tasawuf Islam sejak abad keenam dan ketujuh itu, ternyata bahwa tasawuf demikian bukan saja mempengaruhi Indonesia, tapi juga seluruh dunia.

Keenam, ulama-ulama Islam yang mula-mula sekali tersebut namanya dalam sejarah, terutama sejarah tasawuf, yang hidup dipermukaan abad keempat belas, yaitu zaman kerajaan Pasai, di zaman Ibnu Batuthah, bukanlah menuntut ilmunya ke India atau ke Persia (Iran), tetapi ke tanah Arab.*

Penulis adalah alumni Ma`had Aly Imam Al Ghazali Surakarta

Hidayatullah.com

0 komentar: