Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Sebelum konflik 2011, warga Suriah -khususnya penduduk Damaskus- tidak menyaksikan kehadiran para peziarah Syiah ke kota tua Damaskus selain kunjungan wisata religius yang menumbuhkan kehidupan ekonomi di ibukota. Bentuk pariwisata ini telah berkembang pesat, dan bertujuan untuk menguasai setiap area yang memiliki landmark keagamaan yang terkait dengan tokoh Syiah.

Namun, setelah masa itu berlalu, mereka kemudian mengubah fitur-fitur kawasan serta mengalihkan ritual keagamaan ke barak-barak militer untuk mobilisasi dan menerapkan wajib militer sektarian. Selain menetapkan kontrol di atasnya, juga untuk menarik dan mengintimidasi penduduk setempat.

Pusat Penelitian Kepercayaan, sebuah proyek yang berkaitan dengan penyebaran Syiah di seluruh dunia, memperkirakan bahwa jumlah Syiah Suriah pada tahun 2013 adalah antara 300.000 dan 500.000 orang. Sumber lain mengatakan mereka terdiri dari 4 hingga 4,5 persen populasi. Angka ini yang paling mendekati kebenaran, terutama setelah terjadi mobilisasi kelompok Syiah dari Iran dan Lebanon di pedesaan ibukota dan beberapa distrik lain.

Penduduk ibukota Damaskus telah menyaksikan banyak praktik sektarian Iran, dimulai dengan perluasan kuil Syiah melalui Komite Rekonstruksi Tempat Suci, dan pembentukan “kantor koordinasi” yang mencakup sejumlah lembaga keagamaan, yang paling menonjol. Basisnya di distrik Al-Amin, di mana khutbah-khutbah agama yang sesuai dengan kebijakan Iran dirumuskan dan diawasi penyampaiannya.

Seorang pemilik toko di distrik Al-Amara kota tua Damaskus mengatakan bahwa, “Orang Iran bekerja secara konstan di kuburan dan distrik lama untuk menggali kuil apa pun yang dimiliki Ahlul Bait, dan membuatnya menjadi situs ziarah utama. Mereka kemudian membeli tanah dan rumah-rumah di sekitarnya, dan mendirikan Husseiniyah, membuat area yang dimiliki hampir seluruhnya oleh mereka.”

“Di makam Bab al-Saghir di Damaskus, mereka telah mendirikan sebuah kuil baru yang disebut kuil Martir Karbala. Di situs pemakaman ada sekelompok kuburan bagi para istri nabi, yang mereka telah sangat peduli dan menghabiskan jumlah besar untuk mengesankan para peziarah Iran yang melihat mereka. Orang Iran percaya bahwa itu sebenarnya adalah tempat yang didirikan ratusan tahun yang lalu dan baru ditemukan baru-baru ini,” tambahnya.

Penyebaran Syiah di Sekolah-sekolah Agama

Iran mencoba untuk menerapkan model Iraq di Suriah dan menyusup melalui lembaga agama, sekolah dan universitas dan mengalokasikan anggaran khusus untuk tujuan ini. Beberapa bulan yang lalu, kantor berita Tasnim Iran menerbitkan laporan tentang pendirian akademi agama di Damaskus setelah pertemuan antara Menteri Wakaf Agama dan kepala Dewan Strategis untuk Hubungan Luar Negeri di Iran. Perguruan tinggi ini akan berada di bawah otoritas “Forum Dunia untuk Kedekatan Sekolah-sekolah Pikiran Islam”, yang merupakan saah satu agensi Iran.

Iran juga telah membuka cabang dari Islamic Free University, yang dikenal sebagai Azad, di Damaskus, selain membuka sekolah dan seminari di daerah Mazanet al-Shaham, dan distrik al-Joura di dalam Kota Tua dan dekat kuil Syiah di sana.

Menurut penduduk setempat, pendirian seminari dan sekolah agama ini melayani sejumlah tujuan. Yang pertama adalah membangun kehadiran mereka di daerah-daerah ini dan memperluas basis Syiah mereka, karena lembaga-lembaga ini tidak terbatas pada pendidikan, tetapi juga memiliki aspek sosial dan layanan dan menyebarkan paham Syiah di antara penduduk daerah tersebut serta memobilisasi pemuda dan menggabungkan mereka ke dalam milisi dengan tawaran uang dan senjata gratis.

Salah seorang penduduk distrik Al-Amara mengatakan, “Uang dan makanan terus didistribusikan di wilayah kota tua Damaskus, dan Iran mengikuti kebijakan membujuk untuk membawa pemuda -terutama remaja- dan memasukkan mereka ke dalam milisi mereka. Dengan demikian mereka memenuhi dua tujuan:

Pertama mereka memenangkan pendukung dari kalangan pemuda dan membangun kendali atas pikiran mereka dengan menyediakan uang dan senjata, dan kedua mereka memastikan tidak adanya lawan atas kehadiran mereka di daerah itu dan tidak adanya pelanggaran keamanan di daerah-daerah ini.” Kiblat.net

0 komentar: