Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Moskow – Kementerian Luar Negeri Rusia mengungkapkan bahwa kehadiran pasukan Assad dan pasukan Rusia di perbatasan selatan menjamin keamanan Israel. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Verchinen.

“Situasi di wilayah perbatasan Suriah dekat Israel tenang,” kata Varshenin kepada kantor berita Rusia Sputnik pada Kamis (04/10).

Ia menjelaskan kondisi tenang itu karena pasukan pemerintah Suriah mengontrol perbatasan dan kehadiran polisi militer Rusia serta kembalinya pasukan PBB. Ini merupakan jaminan terbaik mengenai kekhawatiran dan ketakutan jika Israel khawatir berkaitan dengan keamanan.

Rezim Suriah menguasai seluruh perbatasan antara Suriah dan Israel setelah menguasai sebagian besar wilayah Suriah selatan (provinsi Daraa dan Quneitra) Juli lalu.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman merasa optimis bahwa kekhawatiran negaranya akan berkurang dengan masuknya pasukan rezim Suriah ke perbatasan Suriah-Israel. Dataran Tinggi Golan yang saat ini dikuasai oleh Israel akan terhindar dari api perang.

Lieberman mengatakan pada Agustus lalu bahwa Assad menginginkan front Golan lebih tenang. “Dari sudut pandang kami, situasinya sama seperti sebelum perang saudara, yang berarti ada orang yang bertanggung jawab dan pemerintah pusat,” katanya.

Saat ini, Rezim Suriah telah menguasai seluruh perbatasan antara Suriah dan Israel setelah mengalahkan oposisi di sebagian besar wilayah Suriah Selatan (Dar’a dan Quneitra) Juli lalu.

Dengan menyingkirnya oposisi dari wilayah itu, Israel mendapatkan ketenangannya kembali bersama rezim Suriah. Seperti diketahui, rezim Suriah dan Israel telah lama menjalin perjanjian damai sejak Mei 1974, di Jenewa, setelah Perang Oktober.

Dalam kesepakatan itu, Israel setuju menarik pasukannya dari wilayah yang diduduki dalam Perang Oktober. Kesepakatan lainnya adalah pertukaran tahanan perang antara kedua belah pihak, gencatan senjata dan menahan diri dari semua tindakan militer melalui darat, laut dan udara.

Kedua negara saat itu juga sepakat membangun zona persenjataan terbatas di kedua sisi garis gencatan senjata dan untuk mengerahkan pasukan internasional di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memantau pelaksanaan Konvensi. Kiblat.net

0 komentar: