Breaking News
Loading...



Oleh *Zulkarnain El Madury*

Kemenangan seorang tokoh Syiah yang duduk di DPR sebagai delegasi PDIP, perlu kajian mendalam untuk mencari titik terang Berapa jumlah syiah di Indonesia. Kalau ada Dapil seperti Jawa Barat misalnya, seorang calon lolos dalam pemilihan, paling tidak memiliki 100000 suara, kalau hal itu di urut dari yang paling sedikit suaranya. Maka jika dipatok dengan harga 200.000 suara. Artinya ada 200000 penganut syiah di Jawa Barat, untuk seorang calon DPR RI dari Syiah. Ini sangat memprihatinkan jika ada 23 calon DPR RI dari Syiah, berarti paling tidak ada 600.000 suara. Rp200.000 suara saja sudah sangat memprihatinkan, karena militansi penganut Syiah akan selalu dilatih sedemikian rupa untuk menghasilkan penganut Syiah yang militan.

Hal itu membuktikan perkembangan Syiah sangat begitu pesat di Indonesia, hal ini baru di Jawa Barat kita lakukan telaah mendalam terhadap perkembangan penganut Syiah di Indonesia. Belum wilayah-wilayah lainnya di Indonesia sudah dipastikan merebak seperti cendawan tumbuh di musim hujan, karena sikap peduli pentolan pentolan Syiah yang ada di Indonesia,  buat mereka berkembang pesat dan sulit terdeteksi.

Bila membaca dari beberapa grup syiah di WhatsApp, keberanian mereka menyatakan sikap takfir nya terhadap para sahabat Rasulullah dan penghinaan Nya kepada istri istri nabi, membuktikan kaderisasi penganut Syiah telah mencapai puncaknya, jumlah mereka yang tergabung di grup grup WhatsApp tersebut mencerminkan keberadaan Syiah yang sangat militan di dalam menghadapi kaum Sunni. Telah menjadi kebiasaan anak-anak muda Syiah yang terlatih untuk menghujat para sahabat dan istri Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam,  sebagai kader-kader masa depan Syiah di Indonesia

Silent majority Istilah yang dipakai sekarang, diam-diam menghanyutkan merambat daerah-daerah pedalaman mulai dari Jawa Timur hingga Jawa Barat dan wilayah-wilayah lainnya. Tentu yang sangat dibutuhkan adalah semangat para tokoh-tokoh Islam yang ada di Indonesia meningkatkan kejelian dan kepekaan untuk mendeteksi perkembangan penganut syiah di Indonesia. Nggak sekedar melalui oret-oretan pena menyebarkan kesesatan paham mereka. Namun juga dituntut lebih jauh kiprahnya menjadi benteng penghalang di wilayah-wilayah umat Islam agar tidak tergiur dengan bujuk rayu kehadiran syiah di wilayah tersebut.
Tidak bisa diremehkan kondisi Indonesia sekarang dengan segala kemungkinan yang menimpa bangsa, tokoh-tokoh Syiah tidak sekedar mengambil untung dari kondisi yang ada. Terutama anti Wahabi yang dipelopori oleh kelompok tertentu di Indonesia, menjadi pelindung paling depan atau Garda terdepan penganut Syiah.

Anti Wahabi tidak pernah berhenti sejak penganut Syiah berkembang pesat di Indonesia, tidak bisa kita biarkan begitu saja hanya dengan tulisan tulisan di atas kertas, tetapi diperlukan ketangkasan kita menangani wilayah-wilayah yang menjadi embrio dari perkembangan Syiah.

Seperti Pulau Madura, meskipun sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, tiba-tiba muncul gerombolan manusia dalam satu daerah di Sampang, sedangkan sebelumnya tidak ada kasak-kusuk terkait Berapa jumlah penganut syiah di daerah Sampang. Namun kemudian muncul kasus yang mencengangkan bahwa sebuah desa yang terpencil saja sudah banyak penganut Syiah di sana.

Belum lagi daerah lain mulai dari Banyuwangi sampai wilayah barat Jawa Timur, sudah pasti tidak terlepas dari cengkraman Syiah yang menggunakan siasat diam di dalam kerjanya guna merubah kondisi umat Islam pada kondisi Syiah. Dan kerja misionaris Syiah jangan seperti ini, memang sulit dipantau hanya dengan sekedar mendengar berita, mainkan perlu ada tim pemantau dari kaum Sunni yang siap bekerja 24 jam memantau perkembangan Sia di daerah-daerah.

Terlalu banyak energi dibuang oleh kita umat Islam, sedangkan makin banyak tulisan-tulisan yang menyulitkan Syiah, justru menjadi kendaraan misionaris Syiah dalam mengembangkan Syiah di wilayah Indonesia. Di Sumenep saja banyak orang yang menutup nutupi dengan kecerdasannya menulis artikel-artikel yang menutup akses Berapa jumlah syiah di Kabupaten Sumenep. Padahal peta perkembangan Syiah di Kabupaten Sumenep ini telah menjangkau beberapa pulau, pulau masa kambing Masalembu dan lain-lainnya, di kota saja perkembangan Syiah sudah banyak berubah cara berfikir beberapa keluarga besar PII, ketidakmampuan di dalam telaah keagamaan hanya tergiur dengan konsep pemikiran yang datang dari Iran, tak mampu mencerna setiap pemikiran yang didengarnya dari orang lain, akibatnya terdorong hatinya untuk mengakui kebenaran Syiah?,  walaupun tidak pernah mengerti apa itu Syiah


Semoga hal ini bisa menyadarkan para tokoh Islam, untuk lebih meningkatkan kualitas kerjanya di dalam membendung arus pemikiran Syiah yang semakin berkembang pesat di Indonesia, harus ada gerakan-gerakan Menghadang lajunya perkembangan Syiah dengan berbagai cara, terutama dengan menempuh cara-cara ilmiah dan pemantapan aqidah umat Islam di berbagai daerah, perlunya tim tim anti Syiah, memberikan bimbingan kepada masyarakat Islam tentang bahaya Syiah, meyakinkan mereka bahwa Syiah bukanlah Islam.

0 komentar: