Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Pasukan rezim pemerintah Syiah Suriah telah melepaskan sebuah operasi pemboman intens di kota Nawa yang berpenduduk padat di baratdaya, menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai lebih dari 100 orang, menurut para aktivis dan penyelamat.

Serangan udara, yang diluncurkan pada hari Selasa (17/7/2018) dan dilanjutkan pada hari Rabu (18/7/2018), menghantam rumah sakit satu-satunya yang dikuasai oposisi, menjadikannya tidak bisa lagi berfungsi dan menyebabkan puluhan korban dilaporkan.

Pemboman itu adalah bagian dari serangan militer rezim Nushairiyah – yang dimulai pada 19 Juni – pada wilayah-wilayah oposisi yang tersisa di wilayah barat daya, yang meliputi provinsi Deraa dan Quneitra yang mengitari perbatasan dengan Yordania dan perbatasan dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

Nawa, rumah bagi sedikitnya 100.000 orang, adalah pusat kota terbesar yang masih dikendalikan oleh oposisi di provinsi Deraa.

Serangan Rabu difokuskan pada kota-kota dan desa-desa di sekitar Nawa, membuat jalan masuk dan keluar dari kota itu menjadi jalur mematikan, menurut seorang aktivis lokal yang memakai nama Selma Mohammed.

Khaled Solh, kepala Pertahanan Sipil Suriah lokal yang dikenal sebagai White Helmets, sebuah kelompok penyelamat yang beroperasi di wilayah Suriah yang dikuasai oposisi, mengatakan mereka mendokumentasikan pembunuhan 14 orang.

Hanya satu ambulan yang bisa sampai ke kota dan warga sipil bergantung pada mobil mereka sendiri untuk membawa sedikitnya 150 orang yang terluka, tambah Solh. Dia mengatakan salah satu ahli ortopedi terakhir di kota itu tewas dalam serangan udara.

Serangan meningkat setelah gagalnya pembicaraan untuk menyerahkan kota pada hari Selasa, memicu gelombang perpindahan baru.

“Kami telah menyaksikan operasi serangan udara intensif sepanjang hari – tim kami telah menghitung sedikitnya 100 serangan udara yang merupakan pembalasan dari pasukan rezim pemerintah Suriah,” kata reporter Al Jazeera Stefanie Dekker, melaporkan dari Dataran Tinggi Golan, Rabu.

“Ini semua bagian dari operasi rezim Syiah Suriah untuk mendapatkan daerah ini kembali dari para oposisi,” tambahnya.

Ketika pemboman semakin intensif, terlihat dari seberang perbatasan di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel menunjukkan gumpalan besar asap membumbung di atas daerah Nawa.

Menurut Dekker, pengeboman itu “sangat dekat dengan tenda-tenda pengungsi Suriah” yang berkumpul di sepanjang perbatasan di kamp-kamp sementara setelah pertempuran baru di provinsi barat daya.

Serangan rezim Azzad telah membuat lebih dari 230.000 orang mengungsi, banyak dari mereka berlarian di tempat terbuka.

Jordan mengatakan tidak akan menerima pengungsi baru dan tentara Israel mengusir puluhan pengunjuk rasa yang mendekati perbatasan pada hari Selasa demi mencari perlindungan.

“Orang-orang ini sekarang terjebak di antara perbatasan yang tertutup dan di antara semakin meningkatnya serangan rezim pemerintah Suriah,” kata Dekker.

“Mereka masih berada di wilayah yang dikuasai oposisi. Setelah hidup di bawah oposisi selama sekitar empat tahun, mereka takut apa yang akan terjadi pada mereka jika ada semacam pembalasan dari pasukan rezim pemerintah Suriah,” jelas Dekker.

Dalam waktu kurang dari sebulan, pasukan rezim Suriah yang didukung oleh kekuatan udara Rusia telah menguasai sebagian provinsi Deraa barat daya, termasuk ibu kota provinsi dengan nama yang sama.

Kota Deraa adalah tempat awalnya oposisi melawan rezim Assad dan dikuasai lebih dari tujuh tahun yang lalu.

Bersamaan dengan serangan militer, rezim Assad telah melakukan kesepakatan “rekonsiliasi”, yang pada dasarnya merupakan suatu kapitulasi yang dinegosiasikan di sejumlah desa yang telah berada di tangan oposisi selama bertahun-tahun, untuk memulihkan kontrol rezim pemerintah di sana. Jurnalislam.com

0 komentar: