Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Puluhan ribu orang sejauh ini melarikan diri dari serangan rezim Syiah Suriah selama sepekan di daerah yang dikuasai oposisi di provinsi selatan Deraa, Suriah, menurut sumber-sumber lokal.

Pasukan yang setia kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad meluncurkan serangan militer pada 19 Juni yang bertujuan untuk merebut kembali provinsi-provinsi selatan Deraa, Quneitra dan sebagian dari Sweida, yang sebagian besar masih dipegang oleh para pejuang oposisi.

Sejak itu, sedikitnya 41 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya terluka, menurut Lawrence Adam, seorang wartawan dari kelompok media Nabaa yang dikelola aktivis di pinggiran kota Deraa.

“Sedikitnya 27 dari mereka yang tewas adalah warga sipil, termasuk lima anak dan sembilan perempuan,” kata Adam kepada Al Jazeera, Senin (25/6/2018).

Serangan itu telah mendorong sekitar 50.000 penduduk dari rumah mereka untuk mencari keselamatan, menurut dua sumber tersebut. Angka itu tidak dapat diverifikasi secara independen.

Menerbitkan seruan mendesak untuk bertindak, Adam mengatakan warga sipil melarikan diri ke kamp-kamp dan desa-desa yang masih tersedia di sepanjang perbatasan dengan Yordania dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

“Jika masyarakat internasional tidak merespon dengan cepat, kita akan segera menghadapi bencana,” kata Adam.

Pada hari Kamis (21/6/2018), PBB memperingatkan bahwa eskalasi di selatan Suriah bisa berdampak berbahaya bagi sekitar 750.000 warga sipil di daerah itu.

Setelah serangkaian kemenangan militer awal tahun ini di daerah-daerah sekitar ibukota, Damaskus, rezim Syiah Suriah Assad menetapkan tujuan untuk merebut kembali daerah yang dikuasai oposisi di Suriah selatan – baik melalui negosiasi atau militer.

Media rezim Nushairiyah Suriah mengatakan, rezim Suriah menembaki apa yang mereka sebut “pos teroris” di timur laut Deraa untuk menghancurkan persenjataan mereka. Pasukan rezim Suriah juga telah berkumpul di provinsi Sweida di dekatnya.

Namun sumber-sumber di lapangan mengatakan serangan itu juga ditujukan pada warga sipil di wilayah timur dan barat di sekitar kota Deraa.

“Keluarga yang tinggal di pinggiran timur Deraa terus melarikan diri dari rumah mereka menuju desa-desa dan kamp di sepanjang perbatasan Yordania yang tetap di bawah kendali oposisi atau tidak terpengaruh oleh pemboman,” kata Sami, seorang aktivis pro-oposisi di sisi timur Deraa pinggiran kota.

Menurut aktivis, yang namanya diubah karena alasan keamanan, sedikitnya 10 desa di Deraa sekarang kebanyakan kosong.

Di sisi barat provinsi itu, keluarga yang melarikan diri dari rumah mereka pindah ke desa-desa di sepanjang Dataran Tinggi Golan yang dijajah Isarel, menurut Jihad Hamza, aktivis pro-oposisi lainnya di Deraa.

“Banyak keluarga ketakutan dan pergi dengan terburu-buru untuk menyelamatkan hidup mereka,” kata Hamza.

“Baru pagi ini saja, sekitar 40 barel bom dan serangan udara menargetkan rumah-rumah warga sipil di desa-desa kecil di sisi barat provinsi itu,” tambahnya.

Fraksi-fraksi oposisi menguasai bagian-bagian kota dan daerah Deraa di barat dan timurnya. Kelompok oposisi juga mengontrol wilayah di sepanjang perbatasan dengan Yordania dan Dataran Tinggi Golan yang dijajah oleh Israel. Jurnalislam.com

0 komentar: