Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Jelang tengah malam, tiba aksi unjuk rasa berubah jadi gaduh. Sejumlah WNA mengamuk dan merusak fasilitas di rudenim. "Ada 20 unit CCTV (kamera pengawas) yang mereka rusak," kata Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Fitra ketika dikonfirmasi di Balikpapan, Sabtu (21/4).

Selain kamera pengawas, para penghuni rudenim juga merusak pintu-pintu blok ruangan dan tanaman di taman di halaman.

Sempat tenang sebentar, Sabtu (21/4) 01.00 Wita dini hari mereka kembali membuat keributan. Mereka memukul galon dan beberapa benda sehingga menimbulkan suara gaduh. Beberapa dari mereka juga berhasil melepas pintu blok kamar penampungan. Di tangan mereka siaga kayu panjang.

"Mereka juga ingin dipindahkan ke tempat lain di luar Balikpapan," kata Kapolres. Pada 2015, sebagian dari mereka pernah menempati Rumah Jabatan Kepala Imigrasi Balikpapan di belakang Kantor Imigrasi, Jalan Jenderal Sudirman, Klandasan, Balikpapan, lansir Tribunnews.com, (24/4/18).

Namun, karena jumlahnya yang cukup banyak dan bebas berkeliaran, mereka menjadi sumber keresahan warga setempat sehingga kemudian dipindahkan lagi ke Rudenim di Lamaru, Balikpapan Timur, sekitar 25 kilometer dari pusat kota Balikpapan.

"Keinginan kami sebenarnya sederhana saja, ingin menuju ke negara yang mau menampung kami karena di Afghanistan sudah tak ada harapan. Di Indonesia kami hanya transit," kata Abdullah, satu seorang penghuni Rumah Detensi asal Afghanistan. (albert/syiahindonesia.com)

0 komentar: