Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Sebuah konvoi 46 truk yang membawa bantuan kemanusiaan telah memasuki Ghouta Timur melalui sebuah pos pemeriksaan yang dikendalikan rezim untuk pertama kalinya dalam waktu yang sekian lama, namun pasokan medis penting malah disita oleh militer rezim Syiah.

Robert Mardini, kepala operasi Timur Tengah untuk Komite Palang Merah Internasional – the International Committee of the Red Cross (ICRC), mengatakan dalam sebuah tweet pada hari Senin (5/3/2018) bahwa sebuah konvoi yang membawa bantuan yang sangat dibutuhkan untuk puluhan ribu orang sedang dalam perjalanan ke Ghouta Timur, lansir Aljazeera.

Konvoi tersebut juga membawa perlengkapan bedah dan obat-obatan, serta 5.500 kantong makanan dan tepung yang cukup untuk 27.500 orang.

Ali al-Za’tari, seorang pejabat senior PBB untuk konvoi tersebut, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa akan membutuhkan waktu berjam-jam untuk melepaskan bantuan tersebut di daerah kantong yang dikepung, dan kemungkinan baru akan meninggalkan Ghouta Timur di malam hari.

Seorang pejabat World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa rezim Assad malah memerintahkan untuk melucuti 70 persen obat-obatan keluar dari konvoi, mencegah peralatan pengobatan trauma, perlengkapan bedah, insulin dan bahan vital lainnya mencapai daerah tersebut.

ICRC membenarkan beberapa peralatan medis telah disita namun tidak memberikan rincian.

Lebih dari 700 warga sipil terbunuh dalam serangan udara yang dimulai sejak 18 Februari.

Daerah tersebut, yang menampung 400.000 orang, telah dikepung oleh rezim Nushairiyah sejak kelompok oposisi bersenjata menguasai pada pertengahan 2013.

Pemboman di wilayah tersebut menewaskan sedikitnya 45 warga sipil pada hari Senin, kata the Syrian Observatory for Human Rights (SOHR).

Monitor perang yang berbasis di Inggris itu mengatakan sedikitnya 19 korban tewas di kota Hammuriyeh, di mana bom barel dijatuhkan.

SOHR mengatakan bahwa jumlah korban tewas dapat meningkat karena banyaknya korban yang terkepung di bawah reruntuhan.

Za’tari mengatakan bahwa dia “tidak senang” mendengar laporan pengepungan ketat di dekat titik persimpangan ke Ghouta Timur meskipun ada kesepakatan bahwa bantuan tersebut dapat didistribusikan dengan aman.

“Kita perlu diyakinkan bahwa kita akan bisa memberikan bantuan kemanusiaan dalam kondisi baik,” katanya.

Gencatan senjata 30 hari yang dipilih dengan suara bulat oleh anggota Dewan Keamanan PBB pada 24 Februari sebagian besar gagal bertahan.

Warga Ghouta Timur, yang terletak di sebelah timur Damaskus dan dikenal sebagai pembuat roti ibukota, sebelumnya telah menyuarakan skeptisisme mereka terhadap “jeda kemanusiaan” lima jam usulan Rusia yang dimulai pada hari Selasa lalu. Jurnalislam.com

0 komentar: