Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Serangan udara mematikan dan tembakan artileri berlanjut pada hari Selasa (20/02/2018) dengan lebih dari 100 orang di daerah Ghouta di Suriah terbunuh, sehingga jumlah warga sipil yang tewas menjadi 250 selama 48 jam terakhir, lapor sebuah pemantau perang.
Itu adalah korban tewas dua hari tertinggi sejak sebuah serangan kimia 2013 di daerah kantong terkepung tersebut, yang menewaskan ratusan orang, the Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mengatakan, lansir Aljazeera.
Monitor perang yang berbasis di Inggris itu mengatakan 106 orang tewas akibat pemboman pada hari Selasa.
Enam rumah sakit di daerah kantong oposisi Suriah telah diserang selama dua hari, tiga rumah sakit rusak dan beberapa orang terbunuh, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Saya terkejut dan tertekan oleh laporan serangan mengerikan terhadap enam rumah sakit di Ghouta Timur selama 48 jam terakhir,” kata Panos Moumtzis, koordinator kemanusiaan regional PBB untuk krisis Suriah.

Selain enam rumah sakit tersebut, rumah sakit utama lainnya diserang hingga tidak dapat beroperasi pada hari Selasa, kata Perhimpunan Medis Amerika Suriah (the Syrian American Medical Society).
“Dari kemarin sampai saat ini, kita telah menyaksikan semua jenis tembakan di lingkungan kita,” Syams, ibu dua anak, mengatakan kepada Al Jazeeradari Ghouta Timur.
“Pesawat tempur belum berhenti beputar di atas kota. Ketika tembakan berhenti sementara, mereka mulai menembaki rudal pada kami,” katanya.
Serangan udara tanpa henti dan tembakan artileri yang diluncurkan oleh pasukan rezim Syiah Suriah membuat penduduk di pinggiran kota Damaskus dalam keadaan panik.
Khalid Abulabed, seorang dokter lapangan di pinggiran kota Damaskus, yang dikepung sejak 2013, menggambarkan situasi saat ini sebagai “gila dan bencana.”
“Ini tak terlukiskan, ini mengingatkan saya pada yang biasa kita lihat di Aleppo – pemboman siang dan malam,” kata Abulabed kepada Al Jazeera.
“Tidak ada yang dikecualikan dari penembakan, bukan di sekolah, bukan di daerah perumahan, bahkan pasar, yang meningkatkan jumlah orang yang menjadi martir dan terluka.”
Ratusan orang terluka dalam serangan tersebut.
Warga mengatakan tidak ada tanda-tanda kehidupan di daerah tersebut – yang menampung hampir 400.000 orang – terutama karena kurangnya kebutuhan dasar, termasuk makanan dan obat-obatan.
“Kami sampai pada titik di mana kita bahkan tidak meninggalkan rumah selama pemboman ini sehingga jika kita diserang, kita mati bersama,” kata Syams.
Serangan yang dimulai pada hari Ahad dilaporkan menandai serangan darat yang akan segera diluncurkan oleh Rezim Assad, kata Observatorium Suriah.
Ghouta Timur adalah daerah oposisi terakhir yang tersisa di sekitar timur Damaskus, dan dikepung oleh pasukan rezim Nushairiyah Bashar al-Assad sejak tahun 2013.
PBB dan organisasi hak lainnya terus-menerus menyerukan gencatan senjata permanen dan meminta pemerintah untuk mencabut blokade “melumpuhkan” tersebut.
Akibat pengepungan yang ketat, konvoi bantuan belum dapat memberikan banyak makanan dan persediaan medis yang sangat dibutuhkan, dan akses keseluruhan ke daerah kantong masih “sangat tidak memadai.”
Pada 14 Februari, pengiriman konvoi hanya mencapai 2,6 persen dari perkiraan 272.500 orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan, menurut Ali al-Za’tari, koordinator kemanusiaan PBB di Suriah.
Kurangnya komoditas membuat penduduk hanya memiliki dua pilihan utama dan langka untuk tetap bertahan, termasuk beras dan roti
Menghadapi kekurangan makanan yang parah, ditambah dengan kenaikan harga pangan yang tajam, banyak warga yang terancam mati kelaparan.
“Tidak ada lagi yang tersedia karena pengepungan. Anda bahkan tidak dapat menemukan pemilik toko untuk menjual sesuatu di tengah serangan ini – kami kelaparan,” katanya.
“Jika kita tidak mati karena tembakan, kita akan mati karena kelaparan.
Pengepungan tersebut juga memaksa dokter seperti Abulabed untuk melakukan prosedur medis terhadap orang-orang yang terluka menggunakan peralatan “seadanya”.
“Kami bahkan tidak memiliki akses ke peralatan medis yang memadai,” kata Abulabed.
Pada hari Selasa, UNICEF mengeluarkan sebuah pernyataan kosong untuk mengungkapkan “kemarahan” atas anak-anak yang kehilangan nyawa mereka akibat gelombang serangan terbaru.
“Apakah orang-orang yang menyebabkan penderitaan masih memiliki kata-kata untuk membenarkan tindakan barbar mereka?” kata Geert Cappelaere, direktur regional UNICEF. Jurnalislam.com

0 komentar: