Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Mukalla – Al-Qaidah in Arabian Peninsula (AQAP), melalui amirnya Qasim Al-Raymi, menegaskan akan fokus memerangi kelompok (Syiah) Hutsi di Yaman. Untuk itu, ia menyeru agar tidak memicu munculnya ancaman lain yang dapat melemahkan kelompoknya.

“Ya, kita akan berusaha keras dan semua usaha kita mengarah pada hal itu,” katanya dalam sebuah wawancara yang disiarkan situs Al-Malahim Media, akhir bulan April. “Tugas kita untuk menyatukan usaha dalam memerangi Hutsi dengan segala cara,” imbuhnya.

Yaman sendiri telah dilanda kekacauan sejak akhir 2014, ketika pemberontak Hutsi dan pasukan yang setia kepada mantan Presiden Ali Abdullah Saleh menyerbu ibukota Sanaa dan bagian lain dari negara itu. Lebih dari 7.500 orang telah tewas dan 40.000 lainnya mengalami luka-luka.

Untuk membuktikan komitmennya, Al-Raymi menjelaskan peristiwa yang terjadi tahun 2013 silam. Di mana, para delegasi pemerintahan Hadi di Yaman mendatangi AQAP untuk bergabung dalam perang melawan Hutsi karena sama-sama berasal dari entitas Sunni.

“Mereka menyarankan agar kami mencurahkan seluruh usaha untuk menimpakan kerugian terhadap Hutsi dan tidak terlibat dalam pertempuran dengan pemerintah Yaman,” ujarnya.

Pengganti Nasir al-Wuhaisyi ini lalu menyatakan, telah menyambut baik gencatan senjata di Yaman dengan dua syarat. Pertama, meminta pemerintah untuk bertindak independen dan menjamin tidak adanya campur tangan Amerika Serikat dalam urusan internal Yaman. Kedua yaitu permintaan agar para delegasi meneliti ulang konstitusi yang telah diterapkan dan menjamin penerapan syariat Islam di dalamnya.

“Para delegasi dan Amir AQAP saat itu, Nasir al-Wuhayshi, telah menandatangani gencatan senjata dengan syarat dua syarat tersebut,” kata Al-Raymi.

Namun, ia menjelaskan, Presiden Hadi menolak untuk bertemu para delegasi tersebut. Padahal, merekalah yang diminta oleh Hadi untuk mengadakan gencatan senjata dengan mujahidin. Menurutnya, gencatan senjata itu dibatalkan atas permintaan AS.

“Setelah itu, Amerika melancarkan serangan dan membombardir (Yaman) untuk mengumumkan semua itu. (Hadi) tidak lain adalah agen untuk mereka,” katanya.

Terkait upaya perundingan tersebut -meskipun gagal- sejumlah pengamat menilai Al-Qaidah memiliki taktik yang fleksibel. Terutama dalam peperangan yang kompleks dan multi dimensi seperti yang berkecamuk di Yaman. (kiblat)

0 comments: