Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Tak lama setelah rudal jelajah AS rudal menghantam pangkalan udara Suriah yang diduga menjadi titik peluncuran serangan senjata kimia, kepala staf angkatan udara Suriah langsung memeriksa kerusakan dan memuji para pilotnya. Salah satu pilot diketahui sebagai sosok yang menerbangkan jet tempur dengan senjata kimia yang menembakkan rudalnya ke kota Khan Sheikhoun, tempat di mana ratusan warga sipil tewas akibat serangan.

Pilot itu mungkin sebagai penanggun jawab penembakan senjata kimia, tapi Jenderal Ali Abdullah Ayyoub secara umum memuji para perwira dan prajurit di pangkalan udara Sharyat. Mereka pada gilirannya berjanji untuk terus membasmi oposisi yang mereka sebut sebagai “teroris” di Suriah. Demikian menurut laporan pejabat Suriah kepada kantor berita SANA dalam sebuah video.

Pada kenyataannya, pasukan Suriah mungkin melakukan serangan gas karena telah mengalami keputusasaan. Moral pasukan Rezim saat itu juga sedang mengalami titik terendah. Hal inilah yang diungkapkan oleh para pejabat AS dan faksi-faksi perjuangan di Suriah.

Sejak serangan senjata kimia, angkatan udara rezim Suriah telah memindah pesawat tempur dari beberapa pangkalan ke pangkalan Hmeimim milik Rusia dekat Latakia. Rusia telah mengambil alih operasi udara di wilayah tengah dan utara Suriah. Mereka setidaknya melakukan tujuh serangan terhadap sasaran sipil pada hari Jum’at, selain beberapa lainnya pada hari Sabtu. Dalam serangan udara Rusia hari Sabtu di Urom al-Joz, sebuah kota kecil di provinsi Idlib, 20 warga sipil tewas. Khan Sheikhoun menjadi target selanjutnya.

Untuk diingat, pasukan Rezim telah mengalami serangan-serangan masif dari oposisi pada sejak 2012. Tapi sejak intervensi udara Rusia dimulai pada September 2015, rezim dapat merebut kembali wilayah yang dikuasai oposisi. Kemenangan terbesar dicapai pada bulan Desember, ketika pasukan Assad dan sekutunya dari Iran dan Hizbullah mengusir pasukan oposisi dan mayoritas penduduk dari Aleppo timur.

Akan tetapi, semangat itu menjadi anjlok beberapa pekan lalu, yakni ketika pasukan oposisi Suriah mencetak kemajuan pesat di provinsi Hama. Berdasarkan hal ini, para pejabat AS dan juru bicara oposisi menyebut keberhasilan tersebut membuat militer Suriah melakukan pembalasan dengan menggunakan senjata kimia.

“Rezim Suriah telah berada di bawah tekanan kuat,” kata seorang pejabat senior militer AS kepada wartawan di Washington pada Jum’at lalu. Dia mengatakan bahwa oposisi marangsek untuk menguasai lapangan udara di Hama, pusat helikopter dan fasilitas manufaktur bom yang diduga barel. Bom barel, yang terdiri dari pecahan peluru dan sisa-sia logam dikemas dalam tong dengan bahan peledak, dijatuhkan secara rutin dari helikopter di daerah perumahan di zona yang dikuasai oposisi di seluruh Suriah.

Kehilangan pangkalan udara Hama adalah kemunduran yang signifikan bagi Rezim Assad. Analis AS menilai bahwa penggunaan senjata kimia terkait dengan keputusasaan Rezim dalam menghentikan oposisi dari merebut posisi-posisi strategis mereka.

Seorang juru bicara oposisi Suriah menambahkan bahwa kerugian Rezim Assad sangat besar semenjak serangan dimulai pada tanggal 21 Maret. Pasukan oposisi telah menangkap lebih dari 20 kota dan desa, serta 50 pos-pos militer di pedesaan Hama. “Pasukan rezim menarik diri tanpa menunjukkan perlawanan,” kata juru bicara pasukan darat Jaisyul Izzah, Letnan Mahmoud. “Oposisi masuk beberapa mil dari bandara militer, yaitu sekitar 50 mil dari Shayrat,” imbuhnya.

Serangan mendadak itu membuat Rezim Assad seolah tak berkutik. Mahmoud mengatakan bahwa Rezim telah kehilangan lebih dari 700 tentara. Selain itu, pasukan oposisi juga berhasil merebut atau menghancurkan 40 tank dan kendaraan lapis serta senjata berat lainnya.

Mahmoud mengatakan operasi militer itu telah membuat rezim Assad kelelahan. Ia juga menilai bahwa pasukan Rezim tidak lagi memiliki kemauan untuk melawan. Satu-satunya kekuatan yang digunakan adalah pasukan Hizbullah Lebanon dan milisi Iran yang dikirimkan ke Suriah dari Iraq, Afghanistan, dan negara-negara lain.

AS mungkin mengaku telah memotong dukungan untuk pasukan oposisi pada akhir tahun lalu ketika gencatan senjata terbaru mulai berlaku. Tapi Mahmoud mengatakan bahwa oposisi kembali menerima rudal anti-tank TOW dan senjata kecil lainnya setelah mereka berkumpul kembali dan mendirikan pusat operasi gabungan baru di provinsi Hama. Beberapa hari setelah serangan terus menerus di Hama itulah pasukan rezim Suriah mulai menggunakan senjata kimia.

Pada tanggal 25 Maret, helikopter rezim menjatuhkan bom yang penuh dengan gas klorin di pusat medis di kota Lataminah, utara dari Hama, sehingga menewaskan dua orang, melukai 30 lainnya dan merusak fasilitas medis. Keesokan harinya, bom barel kedua yang mengandung klorin dijatuhkan ke posisi Jaisyul Izzah di kota yang sama, setidaknya 20 pejuang dilaporkan kesulitan bernapas.

Pada tanggal 30 Maret, bom barel tambahan yang mengandung klorin dijatuhkan di Lataminah dan desa terdekat, yang menjadi penyebab sulitnya bernafas, muntah, dan pusing. Kemudian pada tanggal 3 April, sebuah bom barel dijatuhkan di kota Habit, selatan Khan Sheikhoun, yang menyebabkan sedikitnya 20 orang mengalami kesulitan bernapas.

Penggunaan senjata itu mungkin menimbulkan dampak yang diinginkan Rezim Assad. “Dengan penggunaan senjata tersebut, kami berpikir itu adalah kesalahan besar untuk menahan kami, terutama karena begitu banyak pejuang kita dipengaruhi oleh gas,” kata Mahmoud. “Kami terpaksa mundur,” imbuhnya seraya menegaskan bahwa serangan gas di Khan Sheikhoun jelas merupakan balas dendam terhadap warga sipil atas kemajuan oposisi.

“Rezim hanya berusaha menekan oposisi untuk menghentikan kemajuan militer mereka di utara Hama,” katanya. “Mereka berpikir bahwa moral para pejuang akan dihancurkan oleh serangan Khan Sheikhoun dan tempat-tempat lainnya. Padahal kamilah yang bisa menentukan, kami akan terus melanjutkan pertempuran,” tandasnya. (kiblat)

0 komentar: