Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Sanaa – Situasi konflik telah memperburuk tatanan sosial masyarakat di Yaman. Pasalnya,  sekitar 2,5 juta wanita Yaman belum menikah.

Akibat kekacauan yg ditimbulkan pemberontak lebih dari seperempat wanita dari jumlah tersebut telah berusia lebih dari 30 tahun. Karena buruknya keadaan negara, belum ada laporan valid tentang sensus penduduk di Yaman. Menurut data tahun 2009, jumlah wanita yang belum menikah sebesar 2 juta orang.

Al Arabiya mengkonfirmasi pada Rabu (22/03), data terbaru jumlah wanita yang belum menikah terus meningkat hingga mencapai 2,5 juta orang. Berdasarkan laporan tahun 2016, Yaman menduduki peringkat sembilan di kawasan Arab dengan perbandingan 30% anak perempuan belum menikah. Ini menjadi fenomena sosial yang memperburuk negara Yaman.

Menurut studi, bahwa perempuan aktivis dan banyak terlibat dalam kehidupan sosial cenderung lebih cepat menikah. Sedangkan pria, sering menunda pernikahan karena faktor ekonomi, tradisi keluarga, dan sebab lain yang berkaitan dengan keadaan pribadi.

Menurut Zekra, seorang mahasiswi berusia 30 tahun,  para pria lebih suka gadis-gadis muda yang tidak punya banyak pengalaman hidup. Sehingga mereka akan mematuhi tanpa merasa berat hati. Adapun seorang guru bernama Lamia Ali berusia 40 tahun mengaku pesimis untuk menikah. Menurutnya sudah terlambat baginya untuk menikah.

Peneliti sosial Suleiman Abdullah menegaskan bahwa fenomena ini meningkat seiring adanya pemberontakan oleh Syiah Hutsi. Konflik yang melanda Yaman telah menyebabkan kerusakan kondisi ekonomi dan sosial. Selain itu, tradisi suku kerap kali menghalangi pernikahan anak perempuan. Dimana orang tua lebih memilih untuk menikahkan putrinya dengan kerabat dan anggota sesuku.

Ditambah lagi kecenderungan masyarakat Arab untuk menggelar acara pernikahan yang mewah dan mahal juga mempengaruhi hal tersebut. Oleh sebab itu, 38 organisasi dan badan amal bekerja sama guna menyelesaikan masalah ini. (kiblat)

0 comments: