Syiahindonesia.com – Salah satu strategi paling berbahaya dari ajaran Syiah dalam menyebarkan paham mereka adalah melakukan pemalsuan sejarah Islam. Mereka menulis ulang fakta sejarah, menambah-nambahkan kisah, memalsukan riwayat, dan menokok-nambah narasi yang bertujuan merusak citra para sahabat, menggiring opini tentang imamah, serta membangun legitimasi palsu bagi keyakinan mereka.
Artikel ini mengurai bukti-bukti konkret bagaimana Syiah melakukan pemalsuan sejarah sejak awal kemunculannya hingga masa kini.
1. Pemalsuan Kisah Perebutan Kekhalifahan setelah Wafatnya Nabi ﷺ
Syiah mengklaim bahwa:
-
Abu Bakar, Umar, dan Utsman merebut kekuasaan dari Ali
-
Ali dipaksa baiat
-
Fatimah marah dan meninggal dalam keadaan murka kepada Abu Bakar
-
Umar datang membakar rumah Fatimah
Padahal seluruh riwayat tersebut tidak sahih, bahkan banyak yang dipalsukan oleh perawi Syiah.
Fakta Sejarah: Ali Sendiri Membaiat Abu Bakar dan Umar
Dalam Shahih Bukhari disebutkan:
فَبَايَعَ عَلِيٌّ أَبَا بَكْرٍ
“Ali membaiat Abu Bakar.”
(HR. Bukhari)
Syiah menolak hadis sahih ini, lalu membuat narasi tandingan bahwa Ali terpaksa. Ini bentuk pemalsuan untuk menurunkan wibawa tiga khalifah pertama.
2. Pemalsuan Peristiwa “Pembakaran Rumah Fatimah”
Ini adalah salah satu hoaks terbesar dalam sejarah versi Syiah.
Tidak ada satu pun kitab sejarah Sunni yang sahih yang menyebut:
-
Umar membakar rumah,
-
Fatimah terluka,
-
Fatimah keguguran janin bernama Muhsin.
Semua ini bersumber dari kitab-kitab Syiah belakangan, dan bertujuan menciptakan kebencian kepada Umar.
Padahal Allah memuji para sahabat:
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)
Syiah justru membuat cerita yang bertentangan dengan ayat ini.
3. Pemalsuan Riwayat Tentang Imam Ali
Syiah memalsukan banyak riwayat untuk mengangkat derajat Ali secara berlebihan.
Contoh riwayat palsu:
“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.”
Hadis ini palsu menurut para ahli hadis seperti Al-Bukhari, Ibn Taimiyah, dan Ad-Daruquthni.
Mereka juga membuat hadis bahwa:
-
Ali lebih utama dari Abu Bakar dan Umar,
-
Nabi menunjuk Ali sebagai khalifah di Ghadir Khum,
-
seluruh sahabat berkhianat kecuali beberapa.
Semua itu hanyalah narasi syiah untuk mendukung konsep imamah, bukan fakta sejarah.
4. Pemalsuan Sejarah tentang Aisyah Radhiyallahu ‘Anha
Syiah memfitnah Aisyah dengan:
-
menuduh beliau memulai perang Jamal karena ambisi dunia
-
menuduh beliau melanggar perintah Nabi
-
menuduh beliau memusuhi Ali
Padahal Nabi ﷺ memuji Aisyah:
فَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ
“Keutamaan Aisyah atas seluruh wanita seperti keutamaan tsarid atas makanan lainnya.”
(HR. Bukhari)
Syiah memalsukan sejarah untuk menjatuhkan kehormatan istri Nabi dan ibu kaum mukminin.
5. Rekayasa Kisah “Kezaliman Sahabat”
Syiah memalsukan sejarah untuk menuduh sahabat:
-
murtad setelah Nabi wafat,
-
menyelewengkan sunnah,
-
menolak wasiat Nabi tentang Ali,
-
menindas Ahlul Bait.
Padahal para sahabat adalah generasi terbaik.
Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat).”
(HR. Bukhari)
Memfitnah sahabat = merusak sejarah Islam dari akarnya.
6. Pemalsuan Peristiwa Karbala
Syiah menjadikan tragedi Karbala sebagai sarana propaganda dengan menambahkan:
-
jumlah pasukan musuh yang dibesar-besarkan,
-
peristiwa dramatik yang tidak ada dalam riwayat sahih,
-
kutukan kepada para sahabat,
-
ritual ratapan yang tidak ada di zaman Nabi.
Fakta sejarah menunjukkan:
-
kriminal utama adalah Ubaidillah bin Ziyad (rezim Umayyah),
-
bukan sahabat Nabi,
-
bukan Sunni,
-
bukan Ahlus Sunnah.
Namun Syiah memalsukan kisah agar umat membenci sahabat dan Sunni.
7. Pengubahan Fakta dalam Kisah Ghadir Khum
Syiah mengklaim bahwa Nabi ﷺ menunjuk Ali sebagai khalifah di Ghadir Khum.
Kalimat mereka:
“Man kuntu mawlahu fa ‘Aliyyun mawlahu.”
Ahlus Sunnah sepakat bahwa arti mawla adalah teman, orang dekat, pemimpin spiritual, bukan khalifah politik.
Tidak ada sahabat yang memahami bahwa Nabi menunjuk Ali sebagai pengganti beliau.
Rekayasa tafsir ini adalah inti pemalsuan Syiah untuk membangun doktrin imamah.
8. Pemalsuan Kitab-Kitab Sejarah
Banyak literatur Syiah berisi cerita fiktif, seperti:
-
Kitab Sulaim bin Qais (kitab yang terbukti palsu),
-
riwayat-riwayat tanpa sanad,
-
cerita-cerita yang muncul ratusan tahun setelah peristiwa terjadi.
Para ulama mengatakan buku ini:
-
tidak dikenal di masa awal Islam,
-
penuh kontradiksi,
-
dipenuhi unsur kebencian terhadap sahabat.
Dengan fondasi sejarah palsu ini, Syiah membangun seluruh ideologi mereka.
9. Penggunaan Sejarah Palsu untuk Politik Modern
Iran sebagai negara Syiah menggunakan sejarah palsu untuk:
-
menciptakan narasi “penindasan terhadap Ahlul Bait”,
-
memobilisasi massa di Lebanon, Irak, Suriah, Yaman,
-
menuduh Sunni sebagai musuh Ahlul Bait,
-
menghalalkan pemberontakan terhadap pemerintahan Sunni.
Propaganda mereka menyebar melalui media, film, drama, dan acara keagamaan.
Kesimpulan: Pemalsuan Sejarah adalah Strategi Utama Syiah
Berdasarkan bukti-bukti di atas, jelas bahwa Syiah:
-
memutarbalikkan fakta sejarah,
-
memfitnah sahabat,
-
membuat cerita palsu demi mendukung imamah,
-
mengganti riwayat sahih dengan kisah emosi,
-
menjadikan sejarah sebagai alat politik dan propaganda.
Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia harus sangat waspada terhadap narasi sejarah versi Syiah, karena di situlah akar penyebaran akidah sesat mereka.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: