Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Ada kejanggalan dalam pemilihan Ketua Umum PBNU yang digelar Rabu malam (05/08). Jumlah pemilik suara yang hadir dan jumlah akhir hasil voting tidak sama.

Pemungutan suara untuk memilih Ketua PBNU diikuti oleh seluruh ketua tanfidziyah PCNU dan PWNU se-Indonesia. Sebelum sidang dimulai,mereka harus melalui verifikasi berlapis dan ketat.

Setelah verifikasi dilakukan, Ahmad Muzakki selaku pemimpin sidang memulai proses pemungutan suara sekitar pukul 22.45 WIB.

“Dari total pemilik suara 508 se-Indonesia, yang sudah hadir melalui proses berlapis di ring ini adalah  sebanyak 378,” kata Ahmad Muzakki di arena sidang Pleno Alun-alun Jombang, Rabu malam (05/08).

Dari jumlah tersebut berarti pemilik suara yang hadir telah lebih dari 50 persen. Artinya, jumlahnya telah melebihi batas minimal quorum. Pimpinan sidang kemudian mengetok palu dan membaca Al Fatihah untuk memulai pemungutan suara.

Selanjutnya para perwakilan PCNU dan PBNU itu melakukan pemungutan suara. Seusai pemungutan suara panitia kemudian melakukan penghitungan suara.

Setelah penghitungan suara, kejanggalan terjadi. Di awal, pemimpin sidang menyatakan bahwa pemilik suara yang hadir adalah sebanyak 378. Akan tetapi setelah dilakukan penghitungan dan tabulasi, total suara menjadi 417.

Hasil pemungutan suara menunjukkan KH Said Aqil Siradj memperoleh 287 suara. Disusul As’ad Said Ali dengan 107 suara, dan KH Sholahudin Wahid alias Gus Sholah sebanyak 10 suara.

Sementara, Idrus Ramli, Tuan Guru Hilmi Muhammadiyah, Gus Mus dan Muhammad Adnan masing-masing mendapat 1, 3, 1 dan 2 suara. Dua suara menyatakan abstain. Selain itu empat suara dinyatakan rusak karena salah nama.

Seperti diketahui bahwa Ketum PBNU sekarang ini disinalir sebagai penganut agama Syiah, sebagaimana dibuktikan dalam salah satu ceramah tertutup yang menampakkan dengan jelas keyakinannya tentang Syiah. Hal ini berbeda dengan sikapnya di hadapan publik yang selalu membantah dirinya Syiah. (nisyi/kiblat.net/syiahindonesia.com)

0 comments: