Syiah dan Fitnah terhadap Khalifah Al-Walid
Syiahindonesia.com - Sejarah Islam awal seringkali menjadi medan pertempuran narasi yang tidak pernah surut, terutama ketika dibaca melalui kacamata ideologis yang sempit. Salah satu tokoh yang paling sering menjadi sasaran tembak dalam literatur polemik Syiah adalah Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, penguasa Dinasti Umayyah yang memerintah dari tahun 86 H hingga 96 H. Dalam berbagai kitab dan ceramah yang beredar di kalangan Syiah, Al-Walid digambarkan sebagai sosok yang zalim, fasiq, bahkan dituduh melakukan tindakan-tindakan yang melampaui batas kemanusiaan. Tuduhan-tuduhan ini bukanlah kebetulan sejarah, melainkan bagian dari grand narrative Syiah yang berusaha mendiskreditkan seluruh Dinasti Umayyah, termasuk Al-Walid, guna memperkuat klaim politik dan teologis mereka. Artikel ini akan membedah secara kritis bagaimana fitnah terhadap Al-Walid dibangun, apa motif di baliknya, dan bagaimana umat Islam di Indonesia harus menyikapinya agar tidak terjebak dalam narasi sesat yang menyesatkan.
Untuk memahami mengapa Al-Walid menjadi sasaran fitnah, kita harus terlebih dahulu memahami konteks politik dan teologis pada masanya. Al-Walid bin Abdul Malik adalah putra dari Khalifah Abdul Malik bin Marwan, seorang pemimpin yang berhasil menstabilkan kekuasaan Umayyah setelah periode fitnah yang panjang. Al-Walid mewarisi kekuasaan yang sudah mapan dan melanjutkan kebijakan ayahnya dengan cukup sukses. Di bawah pemerintahannya, ekspansi Islam mencapai puncak kejayaannya. Pasukan Muslim berhasil menaklukkan Afrika Utara hingga ke Maroko, menyeberang ke Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal), dan menaklukkan Sindh di anak benua India. Ini adalah pencapaian yang luar biasa, yang menunjukkan bahwa Al-Walid bukanlah pemimpin yang lemah atau tidak kompeten. Namun, bagi Syiah, keberhasilan Umayyah adalah ancaman eksistensial. Semakin sukses Umayyah, semakin jauh harapan mereka untuk mengembalikan kekuasaan kepada keturunan Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, menciptakan citra buruk tentang Al-Walid menjadi salah satu strategi untuk meruntuhkan legitimasi Umayyah di mata umat.
Salah satu tuduhan paling populer yang dilontarkan Syiah terhadap Al-Walid adalah bahwa ia adalah seorang peminum khamr (minuman keras) dan gemar berfoya-foya. Tuduhan ini biasanya merujuk pada kisah-kisah yang tidak memiliki sanad yang sahih, bahkan banyak di antaranya berasal dari sumber-sumber Syiah sendiri yang jelas tidak netral. Dalam kaidah ilmu hadis, sebuah riwayat tidak dapat diterima jika perawinya adalah seorang pendusta atau memiliki bias ideologis yang kuat. Syiah seringkali mengutip riwayat dari kitab-kitab seperti Al-Kafi atau Bihar Al-Anwar yang penuh dengan narasi fiktif tentang keburukan para khalifah. Padahal, jika kita merujuk pada kitab-kitab sejarah yang lebih objektif seperti Tarikh Ath-Thabari atau Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Ibnu Katsir, kita akan menemukan bahwa Al-Walid adalah seorang yang teguh dalam menjalankan syariat, meskipun ia juga manusia yang tidak luput dari kesalahan. Tuduhan peminum khamr ini adalah bentuk tafsiq (pengkafiran karena kefasikan) yang tidak memiliki dasar yang kuat.
Tuduhan lain yang lebih serius adalah bahwa Al-Walid pernah berniat mengubah Ka'bah dan memindahkan Hajar Aswad ke Suriah. Kisah ini sering dijadikan senjata oleh Syiah untuk menunjukkan bahwa Al-Walid adalah seorang yang mengingkari syariat dan ingin menghancurkan simbol-simbol Islam. Namun, jika kita telusuri lebih dalam, kisah ini berasal dari riwayat yang sangat lemah dan bertentangan dengan fakta sejarah. Al-Walid memang melakukan renovasi besar-besaran pada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, tetapi itu adalah bentuk pengabdiannya kepada Islam, bukan penghinaan. Renovasi yang ia lakukan justru memperindah dan memperluas masjid-masjid suci, sebuah warisan yang masih bisa kita lihat hingga hari ini. Menuduh seseorang ingin memindahkan Hajar Aswad tanpa bukti yang sahih adalah fitnah yang sangat keji. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
Wal-ladzīna yu'dzūnal-mu'minīna wal-mu'mināti bighairi maktasabū faqad ihtamalū buhtānaw wa itsmam mubīnā.
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzab: 58)
Ayat ini menjadi peringatan keras bagi siapa saja yang menyebarkan fitnah terhadap seorang Muslim, terlebih lagi terhadap seorang pemimpin yang telah berjasa besar bagi umat. Fitnah terhadap Al-Walid bukan hanya dosa sejarah, tetapi juga dosa teologis yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Selain tuduhan-tuduhan di atas, Syiah juga sering menyerang Al-Walid dengan isu-isu seputar kehidupan pribadinya, seperti pernikahannya atau hubungannya dengan keluarganya. Mereka menuduh Al-Walid sebagai sosok yang tidak menghormati orang tuanya, atau yang menikahi wanita-wanita yang tidak halal baginya. Tuduhan-tuduhan ini biasanya didasarkan pada cerita-cerita yang tidak memiliki dasar yang jelas dan seringkali saling bertentangan satu sama lain. Misalnya, ada yang menuduh Al-Walid menikahi putri dari saudara sepersusuannya, namun tidak ada bukti otentik yang mendukung klaim ini. Dalam Islam, tuduhan zina atau pernikahan yang tidak sah adalah tuduhan yang sangat berat dan memerlukan empat orang saksi. Jika tidak ada saksi, maka penuduh harus dihukum cambuk delapan puluh kali. Syiah yang melontarkan tuduhan ini tanpa bukti yang sahih telah melanggar hukum Islam itu sendiri. Mereka telah melakukan qadzf (menuduh berzina) yang merupakan dosa besar.
Motif utama di balik fitnah terhadap Al-Walid adalah untuk menciptakan kebencian terhadap Dinasti Umayyah. Syiah memiliki doktrin bahwa kekuasaan setelah Nabi Muhammad SAW harus berada di tangan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Oleh karena itu, mereka memandang semua khalifah sebelum Ali, termasuk Abu Bakar, Umar, Utsman, dan seluruh khalifah Umayyah, sebagai perampas kekuasaan. Untuk memperkuat klaim ini, mereka harus menggambarkan para khalifah tersebut sebagai orang-orang yang buruk, zalim, dan tidak layak memimpin. Al-Walid, sebagai salah satu khalifah Umayyah yang paling sukses, menjadi target yang empuk. Jika mereka bisa menjatuhkan Al-Walid, maka mereka bisa menjatuhkan seluruh Dinasti Umayyah. Ini adalah strategi historical revisionism yang berbahaya, karena mengubah fakta sejarah untuk kepentingan ideologis.
Dampak dari fitnah ini sangat besar, terutama di Indonesia. Banyak umat Islam di Indonesia yang tidak memiliki pemahaman yang mendalam tentang sejarah Islam awal, sehingga mudah terpengaruh oleh narasi-narasi Syiah yang beredar di media sosial, buku-buku, atau ceramah-ceramah. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa apa yang mereka baca atau dengar adalah bagian dari propaganda untuk menyesatkan umat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk kembali kepada sumber-sumber yang otoritatif dan objektif. Kita harus belajar sejarah Islam dari kitab-kitab yang ditulis oleh ulama Ahlus Sunnah yang memiliki sanad yang jelas dan tidak memiliki bias ideologis. Kita juga harus kritis terhadap setiap informasi yang kita terima, terutama yang berkaitan dengan tokoh-tokoh sejarah Islam.
Bagaimana cara mengantisipasi penyebaran ajaran sesat Syiah yang memfitnah Al-Walid? Pertama, kita harus memperkuat pemahaman kita tentang sejarah Islam yang benar. Kita harus mengetahui bahwa Al-Walid adalah seorang khalifah yang berjasa, yang telah memperluas wilayah Islam dan membangun infrastruktur yang bermanfaat bagi umat. Kedua, kita harus waspada terhadap narasi-narasi yang mencurigakan. Jika ada yang menuduh Al-Walid sebagai peminum khamr atau ingin memindahkan Hajar Aswad, kita harus bertanya: dari mana sumbernya? Apakah sanadnya sahih? Apakah perawinya terpercaya? Ketiga, kita harus menyebarkan informasi yang benar tentang Al-Walid dan Dinasti Umayyah. Kita harus melawan fitnah dengan fakta, dan melawan kebencian dengan ilmu. Keempat, kita harus menjaga ukhuwah Islamiyah. Perbedaan pendapat dalam masalah politik atau sejarah tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci dan memfitnah. Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Innamal-mu'minūna ikhwatun fa ashlihū baina akhawaikum wattaqullāha la'allakum turhamūn.
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini menegaskan bahwa persaudaraan dalam iman lebih penting daripada perbedaan politik atau sejarah. Fitnah yang dilancarkan Syiah terhadap Al-Walid adalah pelanggaran terhadap prinsip ukhuwah ini.
Selain itu, kita juga harus memahami bahwa fitnah terhadap Al-Walid bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Ini adalah bagian dari pola yang lebih besar dalam literatur Syiah untuk mendiskreditkan para sahabat Nabi dan para khalifah. Syiah memiliki doktrin tabarra (berlepas diri) dari para sahabat yang mereka anggap telah merampas hak Ali. Doktrin ini membuat mereka merasa sah untuk mencaci dan memfitnah para sahabat, termasuk Al-Walid. Padahal, Allah SWT telah memuji para sahabat dalam Al-Qur'an:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Was-sābiqūnal-awwalūna minal-muhājirīna wal-anshāri wal-ladzīnat-taba'ūhum bi'ihsānin radhiyallāhu 'anhum wa radhū 'anhu wa a'adda lahum jannātin tajrī tahtahal-anhāru khālidīna fīhā abadā, dzālikal-fauzul-'azhīm.
"Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah: 100)
Ayat ini mencakup semua sahabat yang beriman, termasuk para khalifah Umayyah yang merupakan bagian dari generasi setelah sahabat. Fitnah terhadap mereka adalah fitnah terhadap generasi yang telah dijamin ridha oleh Allah.
Kesimpulannya, fitnah terhadap Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik adalah bagian dari strategi Syiah untuk mendiskreditkan Dinasti Umayyah dan memperkuat klaim politik mereka. Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan tidak memiliki dasar yang sahih dan bertentangan dengan fakta sejarah. Umat Islam di Indonesia harus waspada terhadap narasi-narasi sesat ini dan kembali kepada sumber-sumber yang otoritatif. Kita harus memperkuat iman, ilmu, dan ukhuwah kita agar tidak terjebak dalam perangkap ideologis yang menyesatkan. Semoga Allah SWT melindungi kita dari fitnah dan menuntun kita ke jalan yang lurus.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: