Syiahindonesia.com - Doa dan tawassul merupakan dua pilar penting dalam ritual keagamaan umat Islam yang mencerminkan hubungan antara seorang hamba dengan Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam doktrin Islam yang murni berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salafus Shalih, doa adalah inti dari ibadah (mukhkhul 'ibadah) yang hanya boleh ditujukan secara langsung dan mutlak kepada Allah tanpa perantara makhluk mana pun. Namun, dalam konteks penyebaran ajaran Syiah di Indonesia, konsep doa dan tawassul telah mengalami pergeseran makna yang sangat krusial dan mendasar, sehingga merusak fondasi tauhid dan membuka pintu kesyirikan yang nyata.
Akar masalah dari ajaran Syiah terletak pada kegagalan mereka membedakan antara kedudukan Sang Pencipta (Khaliq) dan makhluk, serta penyalahartian definisi ibadah, doa, dan tawassul. Melalui bungkus kecintaan kepada Ahlul Bait, paham Syiah menyusupkan doktrin yang mengajarkan penganutnya untuk mengarahkan seruan dan permohonan kepada para Imam yang telah meninggal dunia. Fenomena ini menuntut kewaspadaan penuh dari seluruh elemen masyarakat muslim di Indonesia agar akidah murni tetap terjaga dari bahaya ajaran sesat tersebut.
Kedudukan Hakiki Doa dalam Ajaran Islam
Dalam syariat Islam, doa bukan sekadar permohonan atas kebutuhan duniawi atau ukhrawi, melainkan bentuk pengabdian, ketundukan, dan pengakuan akan kemahakuasaan Allah. Karena doa adalah ibadah, maka memalingkan doa kepada selain Allah—baik itu nabi, malaikat, wali, maupun imam—tergolong sebagai perbuatan syirik besar (syirik akbar) yang membatalkan keislaman seseorang.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan kedudukan doa dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
"Doa itu adalah ibadah." (HR. At-Tirmidzi)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa secara langsung tanpa membutuhkan kaperantaraan manusia yang telah wafat, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ghafir ayat 60:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
"Dan Rabbmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.'"
Dalam ayat di atas, Allah menyamakan antara "berdoa kepada-Ku" dengan "menyembah-Ku". Artinya, siapa saja yang berdoa dan memanggil selain Allah, maka ia pada hakikatnya telah menyembah selain Allah.
Kerangka Tawassul yang Benar Menurut Syariat (Masyru')
Tawassul secara bahasa berarti mempergunakan suatu sarana atau perantara (wasilah) untuk mendekatkan diri kepada Allah agar doa dipenuhi. Al-Qur'an dan As-Sunnah telah menetapkan batasan yang jelas mengenai bentuk tawassul yang diperbolehkan:
1. Tawassul dengan Asma'ul Husna dan Sifat Allah
Berdoa dengan menyebutkan nama-nama Allah yang agung sesuai dengan hajat yang dimohonkan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-A'raf ayat 180:
وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا
"Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu."
2. Tawassul dengan Amal Saleh
Memohon bantuan atau perlindungan Allah dengan perantara amal kebaikan yang dikerjakan secara ikhlas semata-mata karena Allah, seperti shalat, berbakti kepada orang tua, atau menjauhi maksiat.
3. Tawassul dengan Doa Orang Saleh yang Masih Hidup
Meminta seorang muslim yang saleh, bertakwa, dan masih hidup untuk memohonkan doa kepada Allah atas nama kita. Hal ini pernah dilakukan para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti ketika Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu bertawassul dengan doa Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi) saat musim kemarau untuk memohon hujan.
Kekeliruan Fundamental Syiah dalam Mengartikan Doa dan Tawassul
Di balik istilah tawassul, doktrin Syiah menyembunyikan penyimpangan akidah yang merusak makna tauhid ibadah (tauhid uluhiyah). Berikut adalah poin-poin utama kesilapan dan kekeliruan paham Syiah dalam mempraktikkan doa dan tawassul:
1. Menyamakan Istighatsah kepada Makhluk dengan Tawassul
Kekeliruan terbesar penganut Syiah adalah mengaburkan perbedaan antara tawassul (menjadikan sarana mendekat kepada Allah) dan istighatsah (meminta pertolongan dan penyelamatan langsung kepada makhluk). Dalam kitab-kitab rujukan utama Syiah seperti Biharul Anwar atau Mafatihul Jinan, diajarkan lafaz-lafaz doa yang memanggil nama para Imam secara langsung untuk memohon pertolongan, seperti:
"Wahai Ali bin Abi Thalib, tolonglah aku!" atau "Wahai Imam Mahdi, selamatkanlah kami dari kesulitan ini!"
Meminta pemenuhan hajat, penyembuhan penyakit, dan keselamatan kepada orang yang sudah meninggal dunia bukanlah tawassul, melainkan istighatsah yang bersifat syirik, karena hal-hal tersebut merupakan hak prerogatif Allah semata.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Ahqaf ayat 5-6:
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ وَهُمْ عَن دُعَآئِهِمْ غَٰفِلُونَ وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُوا۟ لَهُمْ أَعْدَآءً وَكَانُوا۟ بِعِبَادَتِهِمْ كَٰفِرِينَ
"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah hal-hal selain Allah yang tiada dapat memperkenankan doanya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sesembahan-sesembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka."
2. Keyakinan Bahwa Para Imam Memiliki Wilayah Takwiniyyah
Salah satu akar kekeliruan doa dan tawassul dalam Syiah adalah akidah Wilayah Takwiniyyah. Penganut Syiah meyakini bahwa para Imam mereka diberikan wewenang oleh Allah untuk mengatur atom-atom alam semesta, memberikan rezeki, mematikan, dan menghidupkan. Atas dasar keyakinan ini, mereka menganggap sah-sah saja berdoa dan meminta langsung kepada para Imam karena menganggap para Imam memiliki kemampuan gaib tersebut.
Keyakinan ini bertentangan secara frontal dengan tauhid rububiyah, di mana Pengatur dan Penguasa seluruh alam semesta hanyalah Allah semata, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Fatir ayat 13:
وَٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ
"Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari."
3. Mengadopsi Pola Pikir Kaum Musyrikin Jahiliyah
Penganut Syiah berdalih bahwa mereka tidak menganggap para Imam sebagai Tuhan, melainkan hanya sebagai perantara (intercessor) yang memiliki kedudukan dekat di sisi Allah. Namun, argumen dan logika ini persis sama dengan peryataan orang-orang kafir Quraisy pada zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Al-Qur'an merekam dalih kaum musyrikin dalam Surah Yunus ayat 18:
وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ
"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: 'Merekalah pemberi syafa'at kami di sisi Allah.'"
Islam menegaskan bahwa Allah Maha Dekat dengan hamba-Nya dan tidak membutuhkan "perantara manusia" yang mati untuk menyampaikan doa atau permohonan seorang hamba.
Bahaya Penyebaran Konsep Tawassul Syiah bagi Umat Islam di Indonesia
Penyebaran konsep doa dan tawassul ala Syiah di Indonesia membawa ancaman laten yang membahayakan kelangsungan akidah dan keharmonisan masyarakat muslim:
Panduan Membentengi Akidah Umat dari Ajaran Sesat
Untuk membentengi diri, keluarga, dan masyarakat dari pengaruh penyusupan ajaran Syiah yang tersembunyi di balik nama tawassul dan mahabbah Ahlul Bait, beberapa upaya strategis harus terus digalakkan:
Memurnikan Pemahaman Tauhid: Menggiatkan majelis ilmu yang membahas tauhid secara mendalam, melatih umat untuk senantiasa menggantungkan segala hajat dan masalah hidup hanya kepada Allah semata.
Kritis Terhadap Buku dan Doa-Doa Impor: Memeriksa kembali isi buku-buku doa atau salawat yang beredar. Jika terdapat seruan yang meminta pertolongan kepada selain Allah (Ya Ali, Ya Hussein, Ya Fatimah), maka bacaan tersebut harus ditinggalkan.
Meneladani Pemahaman Para Sahabat Nabi: Memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah berdasarkan metodologi para Sahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in yang terbukti terjaga dari bid'ah dan kesyirikan.
Kesimpulan
Penyesatan makna doa dan tawassul dalam ajaran Syiah merupakan pintu gerbang menuju perbuatan syirik yang nyata. Mensejajarkan hak Allah dalam doa dengan meminta kepada para Imam yang telah wafat adalah bentuk pelanggaran berat terhadap hak-hak ketuhanan. Tawassul yang benar dalam Islam hanya dilakukan melalui sarana yang disyariatkan, sedangkan doa wajib dialamatkan secara murni dan langsung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mewaspadai dan membendung ajaran sesat Syiah di Indonesia adalah kewajiban bersama demi menjaga kemurnian akidah umat Islam hingga akhir zaman.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: