Syiahindonesia.com - Dalam historiografi dan bangunan doktrin sektarian Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), sosok Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu merupakan salah satu figur Sahabat Nabi yang paling masif mendapat serangan, demonisasi, dan tuduhan fitnah. Propaganda ini dirancang secara sistematis untuk menjadikan beliau sebagai simbol kezaliman dan musuh utama Ahlul Bait, guna menopang narasi penderitaan (victimhood) yang menjadi penggerak emosional teologi Syiah.
Namun, jika kepemimpinan dan kepribadian Muawiyah bin Abi Sufyan diteliti secara obyektif berdasarkan riwayat-riwayat sejarah yang shahih serta kesaksian para Sahabat dan Tabi'in, tuduhan-tuduhan Syiah terbukti sebagai narasi fitnah yang mencabut sejarah dari konteks Islam yang sebenarnya.
1. Kedudukan Mulia Muawiyah sebagai Sahabat dan Penulis Wahyu
Untuk mendiskreditkan Muawiyah, propaganda Syiah sering menggambarkan beliau sebagai sosok penjahat perang atau "murtad" yang tidak memiliki keutamaan dalam Islam. Narasi ini secara sengaja mengabaikan kedudukan beliau di sisi Rasulullah SAW.
Realitas Historis dan Keutamaan:
Penulis Wahyu (Katib al-Wahy): Muawiyah bin Abi Sufyan adalah salah satu Sahabat yang dipercaya langsung oleh Rasulullah SAW untuk mencatat ayat-ayat Al-Qur'an dan surat-surat diplomatik kenabian.
Doa Nabi SAW untuk Muawiyah: Rasulullah SAW pernah mendoakan beliau secara khusus dalam riwayat yang shahih:
“Ya Allah, jadikanlah dia (Muawiyah) seorang yang memberi petunjuk, yang mendapat petunjuk, dan berilah petunjuk (kepada manusia) melaluinya.” (HR. Tirmidzi no. 3921)
Pujian para Sahabat: Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menunjuk Muawiyah sebagai Gubernur Syam karena kecakapan, keadilan, dan kepemimpinannya yang mumpuni, sebuah jabatan yang diembannya dengan sukses selama puluhan tahun tanpa celaan dari mayoritas Sahabat.
2. Fitnah seputar Perselisihan dengan Sayyidina Ali (Perang Shiffin)
Pintu utama yang digunakan Syiah untuk memfitnah Muawiyah adalah peristiwa perselisihan politik dan pertempuran Shiffin antara pasukan Syam (di bawah Muawiyah) dan pasukan Kufah (di bawah Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu). Syiah mengklaim bahwa Muawiyah berperang demi merebut kekuasaan dan didorong oleh kebencian pribadi kepada Ali.
Pelurusan Konteks Ijtihad Politik:
Bukan Perang Rebutan Kekhalifahan: Muawiyah tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Khalifah atau menandingi keutamaan Sayyidina Ali sewaktu pertempuran meletus. Tuntutan utama Muawiyah dan penduduk Syam adalah penegakan qishash atas para pembunuh Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu yang perlindungannya dicari di dalam barisan Kufah.
Ijtihad Politik dua Sahabat Mulia: Konflik yang terjadi adalah perbedaan ijtihad politik. Sayyidina Ali berpandangan bahwa konsolidasi stabilitas negara dan penguatan baiat harus didahulukan sebelum menangkap para pembunuh Utsman. Sementara Muawiyah berijtihad bahwa penegakan hukum atas pembunuh Utsman harus diselesaikan terlebih dahulu.
Saling Mengakui Keislaman: Baik Sayyidina Ali maupun Muawiyah tidak pernah mengafirkan satu sama lain. Dalam kitab Syiah sendiri (Nahjul Balaghah, Surat 58), Sayyidina Ali menegaskan:
“Awal mula perkara kami adalah bahwa kami bertemu dengan penduduk Syam, sementara Tuhan kami satu, Nabi kami satu, dan seruan kami dalam Islam adalah satu. Kami tidak meminta mereka menambah keimanan kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya, dan mereka pun tidak meminta hal itu dari kami. Perkara kami satu, kecuali apa yang kami perselisihkan mengenai darah Utsman.”
3. Rekonsiliasi Agung (Amul Jama'ah) yang Meruntuhkan Narasi Syiah
Kedustaan narasi kebencian Syiah runtuh paling tegas oleh peristiwa Amul Jama'ah (Tahun Persatuan) pada tahun 41 Hijriah.
Setelah Sayyidina Ali wafat, putra beliau, Sayyidina Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma (yang diakui sebagai Imam ke-2 oleh Syiah), secara sukarela menyerahkan tampuk kekhalifahan dan membaiat Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai Khalifah seluruh kaum Muslimin demi menghentikan pertumpahan darah.
Pemenuhan Nubuat Nabi SAW: Tindakan Sayyidina Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah adalah pemenuhan sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya cucuku ini (Hasan) adalah seorang Sayyid (pemimpin), dan semoga Allah mendamaikan melaluinya dua kelompok besar dari kaum Muslimin.” (HR. Bukhari no. 2704)
Dilema Teologis Syiah: Jika Muawiyah adalah seorang Kafir, perampas, atau zalim sebagaimana tuduhan Syiah, maka tindakan Sayyidina Hasan menyerahkan kepemimpinan umat Islam kepada seorang kafir merupakan bentuk penyerahan kekuasaan yang mustahil dilakukan oleh seorang cucu Nabi. Baiat Sayyidina Hasan membuktikan bahwa Muawiyah adalah seorang Muslim yang sah dan layak memimpin negara Islam.
4. Bencana Pemutus Peradaban: Kejayaan Islam di Masa Muawiyah
Selama masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan (41–60 H), dunia Islam mengalami era keemasan, stabilitas politik, dan ekspansi peradaban yang amat luas:
Pembangunan Angkatan Laut Islam Pertama: Beliau membangun armada laut Muslim pertama yang berhasil mengamankan wilayah Laut Tengah dari ancaman Byzantium.
Perluasan Wilayah Islam: Di bawah kepemimpinannya, wilayah dakwah Islam meluas hingga ke Afrika Utara, wilayah Transoxiana di Asia Tengah, hingga mengepung Konstantinopel.
Kesejahteraan Rakyat: Pemerintahan beliau dikenal sangat adil, santun (Hilm), dan memakmurkan rakyat, sehingga beliau dijuluki oleh para ulama Tabi'in sebagai "Raja Pertama dalam Islam yang Penuh Rahmat".
Kesimpulan
Fitnah dan celaan yang diarahkan oleh kelompok Syiah kepada Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu adalah produk propaganda sektarian yang bertujuan merusak mata rantai sejarah generasi Sahabat Nabi. Penistaan ini secara tidak langsung mencederai ijtihad dan keputusannya Sayyidina Hasan bin Ali yang telah berdamai dan membaiat beliau.
Ahlus Sunnah wal Jamaah memandang Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai Sahabat Nabi yang mulia, penulis wahyu yang amanah, serta Khalifah yang berjasa besar bagi kejayaan peradaban Islam. Kita menahan diri dari menyebarkan perselisihan di antara para Sahabat dan mendoakan keridhaan Allah untuk mereka semua.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: